Kamis, 19 Februari 2015

Cintaku T'lah Tertakhlukan



Imelda Riasnawathy, gadis cantik inilah yang akan menjadi tokoh utama kita kali ini. Imelda atau akrabnya di sapa Imel adalah sosok wanita ceria. Hatinya tertakhlukan oleh sosok Reno Saputra. Imelda begitu bahagia bersama Reno, lelaki yang memacarinya dalam hitungan tahun.
          Hingga suatu hari tragedy itu terjadi, sebuah tragedy tragis yang merenggut Reno dari Imel selama-lamanya. Saat itu, Imel mengajak Reno menemaninya mengunjungi sebuah salon yang baru di buka di Kasa Mall. Ketika hendak menyeberang jalan, sebuah truk dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Imel, Reno lalu menyelamatkannya. Reno mendorong Imel, dan akhirnya Renolah yang terkena kecelakaan maut tersebut. Jiwa Imel terguncang.
          Imel begitu terpukul, bahkan sampai sekarang telah genap 4 tahun kepergian Reno menghadap sang Khalik, Imel masih sendiri. Ren, sebegitu hebatkan cintamu yang telah menakhlukan cintaku hingga aku merasa hanya mencintai kamu. Walau kamu sudah gak ada dan gak akan pernah ada, tapi cintaku telah tertakhlukan oleh sosokmu. Aku mencintaimu Ren, entah sampai kapan. Mungkin hanya kau yang tau, mengapa sampai saat ini ku masih sendiri. Batin Imel sambil mengusap air matanya untuk kesekian kali. Cinta Reno pada Imel terlalu luar biasa untuk di pungkiri.


          Suatu ketika terjadi pertukaran karyawan antarperusahaan, seorang karyawan dari Deutschland bertugas di perusahaan milik Ayahanda Imelda. Nama karyawan itu Faiz. Rupa dan wajah Faiz sangat mirip seperti Reno. Membuat semua orang kaget, terlebih Imel.
“Reno?.” Seru Imel dan langsung berlari memeluk Faiz yang sedang berjalan menuju ruang kerja barunya di perusahaan milik Ayahanda Imelda tersebut.
“Reno, kamu kemana saja selama ini?. Aku kangen kamu, cintaku telah tertakhlukan oleh sosokmu Ren. Aku ingin cinta itu tidak terhempas, jangan pergi lagi Ren.” Lanjut Imel membuat Faiz semakin bingung.
“Mel, dia bukan Reno. Reno sudah gak ada, dia itu Faiz, karyawan baru.” Jelas Winda, sahabat Imel.
“Gak!. Dia Reno, bukan Faiz!. Kamu sama saja dengan Kak Aryo, kalian memang gak suka ‘kan ngeliat aku bahagia sama Reno. Kalian jahat!.” Bantah Imel melepas pelukannya.
“Mending kamu ke ruangan Pak Aryo, kamu sudah di tunggunya. Maafkan temanku.” Ucap Winda pada Faiz sambil menenangkan Imel.


          “Pak Aryo?.” Tanya Faiz ketika memasuki ruangan atasannya dan kaget dengan orang yang di sapanya dengan sebutan ‘pak’ ternyata masih sangat muda dan sepertinya juga belum berkeluarga.
“Iya, silahkan duduk Faiz, selamat bergabung di perusahaan ini!.” Jawab Aryo menyambutnya.
“Iya, terima kasih pak. Saya tadi berfikir saya salah masuk ruangan, anda masih sangat muda, dan belum, eh maksud saya tidak cocok di panggil bapak.” Kata Faiz.
“Ya, mungkin saya seumuran kamu. Lagian hanya di kantor saja, saya di panggil bapak.” Jelas Aryo.
“Maaf Pak, kalau saya boleh tau, kinerja kerja perusahaan seperti apa?. Sekali lagi maaf, tadi saat saya hendak kemari, seorang karyawati bapak memeluk saya sambil histeris dan memanggil saya Reno, dia memperlakukan saya seperti kekasihnya, entah apa maksudnya.” Tanya Faiz.
“Imelda Riasnawathy alias Imel maksud kamu?.” Aryo balik bertanya dengan santai.
“Iya pak, maaf sebelumnya.” Jawab Faiz sopan.
“Imel itu bukan karyawati, dia adik kandung saya. Imel sebenarnya adalah pribadi yang ceria, tapi sejak kekasihnya empat tahun lalu meninggal karena kecelakaan, di jadi pemurung dan sering histeris. Dia menutup hatinya dari semua lelaki karena baginya hanya sosok kekasihnya yang bernama Reno, yang mampu menakhlukan cintanya. Saya dan keluarga saya sudah frustasi menghadapinya. Kami bolak-balik ke psikolog, tak juga ada hasilnya. Dan jujur, rupa kamu persis seperti Reno, pantaslah adik saya histeris ketika melihat kamu tadi.” Jelas Aryo dengan nada sedih.
“Maaf pak, saya telah membuat anda risih.” Respon Faiz merasa bersalah menanyakan hal itu.
“Gak apa, lho kok kita malah curhat-curhatan?. Sebenarnya saya memanggil kamu ke sini karena saya ingin menyerahkan berkas-berkas yang harus kamu selesaikan dalam minggu ini. Oh ya, soal adik saya, Imel, kalau kamu bisa membantunya, bantulah dia. Karena kamu mirip Reno, mungkin saja adik saya bisa berubah jadi semangat dan ceria lagi kayak dulu ketika mengenalmu yang persis seperti kekasihnya.” Jelas Aryo lagi, kali ini Faiz hanya bisa tersenyum.


          Faiz merasa simpati dengan Imel, hanya saja ia masih kurang yakin. Seorang Imelda Riasnawathy gadis yang sangat cantik, kaya, sexy, punya segalanya, kenapa hatinya gak bisa berlabuh di pelabuhan cinta lain?. Kenapa hanya pada Reno Saputra saja?.
          Hari-hari Faiz berubah sejak saat itu, setiap saat kerjaan kantornya di hambat oleh Imel. Imel yang mengiranya adalah Reno, menyemprotnya dengan berbagai pertanyaan aneh dan memanggilnya dengan nama ‘Reno’. Kata-kata yang paling sering Imel ucapkan pada Faiz adalah :
“Ren, temanin aku lunch, setelah itu kita ke Mall, mau ya Ren?.” Atau :
“Ren, bilang dong kalau kamu cinta sama aku, kamu sayang sama aku. Aku kangen kamu, Ren?.”
          Mel, please dech, aku ini Faiz, bukan Reno. Aku Faiz!. Batin Faiz.


          Seiring dengan apa yang terjadi di antara mereka, Faiz yang harus berpura-pura menjadi Reno atas permintaan Aryo untuk menjaga perasaan Imel. Faiz mulai merasakan apa yang selama ini enggan dia rasakan. Faiz merasakan getaran cinta di setiap saat bersama Imel. Faiz merasa tidak pantas untuk Imel, tapi hati tidak bisa di cegah. Cinta itu tumbuh dari kebersamaan.
          Imel, laki-laki manapun tidak akan mampu menolak pesonamu. Tapi Mel, aku mau kamu bisa untuk mencintai aku sebagai Faiz,cintai aku apa adanya, jangan hanya karena aku mirip Reno. Aku pun gak pernah kenal sama yang namanya Reno, tapi aku yakin, Reno pasti orangnya sangat baik, sehingga kepergiannya begitu menyakitimu. Reno lelaki yang beruntung karena memiliki cintamu. Mel, jujur aku mulai merasa, aku jatuh cinta padamu. Tapi aku begitu takut karena aku tak seperti Reno. Aku bukan Reno, sekalipun rupaku sama dengan Reno. Aku hanya bisa berharap Tuhan mau membukakan pintu hatimu agar kau dapat menerima dan mencintaiku sebagai Faiz. Aku mencintaimu Mel, sungguh!. Aku ingin membahagiakanmu seumur hidupku. Selamanya. Batin Faiz.
          Sedangkan di tempat berbeda, di sebuah kamar mewah milik adik Aryo, Imelda Riasnawathy sedang memeluk bingkai foto sang kekasih tercinta, Reno. Sambil membatin. Tuhan, terima kasih!. Engkau telah mendengar doaku, Engkau telah mengembalikan Reno padaku. Reno laki-laki yang paling aku cinta, yang telah menakhlukanku. Ren, cintaku telah tertakhlukan oleh sosokmu. Reno, aku senang kita bisa kayak dulu lagi. Aku gak percaya yang di bilang sama Winda dan Kak Aryo, aku tau kok, nama kamu Reno, bukan Faiz!.
         

          “Pak Aryo, maaf saya mau bicara tentang Imelda. Saya gak mau lagi berpura-pura menjadi Reno. Karena itu akan menyakiti Imel, juga perasaan saya.” Kata Faiz.
“Faiz, apa kamu jatuh cinta pada adik saya?.” Tanya Aryo menatap lekat Faiz.
“Ya pak, tapi saya sadar, saya tidak pantas untuk Imel. Saya ada di sini untuk bekerja, bukan untuk hal lain. Maaf pak, saya tidak sanggup terus begini.” Jawab Faiz tegas.
“Faiz, kalau kamu sungguh tulus mencintai adik saya, berusahalah untuk mendapatkannya. Gapailah cintamu, saya merestui hubungan kalian. Buatlah adik saya bahagia, Faiz saya titip Imel untuk kamu cintai.” Restu Aryo sambil tersenyum ramah pada Faiz.
“Terima kasih, pak. Insya Allah, kalau Imelda jodoh saya, saya akan mencintai dia lillahita’allah.”


          Faiz lalu mencari Imel. Ternyata Imel sedang asyik ngobrol dengan Winda, Faiz mengajak Imel ke taman. Awalnya Imel menolak karena sedang seru ngobrolnya sama Winda, tapi dengan sedikit rayuan, dengan senang hati Imel menerima ajakan Faiz. Winda hanya tersenyum.
          Mereka menuju taman, tanpa mereka sadari Aryo dan Winda mengikuti mereka.
“Ren, tempatnya bagus banget.” Puji Imel pada Faiz.
“Mel, aku ini Faiz bukan Reno!.” Tegas Faiz.
“Ren, kamu apa-apaan ngomong gitu. Jangan becanda!.”
“Mel, please aku gak becanda. Selama ini tanpa kamu sadari tiap kali kamu manggil aku Reno, kamu gak pernah tau kalau aku sakit tiap kamu manggil aku dengan nama itu. Tapi aku bertahan karena aku mencintai kamu, aku ingin kamu juga mencintai aku sebagai Faiz, jangan hanya karena aku mirip Reno. Aku tulus, Mel. Aku cinta kamu.” Jelas Faiz sambil menggenggam tangan Imel erat.
“Tapi cintaku telah tertakhlukan oleh sosok Reno!. Aku mencintai Reno, bukan Faiz.”
“Mel, coba tolong lihat ketulusan dan kesungguhan cinta aku?. Walau kamu gak pernah mengatakan hal itu, tapi aku yakin cinta aku telah menakhlukan hatimu, Imelda!.” Lanjut Faiz.
“Hm (Imelda menangis). Maafin aku, selama ini aku buta. Seharusnya aku sadar kalau Reno memang sudah gak ada. Dan cintaku telah tertakhlukan oleh sosok seorang Faiz. Faiz, maafin aku, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Dan kini aku berani untuk mengakuinya, bahwa cintaku telah tertakhlukan olehmu, Faiz!.” Jawab Imel jujur di iringi air mata.
“Mel, aku juga cinta dan sayang sama kamu. Aku ingin membuka lembaran baru bersamamu. Dan aku yakin Mel, Reno pasti sudah tenang dan lega melihatmu bisa mengikhlaskan kepergiannya. Reno tersenyum bahagia di surge melihat kita.”
“Iya, buat Reno, selamat jalan kekasihku. Doaku menyertaimu dan cintaku untuk Reno akan tetap abadi di hatiku. Tapi kini aku sudah menemukan cinta lain, orang yang mampu menakhlukan hatiku, aku harap kamu merestuinya, Ren.”
“Mel, maukah kau menjadi istriku?.” Lamar Faiz.
“Iya, tapi dengan satu syarat.” Jawab Imel mengajukan persyaratan.
“Apa?. Apapun syarat itu aku sanggupi!.”
“Jangan pernah minta aku lupain Reno selamanya.”
“Iya, aku janji.”
“Lalu, tunggu apalagi?.”
“Maksud kamu?.”
          Imelda memilih tak menjawab dan langsung memeluk Faiz. Mereka berbahagia. Di kejahuan, nampaknya benih-benih cinta juga mulai di rasakan Aryo dan Winda. Wow!.

Hanya Kamu Kar'na Kamu



Malam yang sangat sepi, sesepi hati gadis cantik pemilik nama lengkap Aliza Ambarwati, adik seorang Dokter terkemuka, Aisyah Herawati.
          Aku gak nyangka semua ini menimpa aku!. Kenapa sich Randi gak pernah ngerti perasaan aku?. Dia bilang akan menemani dan menjagaku selamanya, katanya hanya aku yang ada di hatinya. Tapi kenapa ia malah berpacaran dengan Cindy, sahabat aku sendiri?. Kalau emang Randi mau ngancurin aku, kenapa harus Cindy yang jadi penghancur hati aku?. Kenapa gak orang lain saja?. Cindy itu sahabat aku. Batin Aliza.
“Liz, sudah dong!. Kamu gak sayang yach sama diri kamu?. Kenapa kamu harus nangis hanya karena cintanya Randi?. Kamu itu cantik, mapan, keren, kurang apalagi coba?. Kamu itu bisa dapat cowok yang lebih segalanya dari Randi.” Hibur Aisyah, kakaknya Aliza.
“Tapi kakak ‘kan tau, Randi itu cinta pertama Liza. Liza itu sayang sama Randi, hanya Randi!.” Respon Aliza.
“Ya, hanya Randi, tapi kamu juga kayak gini karena Randi ‘kan?. Kamu nangis hanya karena laki-laki brengsek itu!.” Tegas Aisyah.
“Sudah cukup kak, jangan menjelek-jelekan Randi lagi di depan Liza!.”
“Liz, dengarin kakak. Kakak itu sayang banget sama kamu, kakak gak mau lihat kamu begini terus.” Pinta Aisyah.


          Besoknya, ketika matahari terbit, Aisyah membantu bik Sitti menyiapkan sarapan. Ia berharap hari yang cerah ini bisa mencerahkan hati adiknya. Semoga pagi ini Liza sudah lebih baikan. Batinnya.
“Liz, Liza?. Kamu gak kuliah?. Yuk sarapan, kakak buatkan sarapan kesukaanmu lho?.” Sapa Aisyah sambil menggedor pintu kamar Aliza.
“Ya kak!.”
          Maklumlah mereka hanya berdua, Aisyah dan Aliza. Orang tua mereka bekerja dan menetap di Perancis. Ayahnya, Hermawanto Kusuma adalah seorang direktur sebuah perusahaan terkemuka di Perancis. Ibunya, Endang Indah Susiuliswaty adalah pemilik sepuluh butik mewah di Perancis.
          Aisyah Herawati setelah menamatkan study kedokterannya di sebuah Univercity di California, ia memilih untuk mengabdi di Negara berkembang, yaitu Negara kelahiran orang tuanya, Indonesia.
          Ia pun sukses, ia memiliki sebuah rumah mewah dengan fasilitas yang tak kalah mewahnya. Di rumah mewahnya itu, ia tinggal bersama adiknya Aliza Ambarwati yang kini sedang kuliah jurusan Hukum di sebuah universitas bergengsi di kota itu.
          Selain itu, Aisyah dan Aliza di temani seorang pembantu bernama Bik Sitti, seorang satpam (Pak Budi), seorang sopir pribadi (Pak Yusuf), dan seorang tukang kebun (Pak Ahmad).
          Di bagasi terpajang, beberapa mobil mewah dengan warna dan merek yang bergengsi. Terkadang Aisyah maupun Aliza jenuh dengan semua yang mereka miliki. Terkadang Pak Hermawan dan Bu Endang berkunjung ke rumah mereka.


          Sedangkan Randi adalah teman SMA sekaligus cinta pertama Aliza. Mereka bertemu di California, ketika masih SMA, saat itu Randi menjadi peserta olimpiade yang di adakan di sekolahan Aliza. Mereka lalu menjalin hubungan khusus hingga kini.
          Sedangkan Cindy adalah sahabat Aliza, sekampus hanya beda jurusan. Cindylah yang dulu memperkenalkan Aliza pada budaya Indonesia. Meski Aliza asli orang Indonesia, namun ia kelamaan tinggal di California.
          Tapi entah mengapa bisa begini?. Cindy yang merebut Randi?. Ataukah Randi yang menginginkan Cindy?. Entahlah, yang pasti hal ini membuat Aliza terpukul.


          Aliza menghentikan mobil mewahnya di parkiran kampus, lalu ia berjalan menuju perpustakaan.
“Liz, Liza, Aliza, tunggu?.” Seru Cindy.
“Uh, dasar cewek rese!. Apa sich maunya?.” Omel Aliza menghentikan langkah kakinya dengan penuh kekesalan.
“Liz, Randi kecelakaan semalam, ia koma di rumah sakit. Ia terus manggil nama kamu. Kata dokter, harapannya tipis.” Jelas Cindy.
“Ngapain ngasih tau aku?. Penting yach?.”
“Liz, loe itu…??”
“Okkeyy, apa yang kamu mau dari aku?. Bukannya kamu pacarnya?.”
“Liz, sekalipun aku pacarnya, tapi aku gak bisa apa-apa saat ini. Yang Randi butuhkan sekarang itu kamu, bukan aku. Lagian, bukannya kamu cinta sama Randi?.”
“Ya, aku memang amat sangat mencintai Randi, tapi saat ini ‘kan aku bukan apa-apanya Randi!. Dan bukannya kamu ngelarang aku dekatin Randi?.”
“Iya, memang aku ngelarang. Tapi sekarang keadaannya darurat!. Please, buat Randi, tolong bantu aku?.”
“Peduli amat, aku gak ada waktu untuk hal-hal yang gak penting!.”
“Fine, asal kamu tau, kalau bukan karena kondisi Randi yang lagi sekarat, aku juga gak bakal mohon-mohon sama kamu, gak level. Dan kalau kamu berubah pikiran, datang saja di RS Pelita, Randi membutuhkanmu!.”


          Sepulang kuliah,
“Liz, Liza, Aliza, tunggu!.” Seru Reni, sahabat Aliza.
“Ada apa?.”
“Kamu tuch kenapa sich?. Gak biasanya kamu kayak gini?.” Comel Reni.
“Gak ada apa-apa, baik-baik saja kok!.”
“Akh, bohong kamu!. Aku tuch kenal kamu lagi Liz, jangan bohong dech?.”
          Karena di desak terus oleh Reni, Aliza lalu menceritakan semua kegundahannya pada sahabatnya ini.
“Kalau menurut aku sich, kamu temui saja Randi!. Solidaritaslah, anggap saja amal!. Lagian kamu pasti gak mau ‘kan ngeliat Randi mati sia-sia?. Urusan Cindy, belakangan saja dech!.” Saran Reni.


          Aliza menyetir mobil sambil terus berfikir, apa yang di katakana Reni tadi, ada benarnya juga. Aliza pun memutar balik mobilnya, menuju arah RS Pelita, ia akan menemui Randi dan si Nenek Sihir (Cindy).
          Sesampainya di RS Pelita,
“Aku yakin, kamu pasti datang!.” Kata Cindy menyambutnya.
“Aku ke sini untuk Randi, bukan untuk kamu!.”


“Dok, gimana keadaan Randi?.” Tanya Aliza.
“Harapannya tipis, banyak berdoa saja, semoga ada mujizat.” Kata Dokter.
“Boleh saya masuk menjenguknya?.” Tanya Aliza lagi.
“Silahkan.” Dokter mempersilahkan.


          “Randi!.” Seru Aliza yang syok melihat kondisi Randi, ia sekarat tapi bibirnya masih mampu mengucap satu nama, ‘Aliza’.
“Iya Ran, aku di sini, aku di samping kamu!. Ran, tolong demi aku, bertahanlah. Jangan pernah tinggalin aku, karena aku mencintaimu. Aku hanya mencintaimu.” Bisik Aliza lirih di telinga Randi.
          Aliza memeluk Randi yang sedang lemah. Cinta Aliza memang selalu menyempurnakan kekurangan Randi. Seperti sekarang ini, cinta Aliza telah menguatkan kelemahan Randi.
          Cinta Aliza juga yang mengundang mujizat itu menjadi nyata, jemari Randi bergerak.
“Ran, Randi?.” Isak Aliza.
“Aliza, ak.. aku… cin… cinta sama ka.. kamu.. Tolong jangan.. ting… tinggalin aku… karena aku butuh ka… kamu… Ha.. hanya kamu, Aliza, aku mohon?.” Ucap Randi terbata-bata.
“Iya, maafin aku.” Jawab Aliza.
“Ran, kamu sudah sadar?. Dok, dokter?.” Teriak Cindy.
          Setelah Dokter memeriksa keadaan Randi, Dokter lalu berkata bahwa ini adalah sebuah mujizat, luar biasa.
“Tapi ia masih perlu beristirahat.” Saran Dokter sambil berlalu.
          Cindy menatap tajam kea rah Aliza.
“Ran, kamu sudah sadar, aku pulang dulu yach?. Aku tidak mau mengganggu hubungan kalian.” Pamit Aliza yang mengerti arti tatapan Cindy yang tak lagi menginginkan keberadaannya.
“Jangan Liz, aku butuh kamu!.” Cegah Randi.
“Hm sayang, mungkin Aliza sibuk, biar saja ia pergi. ‘Kan masih ada aku, pacar kamu, yang akan ngejagain kamu di sini?. Liz, biar aku antar kamu ke depan?.” Tanya Cindy, tapi Aliza tak menjawabnya.
“Liz, tak keberatan ‘kan aku antar sampai depan?.” Tanya Cindy lagi.
“Ohw, eng, gak kok.” Jawab Aliza.
“Ya sudah, yuk?.”


“Thanks yach, kamu sudah bantuin aku. Sekarang tugas kamu sudah selesai, sana pergi yang jauh. Dan ingat, jangan pernah balik lagi di kehidupan aku dan Randi!.” Ketus Cindy.
Aliza hanya diam, ia memilih tak menjawab. Aliza hanya tersenyum dan bergegas meninggalkan Cindy yang di buat bingung mengartikan senyum Aliza tersebut.


2 bulan berlalu,
“Liz, bentar kita jadi ke Mall ‘kan?.” Tanya Reni heboh.
“Yaiyalah. Eh kamu tau gak, ada diskon lho di Salon baru dekat Mall cempaka, ntar kita singgah yach?.” Jawab Aliza tak kalah hebohnya.
“Liza, aku mau ngomong!.” Pinta Cindy yang datang tiba-tiba.
“Kayak Nenek Sihir saja kamu, datang tiba-tiba. Ehw salah, maksud aku jelangkung, datang tak di undang, perginya perlu aku usir!.” Comel Reni.
“Ehw, aku tuch gak ada urusan sama kamu yach.” Bantah Cindy.
“Sudahlah, maaf aku gak ada waktu. Aku sibuk!.” Ketus Aliza.
“Liz, aku cuma mau ngasih tau kamu kalau Randi itu gak mau minum obat sebelum ketemu kamu. Please, temui Randi?.” Pinta Cindy.
“Hello?. Itu sich urusan kamu!. Kamu ‘kan yang nyuruh Liza pergi yang jauh dari kehidupan kamu dan Randi, urusin saja yayang kamu yang gj itu buat kita.” Umpat Reni.
“Sudahlah, gak penting.” Ucap Aliza menahan tawa atas perkataan Reni.
“Kamu itu?.” Emosi Cindy.
“Mau kamu apa sich Cin?.” Tanya Aliza.
“Mau aku, kamu temui Randi.” Jawab Cindy.
“Tapi aku ada janji sama Reni!.” Bantah Aliza.
“Ini lebih penting, atau kamu mau terjadi sesuatu sama Randi?.” Ancam Cindy.
“Aku rasa, temui saja Randi. Kita ‘kan bisa ke Mall lain waktu.” Saran Reni.
“Baguslah, loe nyadar!.” Umpat Cindy.
“Dasar Nenek Sihir!.” Balas Reni.
“Okey, aku temui Randi!. Puas kamu?.”
“Hm.”


          Aliza lalu menuju RS Pelita, menemui Randi.
“Liz, aku mencintai kamu. Aku kangen sama kamu, aku sayang kamu, aku pengen ngabisin sisa umur aku sama kamu?.” Pinta Randi.
“Ran, kamu apa-apaan sich?. Kamu jangan ngerendahin diri kamu di hadapan cewek murahan ini dong!. Ingat Ran, aku pacar kamu!. Kamu juga Liz, dasar cewek murahan, perek!.” Hina Cindy.
“Tutup mulut kamu Cin!. Aku sama kamu hanya karena utang orang tuaku. Tapi aku janji akan ngelunasin semuanya!. Dan asal kamu tau, cinta aku adalah Aliza, karena Aliza yang lebih dulu hadir dalam hidup aku. Dan hanya Aliza yang mampu mengisi kekosongan hati aku!.” Tegas Randi.
“Ran, kamu harus milih, aku atau perempuan murahan ini?.” Tanya Cindy.
“Jangan sebut Aliza begitu, Aliza bukan perempuan murahan!.”
“Emang gitu kok, Liza memang murahan!.”
“Kamu itu yang murahan!.”
          Aliza cape’ mendengar perdebatan mereka, Aliza jadi tau sekarang bahwa Randi bersama Cindy karena?. Hm, Aliza berjalan keluar ruangan perawatan itu, namun Randi lalu melompat dari tempat tidurnya, dan ia berlutut di hadapan Aliza.
“Randi?.” Seru Cindy yang tidak percaya dengan adegan di depannya.
“Jangan pergi lagi!. Apalah arti hidup aku tanpa kamu?. Aku mencintai kamu melebihi diri aku sendiri. Percayalah.” Kata Randi.
“Ran, apa kamu gak nyesal lebih milih cewek rese itu daripada aku?.” Tanya Cindy lagi.
“Diam!. Aku gak ngomong sama kamu!. Dengar yach, aku milih Aliza Ambarwati, dan bukan kamu!.” Bentak Randi.
          Cindy lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan penuh kekesalan.


          Beberapa bulan kemudian,
“Kak, aku pergi dulu yach?.” Pamit Aliza pada Aisyah.
“Iya Liz, kakak senang akhirnya kamu mendapatkan kebahagiaan juga!.”
“Thanks yach Kak!.” Aliza mencium pipi kakaknya, dan keluar menemui Randi yang telah menunggunya.


          Aliza dan Randi duduk di bangku taman,
“Aku sadar, hanya kamu yang aku butuhkan, dank arena kamu, aku tau makna cinta yang sesungguhnya.” Kata Randi.
“Iya, hanya kamu yang ada di hati ku, dan karena kamu aku bahagia.”
“Hanya kamu.” Bisik Randi.
“Karena kamu.” Balas Aliza.
          Tiba-tiba Cindy muncul di antara mereka,
“Liz, maafin aku yach?. Aku sadar, tidak seharusnya aku seperti itu, kamu sahabatku. Liz, maafin aku?. Seharusnya ini gak terjadi, meski aku tau, kamu….?.” jelas Cindy meminta maaf.
“Sudahlah Cin, sebelum kamu minta maaf, aku sudah maafin kamu kok!.”
“Kita tetap sahabatan ‘kan?.”
“Pasti dong Cin, gak usah ragu gitu!. Kamu tetap sahabat terbaikku!.”
          Setelah mereka berbincang-bincang sejenak, Cindy pun meninggalkan Aliza bersama Randi.
“Liz, kamu tau, hanya kamu yang ada di hatiku, dari dulu, saat ini, dan sampai nanti, untuk selamanya.” Kata Randi.
“Ran, karena kamu aku nangis, dan juga karena kamu aku bahagia.” Balas Aliza tulus.
“Hanya kamu, kar’na kamu..”
          Mereka terdiam, membiarkan cinta mengalir dengan derasnya di hati dua sejoli ini. Tanpa mereka sadari, Aisyah dan Reni yang menyaksikan betapa cinta mampu membebaskan Aliza dari keterpurukan juga ikut berbahagia.