Jika air mata
memang bisa tepiskan duka maka
MENANGISLAH
Jika kata-kata
memang bisa menghapus luka maka
BICARALAH
Jika malam hening
memang bisa mengusir gundah maka
TAHAJUDLAH
Jika ternyata
memang tidak ada yang bisa mendiamkan gelisah jiwa maka
BERDOALAH
Pernahkah engkau
mendapatkan pujian dari seseorang yang buta, yang sama sekali tidak pernah
melihat kecantikan parasmu?
Pernahkah engkau
mendengar kata cinta dari seseorang yang bisu, yang tidak mampu untuk
menyampaikannya lewat lisan?
Pernahkah engkau
merasakan belaian kasih sayang dari seseorang yang cacat, yang bahkan tidak
mampu menyentuhmu dengan jemarinya?
Pernahkan engkau
mendapatkan pesan gembira dari seseorang yang kau abaikan, yang bahkan selalu memikirkanmu?
Cinta dan sayang
tidak bisa di lihat dengan kesempurnaan pandangan, penglihatan dan sentuhan.
“Kamu itu salah Zahra, kamu salah karena kamu bodoh!.”
Kalimat
ini menghiasi hari-hariku yang kelabu. Aku terlahir dengan sebuah kelainan, aku
punya sepasang kaki yang berbeda panjangnya, aku tidak cantik dan aku juga
tidak cukup pintar. Aku cacat.
Aku terlahir dalam keluarga yang
berkecukupan dengan pemahaman agama yang dangkal. Ayahku seorang komisaris
super sibuk dan ibuku seorang dokter spesialis bedah yang tak kalah sibuknya.
Aku adalah anak bungsu dari 2 bersaudara, kakakku bernama Shella Briliant, aku
sangat sayang kak Shella karena dia satu-satunya saudaraku, ya walaupun ia
tidak pernah sayang padaku.
“Kamu hebat Shella, kamu peringkat 1 lagi.”
Itu
adalah kalimat yang paling sering di ucapkan ayah dan ibu setiap kali
penerimaan rapor. Kak Shella memang pandai, nilainya selalu sempurna, selain
juara kelas, ia juga memenangkan berbagai olimpiade dan segala macam
perlombaan. Kak Shella yang pintar, cantik dan sempurna, ia selalu mendapatkan
banyak pujian.
Tidak seperti aku yang bodoh ini,
nilaiku selalu jelek dan aku pincang. Bahkan sekali pun tak pernah ku dengar
ayah dan ibu memujiku. Ayah dan ibu selalu mengatakan bahwa mereka sangat beruntung
memiliki anak yang cantik dan pintar seperti kak Shella dan aku tidak pernah
sekali pun mendengar mereka mengatakan bahwa mereka juga beruntung memilikiku.
Dan mungkin itu tidak akan pernah terjadi, mereka tidak beruntung memilikiku,
aku ini jelek, bodoh, kakiku pincang dan tentunya tidak akan ada orang tua yang
menginginkan anak yang cacat sepertiku. Aku ini sebuah beban.
“Zahra, kamu bodoh!. Kamu ceroboh!.”
Itulah kalimat indah yang menurutku
sebuah pujian dari ibu ketika aku salah. Semua yang ku lakukan selalu salah,
tidak seperti kak Shella yang selalu hebat dalam melakukan segala hal. Bahkan
untuk berjalan ‘cantik’ seperti para model pun aku tidak bisa.
“Zahra, kamu tidak boleh pake baju fashion, kamu ‘kan
tidak bisa berjalan seperi model, jadi biar aku saja yang memakai baju itu!.”
Kak Shella mengatakan itu sambil
merebut baju baru yang ku beli dengan uang tabunganku, sebuah baju fashion yang
sedang trend. Aku hanya memandangnya. Aku melihat kak Shella menggunakan baju
itu, kak Shella sangat cocok memakai baju itu, bahkan ia terlihat lebih cantik
dari model yang berpose di majalah. Kak Shella lalu berjalan dengan anggun di
depan cermin. Wow!. Aku memandanginya kagum. Aku kagum pada kecantikannya. Aku
kagum pada sepasang kakinya yang indah, yang berjalan dengan sempurna. Aku
kagum pada kakakku. Aku bangga punya kakak yang cantik dan sempurna seperti kak
Shella, aku bertepuk tangan melihatnya, aku bahagia untuknya.
“Zahra, kamu tunggu di mobil saja, aku malu kalo
teman-teman aku tau, aku punya adik yang cacat kayak kamu!.”
Kalimat itu terlontar suatu ketika aku
dan kak Shella pergi ke Mall, kak Shella melihat teman-temannya dan ia ingin
menghampiri mereka. Jadi ia menyuruhku menunggu saja di mobil karena ia malu
jika teman-temannya tau adiknya cacat. Aku memandangi kakakku yang sangat
sempurna ini lewat kaca mobil, aku mengamati caranya menyapa teman-temannya.
Mereka ngobrol dengan akrab dan mereka berjalan dengan anggun. Aku memandangi
dengan penuh kekaguman!. Aku memandangi sepasang kaki mereka yang sempurna.
“Bu, nanti malam client ayah akan bersilahturahim ke
rumah kita. Ibu jangan lupa bersiap-siap, karena ini tamu penting. Ingat bu,
pokoknya Zahra tidak boleh keluar kamar, ayah malu punya anak cacat.”
Ya, setiap kali ada tamu penting, aku
selalu di kurung di kamar. Orang tuaku malu punya anak yang cacat. Dan
lagi-lagi kak Shella membuatku kagum padanya. Karena setiap orang yang berkunjung
ke rumah selalu saja memuji kecantikan dan kesempurnaan kak Shella, tidak
pernah ada yang memujiku, jangankan memuji bahkan menanyakan keberadaanku saja
tidak pernah. Entahlah, sepertinya yang mereka tau kak Shella itu anak tunggal,
anak satu-satunya dan kebanggaan ayah dan ibu. Tidak ada yang mengenalku, ya
anak cacat sepertiku ini memang memalukan untuk di akui dan demi kehormatan
ayah dan ibuku, aku rela tidak di akui.
“Karena Shella itu special.”
Ibu akan pergi mengunjungi teman
arisannya, aku menanyakan pada ibu apakah aku bisa ikut karena aku bosan di
kamar. Tapi ibu tidak memperbolehkanku, ibu ingin kak Shella yang menemani ibu.
Aku memohon pada ibu, ku katakan pada ibu bahwa kak Shella selalu ikut bersama
ibu, bisakah sekali ini biar aku saja yang ikut ibu. Dan ibu tetap tidak
mengizinkan, ibu bilang padaku bahwa aku di rumah saja, aku cacat dan aku pasti
akan merepotkan. Aku kesal dan aku tanyakan pada ibu kenapa selalu kak Shella?.
Lalu ibu menjawabku, karena Shella itu
special.
“Ibu sibuk, ibu tidak bisa datang di acara
perlombaanmu, lagian buat apa kamu ikut lomba pidato segala, kamu tidak akan
menang karena kamu itu cacat Zahra!.”
Ibu menolak untuk datang
menyemangatiku di event yang sangat ku nantikan. Tapi aku tetap tersenyum dan aku
menampilkan yang terbaik di atas panggung, walaupun ayah, ibu dan kak Shella
tidak menyaksikan penampilanku. Beruntunglah, walaupun ketiga tamu istimewaku
itu tidak datang, namun aku berkenalan dengan salah seorang peserta dari kampus
lain, namanya Aisyah. Ia cantik dan menurutku ia sedikit berbeda dengan peserta
lainnya karena ia tidak bermake up dengan berlebihan dan rambutnya tidak
kelihatan, ya ia berhijab. Dan akhirnya perlombaan pidato itu di menangkan oleh
Aisyah, teman baruku.
“Oh kamu punya teman ya Zahra?. Emang ada orang yang
mau berteman sama kamu yang cacat itu?. Kok aku gak percaya ya Zahra!.”
Begitulah respon kak Shella ketika aku
bercerita tentang teman baruku, Aisyah. Namun aku tidak memperdulikan ucapan
kak Shella. Aku yakin Aisyah baik, dari sinar matanya menunjukan ia tulus
menjadi temanku sekalipun aku ini cacat. Aku mulai akrab dengan Aisyah, semakin
akrab dan kami bersahabat. Hari-hariku menjadi menyenangkan sejak mengenal
Aisyah karena ia selalu membuatku melupakan kekuranganku dan tersenyum.
“Zahra, kamu harus bersyukur dengan segala yang Tuhan
berikan.”
Itulah kalimat motivasi terbesar di
hidupku yang hanya aku dengar dari ucapan seorang Aisyah, sahabatku. Aisyah
selain cantik, ia juga sangat baik. Ia pandai dan ia mengajariku banyak hal.
“Zahra, hari ini kakakku pulang dari Arab, ia baru
saja menamatkan study tarbiyah di sana. Aku ingin mengenalkannya padamu.”
Aisyah
ingin aku berkenalan dengan kakaknya, aku malu karena ibu bilang tidak akan ada
orang yang menyukaiku karena aku cacat, tapi Aisyah bilang tidak apa, kakaknya
baik dan tidak memilih teman. Aku pun akhirnya bersedia berkenalan dengan
kakaknya Aisyah.
“Hay Zahra, namaku Ali, senang mengenalmu.”
Kalimat
indah yang terucap dari bibir Ali. Jauh dari perkiraanku, ternyata lelaki yang
berdiri di depanku adalah sosok pemimpin yang sederhana, ia tampan dan sopan,
ia kakaknya Aisyah. Aku pun mulai dekat dengan Ali, benar kata Aisyah, Ali
sangat baik, ia berteman dengan siapa saja termaksud aku yang cacat ini.
“Wanita berhijab itu istimewa.”
Selama aku bersahabat dengan Aisyah,
tak pernah sekalipun aku melihat Aisyah menampakan rambutnya. Aku menanyakannya
dan Aisyah bilang wanita berhijab itu
istimewa. Kedekatanku dengan Aisyah dan Ali membuatku belajar lebih banyak
tentang agama, aku mendalami agamaku dan aku menyesal dengan semua ini. Aku
malu, aku terlalu jauh, aku selama ini jauh dari Tuhan, aku lupa untuk
bersyukur. Dan aku ingat pada Ayah, Ibu dan kak Shella, kami semua selama ini
jauh dari Tuhan. Aku ingin mengingatkan keluargaku, aku mohon Tuhan ampuni
kami.
“Kalo kamu mau salat ya salat saja sendiri, ayah lagi
sibuk menyiapkan dokumen untuk meeting besok, ibu kamu juga lelah karena hari
ini pasiennya banyak dan Shella lagi santai, kamu gak usah ganggu Zahra.”
Itulah
jawaban yang aku terima ketika aku mengingatkan keluargaku untuk salat. Tuhan,
ampuni ayah, ibu dan kak Shella sesungguhnya mereka khilaf, ampuni mereka
Tuhan, aku mohon.
“Rumah yang tidak pernah terdengar seseorang
menggemakan bacaan kitab suci al-qur’an sama seperti kuburan.”
Itu
nasehat Ali padaku. Ya Tuhan, jadi selama ini rumah mewah itu hanya seperti
kuburan di mata-Mu. Selama ini aku dan keluargaku tinggal di kuburan.
Astagfirullah.
“Buat apa berjilbab?. Rambut aku tuh indah jadi buat
apa aku tutupin?. Bodoh kamu Zahra, kamu berjilbab untuk nutupin cacat kamu
ya?.”
Astagfirullah,
maafkan kak Shella Tuhan, kak Shella khilaf. Keputusanku untuk berhijab sudah
bulat, tekadku kuat dan aku sudah memang siap di hujat ayah, ibu dan kak
Shella. Dan semua itu tidak menggoyahku, sama sekali tidak.
“Nama kamu bagus Zahra, seperti nama putri Nabi SAW.”
Begitulah
kalimat Ali suatu ketika aku sedang belajar mengaji padanya. Aku hanya
tersenyum dan tersipu malu di hadapannya. Dan semakin hari aku semakin mengenal
Ali, semakin mendalami pribadinya dan aku mengaguminya hingga akhirnya dia
menanyaku.
“Zahra, maukah kamu berta’aruf denganku?.”
Subhanallah,
ini karunia Tuhan yang paling indah dalam hidupku. Tapi Ali, aku ini cacat, aku
tidak pantas bersanding denganmu bahkan mungkin aku tidak akan pernah bisa
membahagiakanmu. Aku gak mau bikin kamu malu karena aku cacat. Ali, lihat, aku
ini cacat, aku cacat.
“Zahra, aku tau kamu cacat dan aku tidak peduli, di
mata Tuhan semua manusia itu sama, yang membedakan derajat manusia hanya amal
baiknya dan bukan kesempurnaannya, karena sesungguhnya tidak ada satu apapun di
dunia ini yang sempurna, sempurna itu milik Tuhan.”
Ali
meyakinkanku dan aku memohon pada Tuhan.
“Ya Allah, jikalau Ali baik untukku, jikalau Ali
jodohku dan jikalau Ali adalah sosok imam yang Engkau berikan untuk mengisi
kekuranganku maka ku mohon, mantapkanlah hatiku. Yakinkan diriku dengan
pilihan-Mu, permudahkanlah segalanya. Allahumma Amin.”
Aku
memutuskan untuk memberi tau orang tuaku bahwa aku ingin menikah dengan Ali dan
Ali akan segera meminangku.
“Lelaki bodoh mana yang mau menikahi wanita cacat!.”
Kak
Shella berkata bahwa Ali hanya mempermainkanku karena aku cacat, kak Shella
bilang yang mau menikahi wanita cacat hanya lelaki bodoh. Tapi aku tidak
peduli, aku berusaha menjelaskan pada ayah dan ibu bahwa Ali tulus mencintaiku,
ia ingin menikahiku. Dan akhirnya Ali membuktikan perkataannya padaku, Ali
melamarku.
“Saya tau Zahra cacat, dan saya mencintai Zahra bukan
karena kesempurnaan fisiknya, tapi karena kesempurnaan hatinya. Saya berniat
menikahi Zahra untuk menyempurnakan ibadah saya kepada-Nya.”
Ayah dan Ibu akhirnya mengizinkan Ali
menikahiku.
“Saya terima nikahnya Az Zahra binti Indrawan dengan
mas kawin seperangkat alat salat dan al-qur’an di bayar tunai.”
Begitulah
ketika Ali mengucapkan janji untuk mencintaiku selamanya di hadapan keluargaku.
Aku memang cacat, tapi hari ini aku adalah wanita yang paling beruntung di
seluruh dunia karena Tuhan memberikan Ali padaku, Tuhan memberikanku seorang
imam yang baik dan bersahaja.
“Aku cacat tapi aku selalu bersyukur dan aku bahagia.”
Di saat bersama Ali, aku lupa bahwa
aku cacat, aku seperti menjadi wanita yang paling cantik, yang paling sempurna.
Ali memperlakukanku sangat istimewa. Dan aku bersyukur kepada Tuhan atas
keadilan-Nya, aku di berikan sepasang kaki yang tidak sama panjangnya, aku
pincang, aku cacat, tapi Tuhan memberikanku kebahagiaan yang lebih dulu,
kebahagiaan yang paling sempurna, Tuhan memberikan Ali padaku, Tuhan jadikan ia
imamku, terima kasih Tuhan, aku bersyukur, aku bahagia.
ALLAH tidak pernah menjanjikan kebahagiaan
Tapi ALLAH membuktikannya
ALLAH tidak pernah berbicara cinta
Tapi ALLAH memberikannya
ALLAH tidak pernah bercerita tentang jodoh
Tapi ALLAH menghadirkannya
Semua
akan indah pada waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar