Kamis, 19 Februari 2015

Karma



Siang yang cerah, cuacanya sungguh bersahabat. Tapi tidak bagi keluarga Tn. Sulistyono dan Ny. Ratna Caroline.
          Pak Tyo dan Bu Ratna memiliki tiga orang anak. Anak sulungnya bernama Raditya Kusuma, yang adalah seorang dokter spesialis di sebuah Rumah Sakit terkemuka di Kota itu. Anak tengahnya bernama Andika Saputra, seorang mahasiswa telekomunikasi di sebuah Universitas swasta terbaik di kota itu. Dan si bungsu, satu-satunya saudara perempuan. Si cantik ini bernama Serena Riyanti seorang siswi kelas XI di sebuah SMA bertaraf International.
          Andika terlibat pergaulan bebas, ia telah menghamili Nurul Khatimah, anak Pak Yusuf, sopir ayahnya. Istri Pak Yusuf, yang adalah Ibu Nurul, Bu Ina, juga bekerja sebagai pembantu di rumahnya.
“Kamu harus bertanggungjawab!. Segera nikahi Nurul, Andika!.” Bentak Pak Tyo tak kuasa menahan emosinya.
“Papa?. Papa kok gitu sich sama anak sendiri?. Kasihan Andika di suruh nikah sama Nurul. Andika masih kuliah, dan Nurul itu anak pembantu!.”
“Tapi Ma, Andika sudah menghamili Nurul.”                       
“Ya, tapi Nurulnya yang kegatelan sama Andika!.”
“Diam Ma!. Papa gak minta pendapat Mama!. Dika, nikahi Nurul.”
“Tapi Pa?.”
“Pokoknya harus!.” Tegas Pak Tyo dan meninggalkan ruangan itu.
          “Ma?.” Ucap Andika.
“Iya sayang, kamu gak usah takut, biar jadi urusan Mama!.” Kata Bu Ratna.
“Kak, kok kakak gitu sich?. Kasihan Kak Nurulnya!.” Kata Serena.
“Hah, anak kecil jangan sok tau, ngerti apa kamu!.” Bentak Andika.
“Kalau kakak gak mau tanggung jawab, aku aduhin ke Papa!.”
“Diam!.” Bentak Andika lagi.
Serena melempar remote tv kea rah Andika dan berlari ke kamar, tidak terima di bentak oleh kakaknya.
          Sebenarnya Andika sosok anak yang baik, hanya saja sejak ia bergaul dengan Gomez dan Max, anak gank motor, membuat hidupnya menjadi berandalan.
“Ena, maafin kakak?.” Ucap Andika menyesal telah membentak adiknya. Ia menggedor pintu kamar adiknya.
“Gak!. Pergi!. Ena gak mau ketemu siapa pun, apalagi Kak Dika, jahat!.” Balas Serena yang memang manja.


Keesokan harinya, Bu Ratna memanggil keluarga Pak Yusuf, Bu Ina terlihat cemas, ia mengkhawatirkan masa depan anak semata wayangnya Nurul Khatimah. Pembantu yang sudah lebih dari 20 tahun mengabdi di keluarga Pak Tyo ini, hafal betul watak sang nyonya.
“Ada apa nyonya?.” Tanya Pak Yusuf gugup.
“Eh, kalian itu tidak tau di untung, sudah saya angkat dari jalanan, saya kasih pekerjaan yang layak, malah membawa petaka untuk keluarga saya!. Punya anak satu saja tidak bisa di urus dengan benar!. Lihat itu Andika, masa depannya hancur karena Nurul?.” Omel Bu Ratna.
“Nyonya, perlu nyonya ketahui, yang masa depannya hancur adalah Nurul, anak saya!. Bukan Den Andika!.” Ketus Bu Ina.
“Alah, ngaku saja!. Saya tau tujuan kamu, nyuruh anak kamu hamil dengan Andika. Agar anak kamu di nikahi Andika dan kalian semua bisa menguasai harta saya!.” Tuding Bu Ratna.
“Nyonya jangan merasa kaya lalu seenaknya menindas kami yang lemah dan tidak punya apa-apa ini!.” Pak Yusuf emosi.
“Diam!. Dasar miskin, gak bermoral.” Ketus Bu Ratna.
“Cukup!. Nyonya, kami memang miskin tapi kami punya harga diri!. Yang tidak bermoral itu nyonya, bukan kami!.” Seru Bu Ina.
“Sudah bu, sudah!.” Ucap Nurul.
“Hey, beraninya kamu bicara begitu?. Keluar dari rumah ku sekarang!.” Usir Bu Ratna dengan sombongnya.
“Baik!. Semoga keluarga nyonya bahagia!.” Doa Bu Ina.
“Cueh!.”
          Serena yang mendengarkan percakapan itu, ingin mengadukan ibunya pada sang ayah. Tapi Pak Tyo sedang pergi.
          Ketika pulang, Pak Tyo mencari keluarganya Pak Yusuf. Namun istrinya malah mengarang cerita. Bu Ratna bercerita pada suaminya bahwa keluarga Pak Yusuf malu dan pergi tanpa pamit. Serena yang ingin membongkar semuanya, malah di ancam oleh Andika.


          Malam itu tak seperti biasanya, Serena duduk di kursi ruang tamunya menantikan kepulangan kakaknya Raditya. Ya memang Raditya selalu begitu, sibuk dengan urusannya sendiri, masalah yang menimpa keluarganya saat ini saja ia belum tau.
          “Ena kok belum tidur?. Besok sekolah lho?.” Tegur Andika, namun Serena hanya mencibirkan bibir tanpa menghiraukan perhatian sang kakak.
“Ya sudah, kakak tidur duluan. Jangan kemalaman ya tidurnya.” Lanjut Andika tetap perhatian.


          Setahun kemudian setelah masalah tersebut terlupakan oleh keluarga Andika. Waktu telah merubah segalanya. Kehidupan keluarga Andika semakin membaik. Tahun kehokian menghampiri mereka. Di tahun ini Andika wisuda, Serena lulus SMA, dan yang super ekstra membahagiakan adalah pernikahan Raditya.
          Siapa yang menyangka Raditya yang sibuk dengan dunianya dan tak perdulikan keluarganya bias berubah total menjadi sosok lelaki yang sayang keluarga. Wanita cantik yang akan di nikahinya tahun ini adalah sosok bidadari yang mengubah diri dan hidupnya menjadi lebih baik lagi. Dian Kharisma, menantu kesayangan Pak Sulis dan Bu Ratna.
          Allah maha adil, lagi maha bijaksana. Kebahagiaan keluarga Andika tak bertahan lama. Sesuatu yang merupakan pembalasan setimpal. Karma yang menitih tanpa ampun.
          Sore ini Pak Sulis menemukan alat tes kehamilan di toilet rumah mewah mereka. Punya siapa ini?.
“Bu, coba lihat ini?.” Kata Pak Sulistyono.
“Oh, mungkin ini punya Dian.” Jawab Bu Ratna tersenyum bahagia.
“Itu berarti kita akan punya cucu, alhamdulilah.” Respon Pak Sulis.
“Asyik, bias menimang cucu. Akhirnya ya Pak?.” Sorak Bu Ratna.
“Iya Bu.” Jawab Pak Sulis tak kalah senangnya.
          Ketika Raditya dan Dian pulang dari supermarket.
“Bagus ya, Dian sama Radit sudah mulai menyembunyikan sesuatu dari Ibu, hm main rahasia-rahasiaan ya?. Hehehehe..” goda Bu Ratna.
“Sembunyiin apa Bu?.” Tanya Raditya sambil melirik istrinya.
“Jadi kamu belum tau juga Dit?. Dian hayo ngaku sama suami kamu, apa yang kamu sembunyikan.” Tambah Pak Sulis.
“Ngaku?. Ngaku apaan Pak?. Aku gak ngerti.” Dian bingung.
“Sudahlah Dian, Ibu sudah tau, jangan bohong lagi. Hayo ngaku?. Hehehe.. iya ‘kan pak?.” Kata Bu Ratna ngotot.
“Sayang, kamu sembunyiin apa dari aku?.” Tanya Raditya.
“Aku gak tau.” Jawab Dian semakin bingung.
“Ini.” Bu Ratna menyodorkan alat tes kehamilan yang tertulis positif pada Raditya, yang langsung memeluk istrinya. Dian hanya bingung.
“Sayang, kamu hamil?. Kok gak bilang sama aku?.” Tanya Raditya.
“Aku gak hamil!.” Bantah Dian.
“Sayang, kok kamu gitu sich, jelas-jelas kamu hamil benih cinta aku. Dian, aku makin cinta, makin sayang sama kamu.”
“Dit, ini bukan punya aku. Lagian kalau aku hamil pasti aku bilanglah sama kamu dan keluarga kamu.” Jelas Dian.
“Lalu ini punya siapa?.” Tanya Raditya pada Dian.
“Aku gak tau!.” Bantah Dian,
“Di rumah ini yang menggunakan benda ini hanya Ibu, Dian dan Serena. Yang pasti ini bukan punya Ibu, kalau ini juga bukan punya Dian, berarti ini punya Serena?.” Kata Bu Ratna mulai di kuasai emosi.
“Maksud Ibu?.”


          Ketika Serena pulang kuliah, Pak Sulis, Bu Ratna, Andika, Raditya dan Serena telah menunggunya di ruang tamu.
“Lho ada apa ini?. Tumben semuanya ngumpul?.” Tanya Serena.
“Ena, duduk!.” Bentak Andika sambil melempar alat tes kehamilan ke arah Serena yang langsung kaget setengah mati.
“Itu punya kamu ‘kan!.” Bentak Pak Sulistyono.
“Iya, ini punya Ena, maaf?.” Jawab Serena sambil menundukan kepalanya.
“Apa?. Maaf kamu bilang?.” Bentak Raditya sambil menampar Serena.
“Dit, sudah, tenang dulu!.” Bela Dian.
“Diam!. Aku gak suruh kamu ngomong ya, kamu belain dia, mau aku tampar juga?. Belain anak yang kelakuannya kayak gini!.” Bentak Raditya.
“Kamu itu bikin malu keluarga!.” Omel Bu Ratna.
“Cukup Bu, cukup semuanya!. Jangan mojokin aku terus!. Ini semua juga bukan sepenuhnya salah aku. Ibu gak ingat apa yang Ibu lakukan dulu terhadap mbak Nurul?. Ini karma bu!.” Ucap Serena lalu berlalu sambil menangis memasuki kamarnya. Dian mengikutinya.
“Ini semua salahku Bu, ini semua akibat ulahku dulu!.” Sesal Andika.
“Ini salah Ibu yang telah kasar pada Nurul dan keluarganya.” Ratap Bu Ratna mengingat masa lalu dalam keluarganya.
“Sudahlah, ini juga salah bapak yang gak terlalu memperhatikan Serena.” Kata Pak Sulis menyadari kesibukannya selama ini.
“Ini salah kita semua, salah aku juga!. Sudah terjadi, tak ada guna di sesali. Sebaiknya kita fikirkan jalan keluarnya saja.” Ucap Raditya bijak.


          “Yang sabar ya sayang, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” Ucap Dian menenangkan adik iparnya.
“Iya mbak. Beruntung mas Radit nikahnya sama mbak Dian, mbak baik banget. Makasih mbak, aku sayang  sama mbak!.” Kata Serena.
“Iya, mbak juga sayang sama Ena.”


          Setelah menemani Serena hingga ia tertidur pulas, Dian lalu menuju kamarnya, nampak Raditya sedang murung.
“Sayang, belum tidur?.” Tanya Dian perhatian.
“Belum ngantuk, kamu tidur saja duluan, nanti kamu anemia.”
“Mana bias aku tidur kalau kamu belum tidur?. Sayang, aku ini istri kamu, kalau ada beban fikiran yang mengganggu kamu, cerita sama aku.”
“Aku bingung, aku ngerasa salah tadi kasar sama Ena. Ini salahku, harusnya sebagai seorang kakak yang baik, aku bias menjaga adikku.”
“Sayang, dengarin aku. Ini gak sepenuhnya salah kamu juga. Mungkin ini cobaan dari Allah, untuk menguji kekuatan cinta keluarga kita?.”
“Aku gak tau harus apa sekarang.”
“Sayang, sekarang kamu tidur ya, besok kita bahas ini. Sudah malam, aku gak mau kamu sakit.”
“Dian, I love you.”
“I love you too suamiku!. Have a nice dream, good night!.”


          Serena akhirnya menikah dengan Ricard, lelaki yang telah menghamilinya. Bu Ratna dan Andika merasa bersalah, penyesalan yang amat mendalam melanda mereka.
          Dian berusaha menegarkan keluarga suaminya tersebut, namun sia-sia. Andika sering menjerit memanggil nama Nurul, akhirnya dengan berat hati, Raditya memasukkannya ke RSJ.
          Tidak lama setelah itu, Bu Ratna sering sakit dan akhirnya meninggal. Serena yang shyok dengan keadaan Andika dan jiwanya terguncang karena kepergian sang Ibu, akhirnya mengalami keguguran.
          Ricard lalu membawa Serena menjalani therapy di Singapura. Raditya hanya tinggal bersama istrinya, Dian dan ayahandanya, Pak Sulis di rumah besar dan mewah yang menyimpan banyak kenangan.
          Atas usulan sang Istri, Raditya lalu menjual rumah mewah itu dan pindah ke luar kota bersama keluarganya. Raditya membeli sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, tidak terlalu besar, namun nyaman. Di sanalah ia tinggal bersama Dian dan Pak Sulis.
          Tidak lama kemudian, Dian hamil. Kelahiran anak Raditya dan Dian, menghadirkan kebahagiaan untuk Pak Sulis yang sudah semakin renta di makan usia. Pak Sulis mengisi setiap harinya dengan bercanda bersama cucunya, Ardan Kusuma.
          Kebahagiaan pun kembali bermekaran. Satu pelajaran yang sangat berharga dari kisah kehidupan keluarga ini, bahwa hukum karma itu ada. Dan seharusnya kita jangan menyakiti perasaan orang lain. Jagalah perasaan orang lain seperti menjaga perasaan kita sendiri. Tentunya tak ada orang yang ingin di sakiti perasaannya.

4 komentar: