Kisah
cinta itu tak selamanya sempurna, itulah yang di rasakan Cristian, cowok basket
ini. Cristian mencintai seorang wanita yang juga di cintai oleh Julian,
sahabatnya. Nama wanita sensual itu adalah Alyson.
Cristian mengambil sebuah buku dari
laci mejanya. Sebuah buku berjudul “Cinta itu…”, Cristian lalu membaca sebuah
kalimat :
Cinta itu tidak untuk memiliki. Tapi cinta itu
adalah bagaimana agar orang yang kita cintai dapat berbahagia.
Berbeda dengan Julian, ia membaca buku
yang sama. Namun ia tertarik pada sebuah kutipan yang berbunyi :
Cinta itu harus di perjuangkan.
Sedangkan Alyson mempunyai prinsip di dunia
percintaan yaitu :
Cintailah seseorang yang mencintaimu.
Hari yang cerah untuk memulai
pelajaran di Kampus. Alyson dengan tergesa-gesa menuju ruangan, ia membawa
setumpuk buku Farmakologi dan Anatomi dengan ketebalan sekitar 7 cm.
Cristian juga sama, ia melirik jam
Seiko di tangannya, dia telah terlambat 15 menit, tanpa di sengaja mereka
bertabrakan.
“Ehw, kalau jalan lihat-lihat dong!.”
Omel Alyson.
“Sorry.
Eh, Aly?.” Sapa Cristian kaget sekaligus gugup.
Tanpa di sadari saat memungut buku,
tugas makalah mereka tertukar. Sesampai di kelasnya, Pak Teguh, Dosen Alyson
yang terkenal killer dan di segani mahasiswa sekampus tengah mengoceh.
“Maaf
pak, saya terlambat.” Ucap Alyson.
“Masuklah!.”
Suasana ruangan itu hening dan
menegangkan, semua mahasiswa membisu, nyaris tanpa ekspresi.
“Kumpulkan makalah kalian secara
bergiliran!.” Titah Pak Teguh.
“Baik
pak!.” Jawab Mahasiswa/i serempak.
Raut wajah Pak Teguh berubah ketika
mengoreksi tugas makalah Alyson. Ia mengerutkan keningnya.
“Alyson!.” Panggil Pak Teguh.
“Ya
Pak?.”
“Kamu
tau, apa tema tugas makalah kali ini?.” Tanya Pak Teguh.
“Ya,
temanya tentang anatomi tubuh manusia!.” Jawab Alyson.
“Oh,
lalu kenapa tema tugas makalah kamu adalah perkembangan telekomunikasi. Dan
sejak kapan kamu mengganti nama menjadi Cristian Webster?.” Tanya Pak Teguh
menahan tawa.
Seisi ruangan menghura Alyson, dan
Cristian memasuki ruangan itu.
“Maaf
Pak, tugas saya tertukar dengan tugas Aly.” Jelas Cristian sambil menyerahkan
tugas Alyson kepada Pak Teguh.
“Hhhuuuuuu!.”
Mereka pun di hura.
Sepulang kuliah, Alyson pergi ke Mall,
ia membeli gaun dan rok mini. Di saat yang bersamaan, Julian pun berada di
sana, Julian membeli kaos oblong dan celana borju berkaki botol. Mereka pun
membayar bersama di kasir, seraya bercanda sejenak.
“Duluan Yach.” Pamit Alyson.
“Iya,
silahkan Al. Hati-hati yach!.” Jawab Julian sambil tersenyum.
Rhinto dan Randi bertamu di rumah
Julian.
“Ian,
tadi katanya loe beli costum buat festival band kita nanti?. Mana coba gue
lihat?.” Pinta Rhinto.
“Benar
tuch, siapa tau gak sesuai dengan dekorasi kita?.” Tambah Randi sambil membuka
kantong belanjaan Julian.
“Hahahahahahahahahahahahaha”
Rhinto dan Randi juga Julian tertawa terkejut dengan isi kantong itu.
“Loe
gila yach?. Loe mau manggung pake gaun apa?. Hahahahahahahaha.” Rhinto tidak
berhenti ketawa.
“Gue
gak ngebayangin, gimana cantiknya loe kalau make rok mini ini?.”
“OMG,
belanjaan gue tertukar dengan belanjaannya Aly!.”
Sementara itu, dering handphone
Alyson.
“Ya
Hallo. Iya Dian, aku pasti datang ke acara kamu. Tadi aku beli gaun cantik
khusus dech buat hadirdi event kamu. Okey!.” Itulah percakapan Alyson via
telepon sebelum ia membuka kantong dan di buat terkejut dengan isi
belanjaannya.
“Mampus gue!. Gimana bisa pergi ke eventnya Dian
kalau gini?.” Guman Alyson.
Esoknya di Kampus, Alyson bertemu Cristian.
Cristian lalu mengajak Alyson untuk sarapan di Café Kampus. Alyson yang memang
belum sarapan, tak menolak tawaran itu. Namun di sela-sela agenda sarapannya,
Julian mengutarakan perasaannya.
“Al, sebenarnya gue pengen ngomong sesuatu ke
loe!.”
“Emangnya
loe mau ngomong apa?. Ngomong aja lagi!.” Jawab Alyson.
“Gue?.”
“Apa?.
Kok tegang gitu?.”
“Gue
sebenarnya suka sama loe dan gue pengen bisa bersama loe lebih dari sekedar
teman atau sahabat. Loe mau gak jadi pacar gue?.”
“Gue?.
Jujur, gue bingung!.”
“Gue
gak minta loe jawab saat ini. Tapi jujur, gue berharap banget!.”
“Gue
minta waktu.”
“Iya.”
“Thanks.”
Ketika sedang menikmati cake and tea,
Alyson melihat Julian lewat.
“Ian?.”
Panggil Alyson seraya berlari meninggalkan Cristian.
“Ini
belanjaan loe, gue rasa kemaren belanjaan kita ketuker!.” Lanjut Aly.
“Oh
ya?. Hm, thanks yach!. Hm, gimana kalau ntar sore gue ngajak loe dinner,
sekalian balikin belanjaan loe?.” Tanya Julian berharap.
“Ide
bagus tuch, gue juga bosan di rumah terus.”
“Yeah,
ntar gue jemput yach?.”
“Ya.”
Handphone Alyson melantunkan nada
classic, rupanya Julian menelponnya.
“Hallo?.”
Sapa Alyson datar.
“Aly,
gue di depan rumah loe. Bukain pintunya dong!.” Pinta Julian.
“Okey,
tunggu yach.”
Ketika Alyson, Julian terpaku
menyaksikan pesonanya. Belanjaan Alyson pun di kembalikan Julian, dan mereka
pergi dinner.
Mereka duduk berhadapan di sebuah
restoran romantic.
“Al,
kalau gue boleh jujur, loe cantik banget mala mini!.” Puji Julian.
“Akh
loe lebay dech!.”
“Gue
serius, loe cantik!. Loe tau gak apa yang gue fikirkan saat ini?.”
“Loe
lagi mikir, mau pesan makanan apa?.”
“Bukan!.”
“Hm,
lalu apa?. Gimana gue bisa tau kalau loe saja gak bilang!. Apa?.”
“Boleh
gak, gue curhat sesuatu yang agak konyol?.”
“Why
not?.”
“sebenarnya
saat ini, gue menyukai seorang wanita. Ehw, sebenarnya gue mengagumi wanita itu
sejak masuk kuliah.”
“Ya,
gue tau. Loe naksir berat sama Lina ‘kan?. Kenapa loe gak nyatain cinta saja ke
dia. Menurut gue sich, Lina cantik kok!.”
“Bukan!.
Bukan Lina tapi loe, Al.”
“Maksud
loe?.”
“Gue
suka sama loe!.”
“Gue
gak ngerti?.”
“Cobalah
untuk mengerti.”
“I
don’t know.”
“Al,
loe mau gak jadi pacar gue?.”
“Gue
gak tau!. Jujur gue bimbang!.”
“Gue
ngerti, loe bisa menjawabnya nanti!.”
Gila!.
Dua sahabat karib itu sama-sama mengagumi gue. Tadi pagi Cristian menyatakan
cinta ke gue, ia minta gue jadi pacarnya. Malamnya, Julian menanyakan kesediaan
gue menjadi kekasihnya. Lantas siapa yang gue pilih?. Kenapa hati gue bimbang?.
Batin Alyson.
Alyson lalu menelpon Dian, sahabatnya.
“Menurut
gue, loe pilih yang paling loe sayang!.” Saran Dian.
“Tapi
perasaan gue fifty-fifty.”
“Maksud
loe?.”
“50%
buat Cristian dan 50% buat Julian. I don’t know!.”
“Ya,
ikuti saja prinsip cinta loe Al.” Saran Dian lagi.
“Benar
juga loe!. Tapi gue rasa mereka sama-sama cinta ke gue!.”
“Ya
sudah, loe cari, mana di antara Julian dan Cristian yang paling amat sangat
cinta sama loe!.”
Esoknya Cristian menemui Alyson yang
sedang bersama Julian. Mereka nongkrong di café bertiga.
“Rasa cinta gue, rasa sayang gue ke
bagi rata buat kalian berdua. Gue gak bisa milih!.” Ucap Alyson jujur.
“Loe
harus milih, karena hidup itu pilihan!. Kalau loe gak milih, malah loe nyakitin
kita berdua. Jujur saja, ikuti kata hati loe!.” Desak Julian.
“Al,
loe pilih saja Ian. Gue sadar, cinta gak harus memiliki. Tapi cinta itu adalah
bagaimana agar orang yang kita cintai dapat berbahagia. Kalau loe bahagia sama
Ian, gue juga ikut bahagia. Gue ikhlas dan gue rela melepas loe. Gue cuma
pengen loe tau, gue cinta sama loe selamanya. Cinta gue abadi, cinta gue juga ada
buat Ian, ia sahabat gue!.” Jelas Cristian.
“Cris,
gue cinta sama loe. Gue milih loe!.” Jawab Alyson dengan pasti tanpa keraguan,
seraya menggenggam tangan Cristian.
“Tapi
Al?.” cegat Julian.
“Maafin
gue?. Gue mau ngikutin prinsip cinta gue, untuk mencintai orang yang mencintai
gue. Gue tau loe juga cinta sama gue!. Tapi menurut gue Cristianlah yang lebih
mencintai gue daripada loe!. Kita masih tetap bisa sahabatan ‘kan Ian?.”
“Iya,
lagian Cris sahabat gue!. Gue berbahagia untuk kalian.” Jawab Julian.
“Gue
cinta loe, Al.” ucap Cristian.
“Gue
juga!.” Balas Alyson.
“Selamat
yach.” Ucap Julian.
“Makasih
Ian.”
“Sama-sama!.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar