Siang
yang cerah, cuacanya sungguh bersahabat. Tapi tidak bagi keluarga Tn.
Sulistyono dan Ny. Ratna Caroline.
Pak Tyo dan Bu Ratna memiliki tiga
orang anak. Anak sulungnya bernama Raditya Kusuma, yang adalah seorang dokter
spesialis di sebuah Rumah Sakit terkemuka di Kota itu. Anak tengahnya bernama
Andika Saputra, seorang mahasiswa telekomunikasi di sebuah Universitas swasta
terbaik di kota itu. Dan si bungsu, satu-satunya saudara perempuan. Si cantik
ini bernama Serena Riyanti seorang siswi kelas XI di sebuah SMA bertaraf
International.
Andika terlibat pergaulan bebas, ia
telah menghamili Nurul Khatimah, anak Pak Yusuf, sopir ayahnya. Istri Pak
Yusuf, yang adalah Ibu Nurul, Bu Ina, juga bekerja sebagai pembantu di
rumahnya.
“Kamu
harus bertanggungjawab!. Segera nikahi Nurul, Andika!.” Bentak Pak Tyo tak
kuasa menahan emosinya.
“Papa?.
Papa kok gitu sich sama anak sendiri?. Kasihan Andika di suruh nikah sama
Nurul. Andika masih kuliah, dan Nurul itu anak pembantu!.”
“Tapi Ma, Andika sudah menghamili Nurul.”
“Ya,
tapi Nurulnya yang kegatelan sama Andika!.”
“Diam
Ma!. Papa gak minta pendapat Mama!. Dika, nikahi Nurul.”
“Tapi
Pa?.”
“Pokoknya
harus!.” Tegas Pak Tyo dan meninggalkan ruangan itu.
“Ma?.” Ucap Andika.
“Iya
sayang, kamu gak usah takut, biar jadi urusan Mama!.” Kata Bu Ratna.
“Kak,
kok kakak gitu sich?. Kasihan Kak Nurulnya!.” Kata Serena.
“Hah,
anak kecil jangan sok tau, ngerti apa kamu!.” Bentak Andika.
“Kalau
kakak gak mau tanggung jawab, aku aduhin ke Papa!.”
“Diam!.”
Bentak Andika lagi.
Serena melempar remote tv kea rah Andika dan
berlari ke kamar, tidak terima di bentak oleh kakaknya.
Sebenarnya Andika sosok anak yang
baik, hanya saja sejak ia bergaul dengan Gomez dan Max, anak gank motor,
membuat hidupnya menjadi berandalan.
“Ena, maafin kakak?.” Ucap Andika menyesal telah
membentak adiknya. Ia menggedor pintu kamar adiknya.
“Gak!. Pergi!. Ena gak mau ketemu siapa pun,
apalagi Kak Dika, jahat!.” Balas Serena yang memang manja.
Keesokan harinya, Bu Ratna memanggil keluarga
Pak Yusuf, Bu Ina terlihat cemas, ia mengkhawatirkan masa depan anak semata
wayangnya Nurul Khatimah. Pembantu yang sudah lebih dari 20 tahun mengabdi di
keluarga Pak Tyo ini, hafal betul watak sang nyonya.
“Ada apa nyonya?.” Tanya Pak Yusuf gugup.
“Eh,
kalian itu tidak tau di untung, sudah saya angkat dari jalanan, saya kasih
pekerjaan yang layak, malah membawa petaka untuk keluarga saya!. Punya anak
satu saja tidak bisa di urus dengan benar!. Lihat itu Andika, masa depannya hancur
karena Nurul?.” Omel Bu Ratna.
“Nyonya,
perlu nyonya ketahui, yang masa depannya hancur adalah Nurul, anak saya!. Bukan
Den Andika!.” Ketus Bu Ina.
“Alah,
ngaku saja!. Saya tau tujuan kamu, nyuruh anak kamu hamil dengan Andika. Agar
anak kamu di nikahi Andika dan kalian semua bisa menguasai harta saya!.” Tuding
Bu Ratna.
“Nyonya
jangan merasa kaya lalu seenaknya menindas kami yang lemah dan tidak punya
apa-apa ini!.” Pak Yusuf emosi.
“Diam!.
Dasar miskin, gak bermoral.” Ketus Bu Ratna.
“Cukup!.
Nyonya, kami memang miskin tapi kami punya harga diri!. Yang tidak bermoral itu
nyonya, bukan kami!.” Seru Bu Ina.
“Sudah
bu, sudah!.” Ucap Nurul.
“Hey,
beraninya kamu bicara begitu?. Keluar dari rumah ku sekarang!.” Usir Bu Ratna
dengan sombongnya.
“Baik!.
Semoga keluarga nyonya bahagia!.” Doa Bu Ina.
“Cueh!.”
Serena yang mendengarkan percakapan
itu, ingin mengadukan ibunya pada sang ayah. Tapi Pak Tyo sedang pergi.
Ketika pulang, Pak Tyo mencari
keluarganya Pak Yusuf. Namun istrinya malah mengarang cerita. Bu Ratna
bercerita pada suaminya bahwa keluarga Pak Yusuf malu dan pergi tanpa pamit.
Serena yang ingin membongkar semuanya, malah di ancam oleh Andika.
Malam itu tak seperti biasanya, Serena
duduk di kursi ruang tamunya menantikan kepulangan kakaknya Raditya. Ya memang
Raditya selalu begitu, sibuk dengan urusannya sendiri, masalah yang menimpa
keluarganya saat ini saja ia belum tau.
“Ena kok belum tidur?. Besok sekolah
lho?.” Tegur Andika, namun Serena hanya mencibirkan bibir tanpa menghiraukan
perhatian sang kakak.
“Ya
sudah, kakak tidur duluan. Jangan kemalaman ya tidurnya.” Lanjut Andika tetap
perhatian.
Setahun kemudian setelah masalah
tersebut terlupakan oleh keluarga Andika. Waktu telah merubah segalanya.
Kehidupan keluarga Andika semakin membaik. Tahun kehokian menghampiri mereka.
Di tahun ini Andika wisuda, Serena lulus SMA, dan yang super ekstra
membahagiakan adalah pernikahan Raditya.
Siapa yang menyangka Raditya yang
sibuk dengan dunianya dan tak perdulikan keluarganya bias berubah total menjadi
sosok lelaki yang sayang keluarga. Wanita cantik yang akan di nikahinya tahun
ini adalah sosok bidadari yang mengubah diri dan hidupnya menjadi lebih baik
lagi. Dian Kharisma, menantu kesayangan Pak Sulis dan Bu Ratna.
Allah maha adil, lagi maha bijaksana.
Kebahagiaan keluarga Andika tak bertahan lama. Sesuatu yang merupakan
pembalasan setimpal. Karma yang menitih tanpa ampun.
Sore ini Pak Sulis menemukan alat tes
kehamilan di toilet rumah mewah mereka. Punya siapa ini?.
“Bu,
coba lihat ini?.” Kata Pak Sulistyono.
“Oh,
mungkin ini punya Dian.” Jawab Bu Ratna tersenyum bahagia.
“Itu
berarti kita akan punya cucu, alhamdulilah.” Respon Pak Sulis.
“Asyik,
bias menimang cucu. Akhirnya ya Pak?.” Sorak Bu Ratna.
“Iya
Bu.” Jawab Pak Sulis tak kalah senangnya.
Ketika Raditya dan Dian pulang dari
supermarket.
“Bagus
ya, Dian sama Radit sudah mulai menyembunyikan sesuatu dari Ibu, hm main
rahasia-rahasiaan ya?. Hehehehe..” goda Bu Ratna.
“Sembunyiin
apa Bu?.” Tanya Raditya sambil melirik istrinya.
“Jadi
kamu belum tau juga Dit?. Dian hayo ngaku sama suami kamu, apa yang kamu
sembunyikan.” Tambah Pak Sulis.
“Ngaku?.
Ngaku apaan Pak?. Aku gak ngerti.” Dian bingung.
“Sudahlah
Dian, Ibu sudah tau, jangan bohong lagi. Hayo ngaku?. Hehehe.. iya ‘kan pak?.”
Kata Bu Ratna ngotot.
“Sayang,
kamu sembunyiin apa dari aku?.” Tanya Raditya.
“Aku
gak tau.” Jawab Dian semakin bingung.
“Ini.”
Bu Ratna menyodorkan alat tes kehamilan yang tertulis positif pada Raditya,
yang langsung memeluk istrinya. Dian hanya bingung.
“Sayang,
kamu hamil?. Kok gak bilang sama aku?.” Tanya Raditya.
“Aku
gak hamil!.” Bantah Dian.
“Sayang,
kok kamu gitu sich, jelas-jelas kamu hamil benih cinta aku. Dian, aku makin
cinta, makin sayang sama kamu.”
“Dit,
ini bukan punya aku. Lagian kalau aku hamil pasti aku bilanglah sama kamu dan
keluarga kamu.” Jelas Dian.
“Lalu
ini punya siapa?.” Tanya Raditya pada Dian.
“Aku
gak tau!.” Bantah Dian,
“Di
rumah ini yang menggunakan benda ini hanya Ibu, Dian dan Serena. Yang pasti ini
bukan punya Ibu, kalau ini juga bukan punya Dian, berarti ini punya Serena?.”
Kata Bu Ratna mulai di kuasai emosi.
“Maksud
Ibu?.”
Ketika Serena pulang kuliah, Pak
Sulis, Bu Ratna, Andika, Raditya dan Serena telah menunggunya di ruang tamu.
“Lho
ada apa ini?. Tumben semuanya ngumpul?.” Tanya Serena.
“Ena,
duduk!.” Bentak Andika sambil melempar alat tes kehamilan ke arah Serena yang
langsung kaget setengah mati.
“Itu
punya kamu ‘kan!.” Bentak Pak Sulistyono.
“Iya,
ini punya Ena, maaf?.” Jawab Serena sambil menundukan kepalanya.
“Apa?.
Maaf kamu bilang?.” Bentak Raditya sambil menampar Serena.
“Dit,
sudah, tenang dulu!.” Bela Dian.
“Diam!.
Aku gak suruh kamu ngomong ya, kamu belain dia, mau aku tampar juga?. Belain
anak yang kelakuannya kayak gini!.” Bentak Raditya.
“Kamu
itu bikin malu keluarga!.” Omel Bu Ratna.
“Cukup
Bu, cukup semuanya!. Jangan mojokin aku terus!. Ini semua juga bukan sepenuhnya
salah aku. Ibu gak ingat apa yang Ibu lakukan dulu terhadap mbak Nurul?. Ini
karma bu!.” Ucap Serena lalu berlalu sambil menangis memasuki kamarnya. Dian
mengikutinya.
“Ini
semua salahku Bu, ini semua akibat ulahku dulu!.” Sesal Andika.
“Ini
salah Ibu yang telah kasar pada Nurul dan keluarganya.” Ratap Bu Ratna
mengingat masa lalu dalam keluarganya.
“Sudahlah,
ini juga salah bapak yang gak terlalu memperhatikan Serena.” Kata Pak Sulis
menyadari kesibukannya selama ini.
“Ini
salah kita semua, salah aku juga!. Sudah terjadi, tak ada guna di sesali.
Sebaiknya kita fikirkan jalan keluarnya saja.” Ucap Raditya bijak.
“Yang sabar ya sayang, setiap masalah
pasti ada jalan keluarnya.” Ucap Dian menenangkan adik iparnya.
“Iya
mbak. Beruntung mas Radit nikahnya sama mbak Dian, mbak baik banget. Makasih mbak,
aku sayang sama mbak!.” Kata Serena.
“Iya,
mbak juga sayang sama Ena.”
Setelah menemani Serena hingga ia
tertidur pulas, Dian lalu menuju kamarnya, nampak Raditya sedang murung.
“Sayang,
belum tidur?.” Tanya Dian perhatian.
“Belum
ngantuk, kamu tidur saja duluan, nanti kamu anemia.”
“Mana
bias aku tidur kalau kamu belum tidur?. Sayang, aku ini istri kamu, kalau ada
beban fikiran yang mengganggu kamu, cerita sama aku.”
“Aku
bingung, aku ngerasa salah tadi kasar sama Ena. Ini salahku, harusnya sebagai
seorang kakak yang baik, aku bias menjaga adikku.”
“Sayang,
dengarin aku. Ini gak sepenuhnya salah kamu juga. Mungkin ini cobaan dari
Allah, untuk menguji kekuatan cinta keluarga kita?.”
“Aku
gak tau harus apa sekarang.”
“Sayang,
sekarang kamu tidur ya, besok kita bahas ini. Sudah malam, aku gak mau kamu
sakit.”
“Dian,
I love you.”
“I
love you too suamiku!. Have a nice dream, good night!.”
Serena akhirnya menikah dengan Ricard,
lelaki yang telah menghamilinya. Bu Ratna dan Andika merasa bersalah,
penyesalan yang amat mendalam melanda mereka.
Dian berusaha menegarkan keluarga
suaminya tersebut, namun sia-sia. Andika sering menjerit memanggil nama Nurul,
akhirnya dengan berat hati, Raditya memasukkannya ke RSJ.
Tidak lama setelah itu, Bu Ratna sering
sakit dan akhirnya meninggal. Serena yang shyok dengan keadaan Andika dan
jiwanya terguncang karena kepergian sang Ibu, akhirnya mengalami keguguran.
Ricard lalu membawa Serena menjalani
therapy di Singapura. Raditya hanya tinggal bersama istrinya, Dian dan
ayahandanya, Pak Sulis di rumah besar dan mewah yang menyimpan banyak kenangan.
Atas usulan sang Istri, Raditya lalu
menjual rumah mewah itu dan pindah ke luar kota bersama keluarganya. Raditya
membeli sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, tidak terlalu besar, namun
nyaman. Di sanalah ia tinggal bersama Dian dan Pak Sulis.
Tidak lama kemudian, Dian hamil.
Kelahiran anak Raditya dan Dian, menghadirkan kebahagiaan untuk Pak Sulis yang
sudah semakin renta di makan usia. Pak Sulis mengisi setiap harinya dengan
bercanda bersama cucunya, Ardan Kusuma.
Kebahagiaan pun kembali bermekaran.
Satu pelajaran yang sangat berharga dari kisah kehidupan keluarga ini, bahwa
hukum karma itu ada. Dan seharusnya kita jangan menyakiti perasaan orang lain.
Jagalah perasaan orang lain seperti menjaga perasaan kita sendiri. Tentunya tak
ada orang yang ingin di sakiti perasaannya.
cerita yang menarik
BalasHapusartikel yang bagus, komentar juga ya ke blog saya www.belajarbahasaasing.com
BalasHapushttps://youtu.be/RwJFfYl6w_c
BalasHapushttps://youtu.be/hf4qnEKMSn8
BalasHapus