Kamis, 19 Februari 2015

Aku Cacat



Jika air mata memang bisa tepiskan duka maka
MENANGISLAH
Jika kata-kata memang bisa menghapus luka maka
BICARALAH
Jika malam hening memang bisa mengusir gundah maka
TAHAJUDLAH
Jika ternyata memang tidak ada yang bisa mendiamkan gelisah jiwa maka
BERDOALAH
Pernahkah engkau mendapatkan pujian dari seseorang yang buta, yang sama sekali tidak pernah melihat kecantikan parasmu?
Pernahkah engkau mendengar kata cinta dari seseorang yang bisu, yang tidak mampu untuk menyampaikannya lewat lisan?
Pernahkah engkau merasakan belaian kasih sayang dari seseorang yang cacat, yang bahkan tidak mampu menyentuhmu dengan jemarinya?
Pernahkan engkau mendapatkan pesan gembira dari seseorang yang kau abaikan, yang bahkan selalu memikirkanmu?
Cinta dan sayang tidak bisa di lihat dengan kesempurnaan pandangan, penglihatan dan sentuhan.

“Kamu itu salah Zahra, kamu salah karena kamu bodoh!.”
Kalimat ini menghiasi hari-hariku yang kelabu. Aku terlahir dengan sebuah kelainan, aku punya sepasang kaki yang berbeda panjangnya, aku tidak cantik dan aku juga tidak cukup pintar. Aku cacat.
          Aku terlahir dalam keluarga yang berkecukupan dengan pemahaman agama yang dangkal. Ayahku seorang komisaris super sibuk dan ibuku seorang dokter spesialis bedah yang tak kalah sibuknya. Aku adalah anak bungsu dari 2 bersaudara, kakakku bernama Shella Briliant, aku sangat sayang kak Shella karena dia satu-satunya saudaraku, ya walaupun ia tidak pernah sayang padaku.

“Kamu hebat Shella, kamu peringkat 1 lagi.”
Itu adalah kalimat yang paling sering di ucapkan ayah dan ibu setiap kali penerimaan rapor. Kak Shella memang pandai, nilainya selalu sempurna, selain juara kelas, ia juga memenangkan berbagai olimpiade dan segala macam perlombaan. Kak Shella yang pintar, cantik dan sempurna, ia selalu mendapatkan banyak pujian.
          Tidak seperti aku yang bodoh ini, nilaiku selalu jelek dan aku pincang. Bahkan sekali pun tak pernah ku dengar ayah dan ibu memujiku. Ayah dan ibu selalu mengatakan bahwa mereka sangat beruntung memiliki anak yang cantik dan pintar seperti kak Shella dan aku tidak pernah sekali pun mendengar mereka mengatakan bahwa mereka juga beruntung memilikiku. Dan mungkin itu tidak akan pernah terjadi, mereka tidak beruntung memilikiku, aku ini jelek, bodoh, kakiku pincang dan tentunya tidak akan ada orang tua yang menginginkan anak yang cacat sepertiku. Aku ini sebuah beban.

“Zahra, kamu bodoh!. Kamu ceroboh!.”
          Itulah kalimat indah yang menurutku sebuah pujian dari ibu ketika aku salah. Semua yang ku lakukan selalu salah, tidak seperti kak Shella yang selalu hebat dalam melakukan segala hal. Bahkan untuk berjalan ‘cantik’ seperti para model pun aku tidak bisa.

“Zahra, kamu tidak boleh pake baju fashion, kamu ‘kan tidak bisa berjalan seperi model, jadi biar aku saja yang memakai baju itu!.”
          Kak Shella mengatakan itu sambil merebut baju baru yang ku beli dengan uang tabunganku, sebuah baju fashion yang sedang trend. Aku hanya memandangnya. Aku melihat kak Shella menggunakan baju itu, kak Shella sangat cocok memakai baju itu, bahkan ia terlihat lebih cantik dari model yang berpose di majalah. Kak Shella lalu berjalan dengan anggun di depan cermin. Wow!. Aku memandanginya kagum. Aku kagum pada kecantikannya. Aku kagum pada sepasang kakinya yang indah, yang berjalan dengan sempurna. Aku kagum pada kakakku. Aku bangga punya kakak yang cantik dan sempurna seperti kak Shella, aku bertepuk tangan melihatnya, aku bahagia untuknya.

“Zahra, kamu tunggu di mobil saja, aku malu kalo teman-teman aku tau, aku punya adik yang cacat kayak kamu!.”
          Kalimat itu terlontar suatu ketika aku dan kak Shella pergi ke Mall, kak Shella melihat teman-temannya dan ia ingin menghampiri mereka. Jadi ia menyuruhku menunggu saja di mobil karena ia malu jika teman-temannya tau adiknya cacat. Aku memandangi kakakku yang sangat sempurna ini lewat kaca mobil, aku mengamati caranya menyapa teman-temannya. Mereka ngobrol dengan akrab dan mereka berjalan dengan anggun. Aku memandangi dengan penuh kekaguman!. Aku memandangi sepasang kaki mereka yang sempurna.

“Bu, nanti malam client ayah akan bersilahturahim ke rumah kita. Ibu jangan lupa bersiap-siap, karena ini tamu penting. Ingat bu, pokoknya Zahra tidak boleh keluar kamar, ayah malu punya anak cacat.”
          Ya, setiap kali ada tamu penting, aku selalu di kurung di kamar. Orang tuaku malu punya anak yang cacat. Dan lagi-lagi kak Shella membuatku kagum padanya. Karena setiap orang yang berkunjung ke rumah selalu saja memuji kecantikan dan kesempurnaan kak Shella, tidak pernah ada yang memujiku, jangankan memuji bahkan menanyakan keberadaanku saja tidak pernah. Entahlah, sepertinya yang mereka tau kak Shella itu anak tunggal, anak satu-satunya dan kebanggaan ayah dan ibu. Tidak ada yang mengenalku, ya anak cacat sepertiku ini memang memalukan untuk di akui dan demi kehormatan ayah dan ibuku, aku rela tidak di akui.

“Karena Shella itu special.”
          Ibu akan pergi mengunjungi teman arisannya, aku menanyakan pada ibu apakah aku bisa ikut karena aku bosan di kamar. Tapi ibu tidak memperbolehkanku, ibu ingin kak Shella yang menemani ibu. Aku memohon pada ibu, ku katakan pada ibu bahwa kak Shella selalu ikut bersama ibu, bisakah sekali ini biar aku saja yang ikut ibu. Dan ibu tetap tidak mengizinkan, ibu bilang padaku bahwa aku di rumah saja, aku cacat dan aku pasti akan merepotkan. Aku kesal dan aku tanyakan pada ibu kenapa selalu kak Shella?. Lalu ibu menjawabku, karena Shella itu special.

“Ibu sibuk, ibu tidak bisa datang di acara perlombaanmu, lagian buat apa kamu ikut lomba pidato segala, kamu tidak akan menang karena kamu itu cacat Zahra!.”
          Ibu menolak untuk datang menyemangatiku di event yang sangat ku nantikan. Tapi aku tetap tersenyum dan aku menampilkan yang terbaik di atas panggung, walaupun ayah, ibu dan kak Shella tidak menyaksikan penampilanku. Beruntunglah, walaupun ketiga tamu istimewaku itu tidak datang, namun aku berkenalan dengan salah seorang peserta dari kampus lain, namanya Aisyah. Ia cantik dan menurutku ia sedikit berbeda dengan peserta lainnya karena ia tidak bermake up dengan berlebihan dan rambutnya tidak kelihatan, ya ia berhijab. Dan akhirnya perlombaan pidato itu di menangkan oleh Aisyah, teman baruku.

“Oh kamu punya teman ya Zahra?. Emang ada orang yang mau berteman sama kamu yang cacat itu?. Kok aku gak percaya ya Zahra!.”
          Begitulah respon kak Shella ketika aku bercerita tentang teman baruku, Aisyah. Namun aku tidak memperdulikan ucapan kak Shella. Aku yakin Aisyah baik, dari sinar matanya menunjukan ia tulus menjadi temanku sekalipun aku ini cacat. Aku mulai akrab dengan Aisyah, semakin akrab dan kami bersahabat. Hari-hariku menjadi menyenangkan sejak mengenal Aisyah karena ia selalu membuatku melupakan kekuranganku dan tersenyum.

“Zahra, kamu harus bersyukur dengan segala yang Tuhan berikan.”
          Itulah kalimat motivasi terbesar di hidupku yang hanya aku dengar dari ucapan seorang Aisyah, sahabatku. Aisyah selain cantik, ia juga sangat baik. Ia pandai dan ia mengajariku banyak hal.

“Zahra, hari ini kakakku pulang dari Arab, ia baru saja menamatkan study tarbiyah di sana. Aku ingin mengenalkannya padamu.”
          Aisyah ingin aku berkenalan dengan kakaknya, aku malu karena ibu bilang tidak akan ada orang yang menyukaiku karena aku cacat, tapi Aisyah bilang tidak apa, kakaknya baik dan tidak memilih teman. Aku pun akhirnya bersedia berkenalan dengan kakaknya Aisyah.

“Hay Zahra, namaku Ali, senang mengenalmu.”
          Kalimat indah yang terucap dari bibir Ali. Jauh dari perkiraanku, ternyata lelaki yang berdiri di depanku adalah sosok pemimpin yang sederhana, ia tampan dan sopan, ia kakaknya Aisyah. Aku pun mulai dekat dengan Ali, benar kata Aisyah, Ali sangat baik, ia berteman dengan siapa saja termaksud aku yang cacat ini.

“Wanita berhijab itu istimewa.”
          Selama aku bersahabat dengan Aisyah, tak pernah sekalipun aku melihat Aisyah menampakan rambutnya. Aku menanyakannya dan Aisyah bilang wanita berhijab itu istimewa. Kedekatanku dengan Aisyah dan Ali membuatku belajar lebih banyak tentang agama, aku mendalami agamaku dan aku menyesal dengan semua ini. Aku malu, aku terlalu jauh, aku selama ini jauh dari Tuhan, aku lupa untuk bersyukur. Dan aku ingat pada Ayah, Ibu dan kak Shella, kami semua selama ini jauh dari Tuhan. Aku ingin mengingatkan keluargaku, aku mohon Tuhan ampuni kami.

“Kalo kamu mau salat ya salat saja sendiri, ayah lagi sibuk menyiapkan dokumen untuk meeting besok, ibu kamu juga lelah karena hari ini pasiennya banyak dan Shella lagi santai, kamu gak usah ganggu Zahra.”
          Itulah jawaban yang aku terima ketika aku mengingatkan keluargaku untuk salat. Tuhan, ampuni ayah, ibu dan kak Shella sesungguhnya mereka khilaf, ampuni mereka Tuhan, aku mohon.

“Rumah yang tidak pernah terdengar seseorang menggemakan bacaan kitab suci al-qur’an sama seperti kuburan.”
          Itu nasehat Ali padaku. Ya Tuhan, jadi selama ini rumah mewah itu hanya seperti kuburan di mata-Mu. Selama ini aku dan keluargaku tinggal di kuburan. Astagfirullah.

“Buat apa berjilbab?. Rambut aku tuh indah jadi buat apa aku tutupin?. Bodoh kamu Zahra, kamu berjilbab untuk nutupin cacat kamu ya?.”
          Astagfirullah, maafkan kak Shella Tuhan, kak Shella khilaf. Keputusanku untuk berhijab sudah bulat, tekadku kuat dan aku sudah memang siap di hujat ayah, ibu dan kak Shella. Dan semua itu tidak menggoyahku, sama sekali tidak.

“Nama kamu bagus Zahra, seperti nama putri Nabi SAW.”
          Begitulah kalimat Ali suatu ketika aku sedang belajar mengaji padanya. Aku hanya tersenyum dan tersipu malu di hadapannya. Dan semakin hari aku semakin mengenal Ali, semakin mendalami pribadinya dan aku mengaguminya hingga akhirnya dia menanyaku.

“Zahra, maukah kamu berta’aruf denganku?.”
          Subhanallah, ini karunia Tuhan yang paling indah dalam hidupku. Tapi Ali, aku ini cacat, aku tidak pantas bersanding denganmu bahkan mungkin aku tidak akan pernah bisa membahagiakanmu. Aku gak mau bikin kamu malu karena aku cacat. Ali, lihat, aku ini cacat, aku cacat.

“Zahra, aku tau kamu cacat dan aku tidak peduli, di mata Tuhan semua manusia itu sama, yang membedakan derajat manusia hanya amal baiknya dan bukan kesempurnaannya, karena sesungguhnya tidak ada satu apapun di dunia ini yang sempurna, sempurna itu milik Tuhan.”
          Ali meyakinkanku dan aku memohon pada Tuhan.

“Ya Allah, jikalau Ali baik untukku, jikalau Ali jodohku dan jikalau Ali adalah sosok imam yang Engkau berikan untuk mengisi kekuranganku maka ku mohon, mantapkanlah hatiku. Yakinkan diriku dengan pilihan-Mu, permudahkanlah segalanya. Allahumma Amin.”
          Aku memutuskan untuk memberi tau orang tuaku bahwa aku ingin menikah dengan Ali dan Ali akan segera meminangku.

“Lelaki bodoh mana yang mau menikahi wanita cacat!.”
          Kak Shella berkata bahwa Ali hanya mempermainkanku karena aku cacat, kak Shella bilang yang mau menikahi wanita cacat hanya lelaki bodoh. Tapi aku tidak peduli, aku berusaha menjelaskan pada ayah dan ibu bahwa Ali tulus mencintaiku, ia ingin menikahiku. Dan akhirnya Ali membuktikan perkataannya padaku, Ali melamarku.

“Saya tau Zahra cacat, dan saya mencintai Zahra bukan karena kesempurnaan fisiknya, tapi karena kesempurnaan hatinya. Saya berniat menikahi Zahra untuk menyempurnakan ibadah saya kepada-Nya.”
          Ayah dan Ibu akhirnya mengizinkan Ali menikahiku.

“Saya terima nikahnya Az Zahra binti Indrawan dengan mas kawin seperangkat alat salat dan al-qur’an di bayar tunai.”
          Begitulah ketika Ali mengucapkan janji untuk mencintaiku selamanya di hadapan keluargaku. Aku memang cacat, tapi hari ini aku adalah wanita yang paling beruntung di seluruh dunia karena Tuhan memberikan Ali padaku, Tuhan memberikanku seorang imam yang baik dan bersahaja.

“Aku cacat tapi aku selalu bersyukur dan aku bahagia.”
          Di saat bersama Ali, aku lupa bahwa aku cacat, aku seperti menjadi wanita yang paling cantik, yang paling sempurna. Ali memperlakukanku sangat istimewa. Dan aku bersyukur kepada Tuhan atas keadilan-Nya, aku di berikan sepasang kaki yang tidak sama panjangnya, aku pincang, aku cacat, tapi Tuhan memberikanku kebahagiaan yang lebih dulu, kebahagiaan yang paling sempurna, Tuhan memberikan Ali padaku, Tuhan jadikan ia imamku, terima kasih Tuhan, aku bersyukur, aku bahagia.

ALLAH tidak pernah menjanjikan kebahagiaan
Tapi ALLAH membuktikannya
ALLAH tidak pernah berbicara cinta
Tapi ALLAH memberikannya
ALLAH tidak pernah bercerita tentang jodoh
Tapi ALLAH menghadirkannya
          Semua akan indah pada waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar