Kamis, 19 Februari 2015

Akhir Sebuah Penantian



“Aku tidak mencintaimu dengan kata yang bisa berdusta.
Tapi aku mencintaimu dengan bukti dan rasa.
Aku mendengarmu tidak dengan telinga yang tidak terdengar bila jauh dengan jarak.
Tapi aku mendengarmu dengan rasa dalam pejaman mata.
Aku tidak melihatmu dengan kedua mata ini yang tidak bisa melihatmu yang terhalang sejauh mata memandang.
Tapi aku melihatmu dalam ingatan dan kenanganku, dalam doa-doa yang ku lantunkan pada-NYA.
Ya Rabb, jagalah dia selalu untukku.
Bila penjagaanku tak sampai padanya.
Allahumma Amin.”

          Rein bilang, aku gadis yang bodoh karena aku mau menghabiskan waktuku untuk menunggu seseorang yang tak pasti, yang entah dimana dan bagaimana. Tapi aku yakin, Fino pasti akan menepati janjinya padaku. Aku yakin.
         
“Seharusnya kamu sudah bisa berfikir untuk bisa melupakan Fino. Ingat Rin, hidup itu butuh yang pasti-pasti.” Kata Rein.
“Tapi aku tidak bisa melupakan Fino.”
“Kalo kamu tidak bisa melupakan Fino, setidaknya kamu bisa untuk berhenti mengingatnya.”
“Rein, aku yakin Fino pasti menepati janjinya.”
“Rin, ini sudah 5 tahun Rin?. Kamu sadar tidak!.”
“Suatu saat nanti pasti Fino kembali.”
“Kapan?.”
“Aku juga tidak tau.”
“Kamu bodoh!.”

          Fin, kamu dimana sekarang?. Bagaimana kabarmu?. Apa kau masih ingat aku?. Gadis polos yang dulu kau bilang special. Fin, apa kamu masih akan bertingkah konyol seperti dulu ketika bertemuku nanti?. Atau kamu akan bersikap cuek karena ada gadis lain, seperti kata Rein. Fin, apapun dan bagaimanapun kamu aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu 5 tahun yang lalu, malam ini, besok pagi, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya. Selamanya.

            “Apa kamu bahagia ketika kamu menunggu yang tak pasti?.”
“Aku tidak tau apa ini namanya bahagia, aku hanya merasa sakit ketika aku berusaha untuk melupakan dan aku merasa hampa ketika aku berusaha untuk berhenti mengingat, seperti katamu. Aku hanya nyaman ketika aku bisa memastikan bahwa aku menunggunya menepati janjinya.”
“Tapi Rin, 5 tahun kamu menghabiskan waktu dengan keadaan yang seperti ini?. Apa kamu tidak kasihan pada hatimu?.”
“Sudah ku bilang, aku nyaman dengan keadaan ini. Mungkin ini bahagia.”
“Bahagia macam apa?. Kamu bodoh!.”
“Aku memang bodoh dan aku mau tetap bodoh. Karena dengan kebodohan aku tidak akan mengerti bahwa ini tak pasti. Aku mau terus bodoh hingga Fino datang menepati janjinya dan aku akan bahagia karena aku bodoh.”

          Aku mengenal Fino 5 tahun yang lalu dan di ulang tahunku yang ke-17 itu aku bahagia. Aku bahagia karena aku mengenal Fino. Setahun kemudian aku resmi menjadi kekasih Fino dan aku semakin bahagia. Fino sosok pria yang berkepribadian baik, sopan, ramah dan selalu bertingkah konyol untuk membuatku tertawa ketika aku sedih. Fino mengingatkanku untuk tersenyum saat aku lupa menikmati hidupku. Fino mengajarkan aku matematika ketika aku lupa berapa banyak angka yang aku perlukan untuk mengukur perasaanku pada Fino. Aku bahagia bersama Fino.

          Hingga akhirnya, Fino meninggalkanku. Ia pergi tanpa pesan, aku tidak tau apa yang membuatnya pergi dariku. Tapi aku ingat, dulu Fino bilang, suatu saat nanti aku akan jadi pengantin wanita yang paling cantik ketika bersanding dengannya. Suatu saat nanti, entah kapan.

          Walaupun Rein menganggapku bodoh, tapi ini keputusanku. Aku akan menunggu Fino kembali menepati janjinya. Rein fikir aku tidak bahagia karena aku menunggu sesuatu yang tidak pasti, tapi Rein salah. Aku bahagia, aku bahagia dengan caraku.

          Ini tahun ke-5 sejak kepergian Fino dari hidupku dan aku masih menunggu. Aku menunggunya setiap waktu, aku menghubungi nomor ponselnya setiap saat, walau selalu mendapatkan jawaban yang sama, nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi. Aku tidak pernah mencoba membuka hatiku sedikitpun untuk yang lain, yang aku mau Fino. Aku mau Fino dengan segala kekonyolannya. Aku mau Fino dengan segala kebodohanku. Yang aku mau Fino, tidak lebih dan tidak kurang, aku hanya mau Fino.

          “Tuhan, aku tidak berharap yang lebih dari dia, aku juga tidak mau yang kurang dari dia, cukup dia saja Tuhan. Cukup dia, Finoku.”

          Hari ini, hari ulang tahunku yang ke-24. Rein yang menyiapkan pestaku. Aku tidak bersemangat, pesta bagiku tidak ada artinya, aku hanya butuh Fino di ulang tahunku. Ini bukan sweetseventeen ketika Fino di sisiku. Ini usia yang seharusnya aku bisa seperti Vera, Rani, Gina, Tuti dan sederet teman seusiaku yang dengan anggun menjadi ratu sehari dalam nuansa bahagia. Aku lalu teringat pada ibu yang ingin sekali melihatku menikah dan pada ayah yang menginginkan cucu dariku, anak tunggalnya.

          Saat ini, banyak pria di sekelilingku. Tapi tidak ada yang bisa menggantikan Fino. Bahkan Rein yang sudah sangat dekat dengan keluargaku, yang setiap hari menemaniku, juga tidak mampu membuatku berpaling dari cinta Fino. Aku tau Rein selama ini sudah berusaha semampunya untuk meyakinkanku, tapi Tuhan, yang aku pinta dalam setiap sujudku adalah Fino. Aku ingin dia yang menjadi imamku.

          5 tahun Tuhan, 5 tahun aku menunggunya. Tanpa kabar, tanpa kepastian apapun. Haruskah ku ikhlaskan melihat akhir dari penantian ini tidak seperti harapanku. Tuhan, mungkin Engkau bosan mendengar pintaku, aku ingin menjadi pengantin paling cantik di pernikahanku bersama Fino. Hanya itu permohonanku Tuhan. Aku berterima kasih pada-Mu karena Engkau telah menganuhgrahkan kepadaku kesabaran dalam penantian. Engkau telah melapangkan hatiku dalam menanti selama 5 tahun. Tuhan, bolehkah aku meminta lagi pada-Mu, aku mohon Tuhan, beri aku sedikit tambahan kesabaran untuk menantinya lagi Tuhan. Aku tak tau dimana dan bagaimana keadaannya, tapi aku percaya Tuhan, Engkau pasti telah menjaganya untukku sebagaimana Engkau menjagaku untuknya. Amin.

          “Rein, makasih untuk pesta ulang tahunku ini.”
“Aku bahagia untukmu Rina.”
“Maafkan aku karena aku tidak pernah bisa membalas perasaanmu.”
“Rina, aku tetap bahagia meski aku tidak denganmu. Aku bahagia pernah mengenal sosokmu. Aku mengagumimu. Aku mengagumi kesabaranmu. Aku mengagumi keyakinanmu. Aku mengagumi caramu.”
“Makasih Rein, kamu teman terbaikku.”
“Fino pasti beruntung memilikimu.”
“Dan aku pun beruntung memiliki Fino.”

          Pagi ini sangat cerah, semalam tidurku nyenyak, mungkin karena aku lega tidak lagi membuat Rein mengharapkanku. Aku mau mulai babak baru dalam hidupku dengan penantian lagi, yang entah sampai kapan.

          “Kamu sudah bangun Rin?. Tadi pagi ada parsel untukmu, ini!.”
“Makasih bu, tapi ini dari siapa ya bu?.”
“Ibu tidak tau, coba buka mungkin nama pengirimnya ada di dalamnya.”
“Iya bu, nanti Rina lihat.”
“Rin, ibu mau menemani ayahmu ke rumah paman.”
“Oke bu.”
          Temui aku cafe nanti sore.
Siapa yang mengirim parsel ini?. Dosnya besar tapi isinya hanya secarik kertas tertulis sebuah kalimat. Tidak ada nama pengirimnya, aneh!.

          @Cafe
Lho kok cafenya sepi. Hanya ada seorang pria. Oh my God, pria itu menatapku, sepertinya ia mengenalku. Dari sinar matanya, aku seperti sudah sangat dekat dengannya. Oh tidak, Fino!.

          “Fino?.”
“Iya, ini aku. Rina, aku datang menepati janjiku, janjiku 5 tahun yang lalu.”
“Fino, aku yakin kamu pasti kembali menepati janjimu. Aku yakin itu!.”
“Rin, makasih untuk kesabaranmu. Makasih kau mau menungguku.”
“Karena aku ingin kita tetap bersama.”
“Kamu ingatkan, cuma ada satu orang untuk satu orang. Itulah cinta.”
“Iya aku ingat, dan kita adalah satu, tidak terpisahkan.”

          Dan inilah akhir sebuah penantian, akhir dari kesabaranku. Aku bahagia, sangat bahagia. Aku percaya Tuhan, apa yang telah di satukan Tuhan, tidak akan terhalang oleh apapun. 5 tahun kami terpisah tanpa kabar tapi lihatlah, hari ini Fino menepati janjinya, aku menjadi pengantin yang paling cantik yang duduk di samping Fino. Aku Rina, gadis bodoh yang telah menukar 5 tahun penantianku dengan kebahagiaan yang selamanya.

Bukan hanya untuk hari ini tapi
Untuk besok dan selamanya
Aku memilihmu sebagai pendampingku
Jika kau tidak bisa menjadi yang terbaik
Maka berusahalah untuk tetap mencintaiku
Selamanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar