“Aku tidak
mencintaimu dengan kata yang bisa berdusta.
Tapi aku
mencintaimu dengan bukti dan rasa.
Aku mendengarmu
tidak dengan telinga yang tidak terdengar bila jauh dengan jarak.
Tapi aku mendengarmu
dengan rasa dalam pejaman mata.
Aku tidak
melihatmu dengan kedua mata ini yang tidak bisa melihatmu yang terhalang sejauh
mata memandang.
Tapi aku melihatmu
dalam ingatan dan kenanganku, dalam doa-doa yang ku lantunkan pada-NYA.
Ya Rabb, jagalah dia selalu untukku.
Bila penjagaanku tak sampai padanya.
Allahumma Amin.”
Rein bilang, aku gadis yang bodoh
karena aku mau menghabiskan waktuku untuk menunggu seseorang yang tak pasti,
yang entah dimana dan bagaimana. Tapi aku yakin, Fino pasti akan menepati
janjinya padaku. Aku yakin.
“Seharusnya
kamu sudah bisa berfikir untuk bisa melupakan Fino. Ingat Rin, hidup itu butuh
yang pasti-pasti.” Kata Rein.
“Tapi aku tidak
bisa melupakan Fino.”
“Kalo kamu tidak
bisa melupakan Fino, setidaknya kamu bisa untuk berhenti mengingatnya.”
“Rein, aku yakin
Fino pasti menepati janjinya.”
“Rin, ini sudah 5
tahun Rin?. Kamu sadar tidak!.”
“Suatu saat nanti
pasti Fino kembali.”
“Kapan?.”
“Aku juga tidak
tau.”
“Kamu bodoh!.”
Fin,
kamu dimana sekarang?. Bagaimana kabarmu?. Apa kau masih ingat aku?. Gadis
polos yang dulu kau bilang special. Fin, apa kamu masih akan bertingkah konyol
seperti dulu ketika bertemuku nanti?. Atau kamu akan bersikap cuek karena ada
gadis lain, seperti kata Rein. Fin, apapun dan bagaimanapun kamu aku
mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu 5 tahun yang lalu, malam ini, besok
pagi, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.
Selamanya.
“Apa
kamu bahagia ketika kamu menunggu yang tak pasti?.”
“Aku tidak tau apa
ini namanya bahagia, aku hanya merasa sakit ketika aku berusaha untuk melupakan
dan aku merasa hampa ketika aku berusaha untuk berhenti mengingat, seperti
katamu. Aku hanya nyaman ketika aku bisa memastikan bahwa aku menunggunya
menepati janjinya.”
“Tapi Rin, 5 tahun
kamu menghabiskan waktu dengan keadaan yang seperti ini?. Apa kamu tidak
kasihan pada hatimu?.”
“Sudah ku bilang,
aku nyaman dengan keadaan ini. Mungkin ini bahagia.”
“Bahagia macam
apa?. Kamu bodoh!.”
“Aku memang bodoh
dan aku mau tetap bodoh. Karena dengan kebodohan aku tidak akan mengerti bahwa
ini tak pasti. Aku mau terus bodoh hingga Fino datang menepati janjinya dan aku
akan bahagia karena aku bodoh.”
Aku mengenal Fino 5 tahun yang lalu
dan di ulang tahunku yang ke-17 itu aku bahagia. Aku bahagia karena aku
mengenal Fino. Setahun kemudian aku resmi menjadi kekasih Fino dan aku semakin
bahagia. Fino sosok pria yang berkepribadian baik, sopan, ramah dan selalu
bertingkah konyol untuk membuatku tertawa ketika aku sedih. Fino mengingatkanku
untuk tersenyum saat aku lupa menikmati hidupku. Fino mengajarkan aku
matematika ketika aku lupa berapa banyak angka yang aku perlukan untuk mengukur
perasaanku pada Fino. Aku bahagia bersama Fino.
Hingga akhirnya, Fino meninggalkanku.
Ia pergi tanpa pesan, aku tidak tau apa yang membuatnya pergi dariku. Tapi aku
ingat, dulu Fino bilang, suatu saat nanti aku akan jadi pengantin wanita yang
paling cantik ketika bersanding dengannya. Suatu saat nanti, entah kapan.
Walaupun Rein menganggapku bodoh, tapi
ini keputusanku. Aku akan menunggu Fino kembali menepati janjinya. Rein fikir
aku tidak bahagia karena aku menunggu sesuatu yang tidak pasti, tapi Rein
salah. Aku bahagia, aku bahagia dengan caraku.
Ini tahun ke-5 sejak kepergian Fino
dari hidupku dan aku masih menunggu. Aku menunggunya setiap waktu, aku
menghubungi nomor ponselnya setiap saat, walau selalu mendapatkan jawaban yang
sama, nomor yang anda tuju tidak dapat di
hubungi. Aku tidak pernah mencoba membuka hatiku sedikitpun untuk yang
lain, yang aku mau Fino. Aku mau Fino dengan segala kekonyolannya. Aku mau Fino
dengan segala kebodohanku. Yang aku mau Fino, tidak lebih dan tidak kurang, aku
hanya mau Fino.
“Tuhan,
aku tidak berharap yang lebih dari dia, aku juga tidak mau yang kurang dari
dia, cukup dia saja Tuhan. Cukup dia, Finoku.”
Hari ini, hari ulang tahunku yang
ke-24. Rein yang menyiapkan pestaku. Aku tidak bersemangat, pesta bagiku tidak
ada artinya, aku hanya butuh Fino di ulang tahunku. Ini bukan sweetseventeen
ketika Fino di sisiku. Ini usia yang seharusnya aku bisa seperti Vera, Rani,
Gina, Tuti dan sederet teman seusiaku yang dengan anggun menjadi ratu sehari
dalam nuansa bahagia. Aku lalu teringat pada ibu yang ingin sekali melihatku
menikah dan pada ayah yang menginginkan cucu dariku, anak tunggalnya.
Saat ini, banyak pria di sekelilingku.
Tapi tidak ada yang bisa menggantikan Fino. Bahkan Rein yang sudah sangat dekat
dengan keluargaku, yang setiap hari menemaniku, juga tidak mampu membuatku
berpaling dari cinta Fino. Aku tau Rein selama ini sudah berusaha semampunya
untuk meyakinkanku, tapi Tuhan, yang aku pinta dalam setiap sujudku adalah
Fino. Aku ingin dia yang menjadi imamku.
5
tahun Tuhan, 5 tahun aku menunggunya. Tanpa kabar, tanpa kepastian apapun.
Haruskah ku ikhlaskan melihat akhir dari penantian ini tidak seperti harapanku.
Tuhan, mungkin Engkau bosan mendengar pintaku, aku ingin menjadi pengantin
paling cantik di pernikahanku bersama Fino. Hanya itu permohonanku Tuhan. Aku
berterima kasih pada-Mu karena Engkau telah menganuhgrahkan kepadaku kesabaran
dalam penantian. Engkau telah melapangkan hatiku dalam menanti selama 5 tahun.
Tuhan, bolehkah aku meminta lagi pada-Mu, aku mohon Tuhan, beri aku sedikit
tambahan kesabaran untuk menantinya lagi Tuhan. Aku tak tau dimana dan
bagaimana keadaannya, tapi aku percaya Tuhan, Engkau pasti telah menjaganya
untukku sebagaimana Engkau menjagaku untuknya. Amin.
“Rein, makasih untuk pesta ulang
tahunku ini.”
“Aku bahagia
untukmu Rina.”
“Maafkan aku
karena aku tidak pernah bisa membalas perasaanmu.”
“Rina, aku tetap
bahagia meski aku tidak denganmu. Aku bahagia pernah mengenal sosokmu. Aku
mengagumimu. Aku mengagumi kesabaranmu. Aku mengagumi keyakinanmu. Aku
mengagumi caramu.”
“Makasih Rein,
kamu teman terbaikku.”
“Fino pasti beruntung
memilikimu.”
“Dan aku pun
beruntung memiliki Fino.”
Pagi ini sangat cerah, semalam tidurku
nyenyak, mungkin karena aku lega tidak lagi membuat Rein mengharapkanku. Aku
mau mulai babak baru dalam hidupku dengan penantian lagi, yang entah sampai kapan.
“Kamu sudah bangun Rin?. Tadi pagi ada
parsel untukmu, ini!.”
“Makasih bu, tapi
ini dari siapa ya bu?.”
“Ibu tidak tau,
coba buka mungkin nama pengirimnya ada di dalamnya.”
“Iya bu, nanti
Rina lihat.”
“Rin, ibu mau
menemani ayahmu ke rumah paman.”
“Oke bu.”
Temui
aku cafe nanti sore.
Siapa yang
mengirim parsel ini?. Dosnya besar tapi isinya hanya secarik kertas tertulis
sebuah kalimat. Tidak ada nama pengirimnya, aneh!.
@Cafe
Lho kok cafenya sepi. Hanya ada seorang pria. Oh my
God, pria itu menatapku, sepertinya ia mengenalku. Dari sinar matanya, aku
seperti sudah sangat dekat dengannya. Oh tidak, Fino!.
“Fino?.”
“Iya, ini aku.
Rina, aku datang menepati janjiku, janjiku 5 tahun yang lalu.”
“Fino, aku yakin
kamu pasti kembali menepati janjimu. Aku yakin itu!.”
“Rin, makasih
untuk kesabaranmu. Makasih kau mau menungguku.”
“Karena aku ingin
kita tetap bersama.”
“Kamu ingatkan,
cuma ada satu orang untuk satu orang. Itulah cinta.”
“Iya aku ingat,
dan kita adalah satu, tidak terpisahkan.”
Dan inilah akhir sebuah penantian,
akhir dari kesabaranku. Aku bahagia, sangat bahagia. Aku percaya Tuhan, apa
yang telah di satukan Tuhan, tidak akan terhalang oleh apapun. 5 tahun kami
terpisah tanpa kabar tapi lihatlah, hari ini Fino menepati janjinya, aku menjadi
pengantin yang paling cantik yang duduk di samping Fino. Aku Rina, gadis bodoh
yang telah menukar 5 tahun penantianku dengan kebahagiaan yang selamanya.
Bukan hanya untuk hari ini tapi
Untuk besok dan selamanya
Aku memilihmu sebagai pendampingku
Jika kau tidak bisa menjadi yang terbaik
Maka berusahalah untuk tetap mencintaiku
Selamanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar