Kamis, 19 Februari 2015

Segitiga Cinta



Kisah cinta itu tak selamanya sempurna, itulah yang di rasakan Cristian, cowok basket ini. Cristian mencintai seorang wanita yang juga di cintai oleh Julian, sahabatnya. Nama wanita sensual itu adalah Alyson.
          Cristian mengambil sebuah buku dari laci mejanya. Sebuah buku berjudul “Cinta itu…”, Cristian lalu membaca sebuah kalimat :
Cinta itu tidak untuk memiliki. Tapi cinta itu adalah bagaimana agar orang yang kita cintai dapat berbahagia.
          Berbeda dengan Julian, ia membaca buku yang sama. Namun ia tertarik pada sebuah kutipan yang berbunyi :
Cinta itu harus di perjuangkan.
          Sedangkan Alyson mempunyai prinsip di dunia percintaan yaitu :
Cintailah seseorang yang mencintaimu.


          Hari yang cerah untuk memulai pelajaran di Kampus. Alyson dengan tergesa-gesa menuju ruangan, ia membawa setumpuk buku Farmakologi dan Anatomi dengan ketebalan sekitar 7 cm.
          Cristian juga sama, ia melirik jam Seiko di tangannya, dia telah terlambat 15 menit, tanpa di sengaja mereka bertabrakan.
          “Ehw, kalau jalan lihat-lihat dong!.” Omel Alyson.
“Sorry. Eh, Aly?.” Sapa Cristian kaget sekaligus gugup.
          Tanpa di sadari saat memungut buku, tugas makalah mereka tertukar. Sesampai di kelasnya, Pak Teguh, Dosen Alyson yang terkenal killer dan di segani mahasiswa sekampus tengah mengoceh.
“Maaf pak, saya terlambat.” Ucap Alyson.
“Masuklah!.”
          Suasana ruangan itu hening dan menegangkan, semua mahasiswa membisu, nyaris tanpa ekspresi.
          “Kumpulkan makalah kalian secara bergiliran!.” Titah Pak Teguh.
“Baik pak!.” Jawab Mahasiswa/i serempak.
          Raut wajah Pak Teguh berubah ketika mengoreksi tugas makalah Alyson. Ia mengerutkan keningnya.
“Alyson!.” Panggil Pak Teguh.
“Ya Pak?.”
“Kamu tau, apa tema tugas makalah kali ini?.” Tanya Pak Teguh.
“Ya, temanya tentang anatomi tubuh manusia!.” Jawab Alyson.
“Oh, lalu kenapa tema tugas makalah kamu adalah perkembangan telekomunikasi. Dan sejak kapan kamu mengganti nama menjadi Cristian Webster?.” Tanya Pak Teguh menahan tawa.
          Seisi ruangan menghura Alyson, dan Cristian memasuki ruangan itu.
“Maaf Pak, tugas saya tertukar dengan tugas Aly.” Jelas Cristian sambil menyerahkan tugas Alyson kepada Pak Teguh.
“Hhhuuuuuu!.” Mereka pun di hura.


          Sepulang kuliah, Alyson pergi ke Mall, ia membeli gaun dan rok mini. Di saat yang bersamaan, Julian pun berada di sana, Julian membeli kaos oblong dan celana borju berkaki botol. Mereka pun membayar bersama di kasir, seraya bercanda sejenak.
“Duluan Yach.” Pamit Alyson.
“Iya, silahkan Al. Hati-hati yach!.” Jawab Julian sambil tersenyum.


          Rhinto dan Randi bertamu di rumah Julian.
“Ian, tadi katanya loe beli costum buat festival band kita nanti?. Mana coba gue lihat?.” Pinta Rhinto.
“Benar tuch, siapa tau gak sesuai dengan dekorasi kita?.” Tambah Randi sambil membuka kantong belanjaan Julian.
“Hahahahahahahahahahahahaha” Rhinto dan Randi juga Julian tertawa terkejut dengan isi kantong itu.
“Loe gila yach?. Loe mau manggung pake gaun apa?. Hahahahahahahaha.” Rhinto tidak berhenti ketawa.
“Gue gak ngebayangin, gimana cantiknya loe kalau make rok mini ini?.”
“OMG, belanjaan gue tertukar dengan belanjaannya Aly!.”


          Sementara itu, dering handphone Alyson.
“Ya Hallo. Iya Dian, aku pasti datang ke acara kamu. Tadi aku beli gaun cantik khusus dech buat hadirdi event kamu. Okey!.” Itulah percakapan Alyson via telepon sebelum ia membuka kantong dan di buat terkejut dengan isi belanjaannya.
“Mampus gue!. Gimana bisa pergi ke eventnya Dian kalau gini?.” Guman Alyson.


Esoknya di Kampus, Alyson bertemu Cristian. Cristian lalu mengajak Alyson untuk sarapan di Café Kampus. Alyson yang memang belum sarapan, tak menolak tawaran itu. Namun di sela-sela agenda sarapannya, Julian mengutarakan perasaannya.
“Al, sebenarnya gue pengen ngomong sesuatu ke loe!.”
“Emangnya loe mau ngomong apa?. Ngomong aja lagi!.” Jawab Alyson.
“Gue?.”
“Apa?. Kok tegang gitu?.”
“Gue sebenarnya suka sama loe dan gue pengen bisa bersama loe lebih dari sekedar teman atau sahabat. Loe mau gak jadi pacar gue?.”
“Gue?. Jujur, gue bingung!.”
“Gue gak minta loe jawab saat ini. Tapi jujur, gue berharap banget!.”
“Gue minta waktu.”
“Iya.”
“Thanks.”
          Ketika sedang menikmati cake and tea, Alyson melihat Julian lewat.
“Ian?.” Panggil Alyson seraya berlari meninggalkan Cristian.
“Ini belanjaan loe, gue rasa kemaren belanjaan kita ketuker!.” Lanjut Aly.
“Oh ya?. Hm, thanks yach!. Hm, gimana kalau ntar sore gue ngajak loe dinner, sekalian balikin belanjaan loe?.” Tanya Julian berharap.
“Ide bagus tuch, gue juga bosan di rumah terus.”
“Yeah, ntar gue jemput yach?.”
“Ya.”


          Handphone Alyson melantunkan nada classic, rupanya Julian menelponnya.
“Hallo?.” Sapa Alyson datar.
“Aly, gue di depan rumah loe. Bukain pintunya dong!.” Pinta Julian.
“Okey, tunggu yach.”
          Ketika Alyson, Julian terpaku menyaksikan pesonanya. Belanjaan Alyson pun di kembalikan Julian, dan mereka pergi dinner.


          Mereka duduk berhadapan di sebuah restoran romantic.
“Al, kalau gue boleh jujur, loe cantik banget mala mini!.” Puji Julian.
“Akh loe lebay dech!.”
“Gue serius, loe cantik!. Loe tau gak apa yang gue fikirkan saat ini?.”
“Loe lagi mikir, mau pesan makanan apa?.”
“Bukan!.”
“Hm, lalu apa?. Gimana gue bisa tau kalau loe saja gak bilang!. Apa?.”
“Boleh gak, gue curhat sesuatu yang agak konyol?.”
“Why not?.”
“sebenarnya saat ini, gue menyukai seorang wanita. Ehw, sebenarnya gue mengagumi wanita itu sejak masuk kuliah.”
“Ya, gue tau. Loe naksir berat sama Lina ‘kan?. Kenapa loe gak nyatain cinta saja ke dia. Menurut gue sich, Lina cantik kok!.”
“Bukan!. Bukan Lina tapi loe, Al.”
“Maksud loe?.”
“Gue suka sama loe!.”
“Gue gak ngerti?.”
“Cobalah untuk mengerti.”
“I don’t know.”
“Al, loe mau gak jadi pacar gue?.”
“Gue gak tau!. Jujur gue bimbang!.”
“Gue ngerti, loe bisa menjawabnya nanti!.”


          Gila!. Dua sahabat karib itu sama-sama mengagumi gue. Tadi pagi Cristian menyatakan cinta ke gue, ia minta gue jadi pacarnya. Malamnya, Julian menanyakan kesediaan gue menjadi kekasihnya. Lantas siapa yang gue pilih?. Kenapa hati gue bimbang?. Batin Alyson.
          Alyson lalu menelpon Dian, sahabatnya.
“Menurut gue, loe pilih yang paling loe sayang!.” Saran Dian.
“Tapi perasaan gue fifty-fifty.”
“Maksud loe?.”
“50% buat Cristian dan 50% buat Julian. I don’t know!.”
“Ya, ikuti saja prinsip cinta loe Al.” Saran Dian lagi.
“Benar juga loe!. Tapi gue rasa mereka sama-sama cinta ke gue!.”
“Ya sudah, loe cari, mana di antara Julian dan Cristian yang paling amat sangat cinta sama loe!.”


          Esoknya Cristian menemui Alyson yang sedang bersama Julian. Mereka nongkrong di café bertiga.
          “Rasa cinta gue, rasa sayang gue ke bagi rata buat kalian berdua. Gue gak bisa milih!.” Ucap Alyson jujur.
“Loe harus milih, karena hidup itu pilihan!. Kalau loe gak milih, malah loe nyakitin kita berdua. Jujur saja, ikuti kata hati loe!.” Desak Julian.
“Al, loe pilih saja Ian. Gue sadar, cinta gak harus memiliki. Tapi cinta itu adalah bagaimana agar orang yang kita cintai dapat berbahagia. Kalau loe bahagia sama Ian, gue juga ikut bahagia. Gue ikhlas dan gue rela melepas loe. Gue cuma pengen loe tau, gue cinta sama loe selamanya. Cinta gue abadi, cinta gue juga ada buat Ian, ia sahabat gue!.” Jelas Cristian.
“Cris, gue cinta sama loe. Gue milih loe!.” Jawab Alyson dengan pasti tanpa keraguan, seraya menggenggam tangan Cristian.
“Tapi Al?.” cegat Julian.
“Maafin gue?. Gue mau ngikutin prinsip cinta gue, untuk mencintai orang yang mencintai gue. Gue tau loe juga cinta sama gue!. Tapi menurut gue Cristianlah yang lebih mencintai gue daripada loe!. Kita masih tetap bisa sahabatan ‘kan Ian?.”
“Iya, lagian Cris sahabat gue!. Gue berbahagia untuk kalian.” Jawab Julian.
“Gue cinta loe, Al.” ucap Cristian.
“Gue juga!.” Balas Alyson.
“Selamat yach.” Ucap Julian.
“Makasih Ian.”
“Sama-sama!.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar