Malam
yang sangat sepi, sesepi hati gadis cantik pemilik nama lengkap Aliza
Ambarwati, adik seorang Dokter terkemuka, Aisyah Herawati.
Aku
gak nyangka semua ini menimpa aku!. Kenapa sich Randi gak pernah ngerti
perasaan aku?. Dia bilang akan menemani dan menjagaku selamanya, katanya hanya
aku yang ada di hatinya. Tapi kenapa ia malah berpacaran dengan Cindy, sahabat
aku sendiri?. Kalau emang Randi mau ngancurin aku, kenapa harus Cindy yang jadi
penghancur hati aku?. Kenapa gak orang lain saja?. Cindy itu sahabat aku. Batin
Aliza.
“Liz,
sudah dong!. Kamu gak sayang yach sama diri kamu?. Kenapa kamu harus nangis
hanya karena cintanya Randi?. Kamu itu cantik, mapan, keren, kurang apalagi
coba?. Kamu itu bisa dapat cowok yang lebih segalanya dari Randi.” Hibur
Aisyah, kakaknya Aliza.
“Tapi
kakak ‘kan tau, Randi itu cinta pertama Liza. Liza itu sayang sama Randi, hanya
Randi!.” Respon Aliza.
“Ya,
hanya Randi, tapi kamu juga kayak gini karena Randi ‘kan?. Kamu nangis hanya
karena laki-laki brengsek itu!.” Tegas Aisyah.
“Sudah
cukup kak, jangan menjelek-jelekan Randi lagi di depan Liza!.”
“Liz,
dengarin kakak. Kakak itu sayang banget sama kamu, kakak gak mau lihat kamu
begini terus.” Pinta Aisyah.
Besoknya, ketika matahari terbit,
Aisyah membantu bik Sitti menyiapkan sarapan. Ia berharap hari yang cerah ini
bisa mencerahkan hati adiknya. Semoga
pagi ini Liza sudah lebih baikan. Batinnya.
“Liz,
Liza?. Kamu gak kuliah?. Yuk sarapan, kakak buatkan sarapan kesukaanmu lho?.”
Sapa Aisyah sambil menggedor pintu kamar Aliza.
“Ya
kak!.”
Maklumlah mereka hanya berdua, Aisyah
dan Aliza. Orang tua mereka bekerja dan menetap di Perancis. Ayahnya,
Hermawanto Kusuma adalah seorang direktur sebuah perusahaan terkemuka di
Perancis. Ibunya, Endang Indah Susiuliswaty adalah pemilik sepuluh butik mewah
di Perancis.
Aisyah Herawati setelah menamatkan
study kedokterannya di sebuah Univercity di California, ia memilih untuk
mengabdi di Negara berkembang, yaitu Negara kelahiran orang tuanya, Indonesia.
Ia pun sukses, ia memiliki sebuah
rumah mewah dengan fasilitas yang tak kalah mewahnya. Di rumah mewahnya itu, ia
tinggal bersama adiknya Aliza Ambarwati yang kini sedang kuliah jurusan Hukum
di sebuah universitas bergengsi di kota itu.
Selain itu, Aisyah dan Aliza di temani
seorang pembantu bernama Bik Sitti, seorang satpam (Pak Budi), seorang sopir
pribadi (Pak Yusuf), dan seorang tukang kebun (Pak Ahmad).
Di bagasi terpajang, beberapa mobil
mewah dengan warna dan merek yang bergengsi. Terkadang Aisyah maupun Aliza
jenuh dengan semua yang mereka miliki. Terkadang Pak Hermawan dan Bu Endang
berkunjung ke rumah mereka.
Sedangkan Randi adalah teman SMA
sekaligus cinta pertama Aliza. Mereka bertemu di California, ketika masih SMA,
saat itu Randi menjadi peserta olimpiade yang di adakan di sekolahan Aliza.
Mereka lalu menjalin hubungan khusus hingga kini.
Sedangkan Cindy adalah sahabat Aliza,
sekampus hanya beda jurusan. Cindylah yang dulu memperkenalkan Aliza pada
budaya Indonesia. Meski Aliza asli orang Indonesia, namun ia kelamaan tinggal
di California.
Tapi entah mengapa bisa begini?. Cindy
yang merebut Randi?. Ataukah Randi yang menginginkan Cindy?. Entahlah, yang pasti
hal ini membuat Aliza terpukul.
Aliza menghentikan mobil mewahnya di
parkiran kampus, lalu ia berjalan menuju perpustakaan.
“Liz,
Liza, Aliza, tunggu?.” Seru Cindy.
“Uh,
dasar cewek rese!. Apa sich maunya?.” Omel Aliza menghentikan langkah kakinya
dengan penuh kekesalan.
“Liz,
Randi kecelakaan semalam, ia koma di rumah sakit. Ia terus manggil nama kamu.
Kata dokter, harapannya tipis.” Jelas Cindy.
“Ngapain
ngasih tau aku?. Penting yach?.”
“Liz,
loe itu…??”
“Okkeyy,
apa yang kamu mau dari aku?. Bukannya kamu pacarnya?.”
“Liz,
sekalipun aku pacarnya, tapi aku gak bisa apa-apa saat ini. Yang Randi butuhkan
sekarang itu kamu, bukan aku. Lagian, bukannya kamu cinta sama Randi?.”
“Ya,
aku memang amat sangat mencintai Randi, tapi saat ini ‘kan aku bukan apa-apanya
Randi!. Dan bukannya kamu ngelarang aku dekatin Randi?.”
“Iya,
memang aku ngelarang. Tapi sekarang keadaannya darurat!. Please, buat Randi,
tolong bantu aku?.”
“Peduli
amat, aku gak ada waktu untuk hal-hal yang gak penting!.”
“Fine,
asal kamu tau, kalau bukan karena kondisi Randi yang lagi sekarat, aku juga gak
bakal mohon-mohon sama kamu, gak level. Dan kalau kamu berubah pikiran, datang
saja di RS Pelita, Randi membutuhkanmu!.”
Sepulang kuliah,
“Liz,
Liza, Aliza, tunggu!.” Seru Reni, sahabat Aliza.
“Ada
apa?.”
“Kamu
tuch kenapa sich?. Gak biasanya kamu kayak gini?.” Comel Reni.
“Gak
ada apa-apa, baik-baik saja kok!.”
“Akh,
bohong kamu!. Aku tuch kenal kamu lagi Liz, jangan bohong dech?.”
Karena di desak terus oleh Reni, Aliza
lalu menceritakan semua kegundahannya pada sahabatnya ini.
“Kalau
menurut aku sich, kamu temui saja Randi!. Solidaritaslah, anggap saja amal!.
Lagian kamu pasti gak mau ‘kan ngeliat Randi mati sia-sia?. Urusan Cindy,
belakangan saja dech!.” Saran Reni.
Aliza menyetir mobil sambil terus
berfikir, apa yang di katakana Reni tadi, ada benarnya juga. Aliza pun memutar
balik mobilnya, menuju arah RS Pelita, ia akan menemui Randi dan si Nenek Sihir
(Cindy).
Sesampainya di RS Pelita,
“Aku
yakin, kamu pasti datang!.” Kata Cindy menyambutnya.
“Aku
ke sini untuk Randi, bukan untuk kamu!.”
“Dok, gimana keadaan Randi?.” Tanya Aliza.
“Harapannya
tipis, banyak berdoa saja, semoga ada mujizat.” Kata Dokter.
“Boleh
saya masuk menjenguknya?.” Tanya Aliza lagi.
“Silahkan.”
Dokter mempersilahkan.
“Randi!.” Seru Aliza yang syok melihat
kondisi Randi, ia sekarat tapi bibirnya masih mampu mengucap satu nama,
‘Aliza’.
“Iya
Ran, aku di sini, aku di samping kamu!. Ran, tolong demi aku, bertahanlah.
Jangan pernah tinggalin aku, karena aku mencintaimu. Aku hanya mencintaimu.”
Bisik Aliza lirih di telinga Randi.
Aliza memeluk Randi yang sedang lemah.
Cinta Aliza memang selalu menyempurnakan kekurangan Randi. Seperti sekarang
ini, cinta Aliza telah menguatkan kelemahan Randi.
Cinta Aliza juga yang mengundang
mujizat itu menjadi nyata, jemari Randi bergerak.
“Ran,
Randi?.” Isak Aliza.
“Aliza,
ak.. aku… cin… cinta sama ka.. kamu.. Tolong jangan.. ting… tinggalin aku…
karena aku butuh ka… kamu… Ha.. hanya kamu, Aliza, aku mohon?.” Ucap Randi
terbata-bata.
“Iya,
maafin aku.” Jawab Aliza.
“Ran,
kamu sudah sadar?. Dok, dokter?.” Teriak Cindy.
Setelah Dokter memeriksa keadaan
Randi, Dokter lalu berkata bahwa ini adalah sebuah mujizat, luar biasa.
“Tapi
ia masih perlu beristirahat.” Saran Dokter sambil berlalu.
Cindy menatap tajam kea rah Aliza.
“Ran,
kamu sudah sadar, aku pulang dulu yach?. Aku tidak mau mengganggu hubungan
kalian.” Pamit Aliza yang mengerti arti tatapan Cindy yang tak lagi
menginginkan keberadaannya.
“Jangan
Liz, aku butuh kamu!.” Cegah Randi.
“Hm
sayang, mungkin Aliza sibuk, biar saja ia pergi. ‘Kan masih ada aku, pacar
kamu, yang akan ngejagain kamu di sini?. Liz, biar aku antar kamu ke depan?.”
Tanya Cindy, tapi Aliza tak menjawabnya.
“Liz,
tak keberatan ‘kan aku antar sampai depan?.” Tanya Cindy lagi.
“Ohw,
eng, gak kok.” Jawab Aliza.
“Ya
sudah, yuk?.”
“Thanks yach, kamu sudah bantuin aku. Sekarang
tugas kamu sudah selesai, sana pergi yang jauh. Dan ingat, jangan pernah balik
lagi di kehidupan aku dan Randi!.” Ketus Cindy.
Aliza hanya diam, ia memilih tak menjawab. Aliza
hanya tersenyum dan bergegas meninggalkan Cindy yang di buat bingung
mengartikan senyum Aliza tersebut.
2 bulan berlalu,
“Liz,
bentar kita jadi ke Mall ‘kan?.” Tanya Reni heboh.
“Yaiyalah.
Eh kamu tau gak, ada diskon lho di Salon baru dekat Mall cempaka, ntar kita
singgah yach?.” Jawab Aliza tak kalah hebohnya.
“Liza,
aku mau ngomong!.” Pinta Cindy yang datang tiba-tiba.
“Kayak
Nenek Sihir saja kamu, datang tiba-tiba. Ehw salah, maksud aku jelangkung,
datang tak di undang, perginya perlu aku usir!.” Comel Reni.
“Ehw,
aku tuch gak ada urusan sama kamu yach.” Bantah Cindy.
“Sudahlah,
maaf aku gak ada waktu. Aku sibuk!.” Ketus Aliza.
“Liz,
aku cuma mau ngasih tau kamu kalau Randi itu gak mau minum obat sebelum ketemu
kamu. Please, temui Randi?.” Pinta Cindy.
“Hello?.
Itu sich urusan kamu!. Kamu ‘kan yang nyuruh Liza pergi yang jauh dari
kehidupan kamu dan Randi, urusin saja yayang kamu yang gj itu buat kita.” Umpat
Reni.
“Sudahlah,
gak penting.” Ucap Aliza menahan tawa atas perkataan Reni.
“Kamu
itu?.” Emosi Cindy.
“Mau
kamu apa sich Cin?.” Tanya Aliza.
“Mau
aku, kamu temui Randi.” Jawab Cindy.
“Tapi
aku ada janji sama Reni!.” Bantah Aliza.
“Ini
lebih penting, atau kamu mau terjadi sesuatu sama Randi?.” Ancam Cindy.
“Aku
rasa, temui saja Randi. Kita ‘kan bisa ke Mall lain waktu.” Saran Reni.
“Baguslah,
loe nyadar!.” Umpat Cindy.
“Dasar
Nenek Sihir!.” Balas Reni.
“Okey,
aku temui Randi!. Puas kamu?.”
“Hm.”
Aliza lalu menuju RS Pelita, menemui
Randi.
“Liz,
aku mencintai kamu. Aku kangen sama kamu, aku sayang kamu, aku pengen ngabisin
sisa umur aku sama kamu?.” Pinta Randi.
“Ran,
kamu apa-apaan sich?. Kamu jangan ngerendahin diri kamu di hadapan cewek
murahan ini dong!. Ingat Ran, aku pacar kamu!. Kamu juga Liz, dasar cewek
murahan, perek!.” Hina Cindy.
“Tutup
mulut kamu Cin!. Aku sama kamu hanya karena utang orang tuaku. Tapi aku janji
akan ngelunasin semuanya!. Dan asal kamu tau, cinta aku adalah Aliza, karena
Aliza yang lebih dulu hadir dalam hidup aku. Dan hanya Aliza yang mampu mengisi
kekosongan hati aku!.” Tegas Randi.
“Ran,
kamu harus milih, aku atau perempuan murahan ini?.” Tanya Cindy.
“Jangan
sebut Aliza begitu, Aliza bukan perempuan murahan!.”
“Emang
gitu kok, Liza memang murahan!.”
“Kamu
itu yang murahan!.”
Aliza cape’ mendengar perdebatan
mereka, Aliza jadi tau sekarang bahwa Randi bersama Cindy karena?. Hm, Aliza
berjalan keluar ruangan perawatan itu, namun Randi lalu melompat dari tempat
tidurnya, dan ia berlutut di hadapan Aliza.
“Randi?.”
Seru Cindy yang tidak percaya dengan adegan di depannya.
“Jangan
pergi lagi!. Apalah arti hidup aku tanpa kamu?. Aku mencintai kamu melebihi
diri aku sendiri. Percayalah.” Kata Randi.
“Ran,
apa kamu gak nyesal lebih milih cewek rese itu daripada aku?.” Tanya Cindy
lagi.
“Diam!.
Aku gak ngomong sama kamu!. Dengar yach, aku milih Aliza Ambarwati, dan bukan
kamu!.” Bentak Randi.
Cindy lalu pergi meninggalkan ruangan
itu dengan penuh kekesalan.
Beberapa bulan kemudian,
“Kak,
aku pergi dulu yach?.” Pamit Aliza pada Aisyah.
“Iya
Liz, kakak senang akhirnya kamu mendapatkan kebahagiaan juga!.”
“Thanks
yach Kak!.” Aliza mencium pipi kakaknya, dan keluar menemui Randi yang telah
menunggunya.
Aliza dan Randi duduk di bangku taman,
“Aku
sadar, hanya kamu yang aku butuhkan, dank arena kamu, aku tau makna cinta yang
sesungguhnya.” Kata Randi.
“Iya,
hanya kamu yang ada di hati ku, dan karena kamu aku bahagia.”
“Hanya
kamu.” Bisik Randi.
“Karena
kamu.” Balas Aliza.
Tiba-tiba Cindy muncul di antara
mereka,
“Liz,
maafin aku yach?. Aku sadar, tidak seharusnya aku seperti itu, kamu sahabatku.
Liz, maafin aku?. Seharusnya ini gak terjadi, meski aku tau, kamu….?.” jelas
Cindy meminta maaf.
“Sudahlah
Cin, sebelum kamu minta maaf, aku sudah maafin kamu kok!.”
“Kita
tetap sahabatan ‘kan?.”
“Pasti
dong Cin, gak usah ragu gitu!. Kamu tetap sahabat terbaikku!.”
Setelah mereka berbincang-bincang
sejenak, Cindy pun meninggalkan Aliza bersama Randi.
“Liz,
kamu tau, hanya kamu yang ada di hatiku, dari dulu, saat ini, dan sampai nanti,
untuk selamanya.” Kata Randi.
“Ran,
karena kamu aku nangis, dan juga karena kamu aku bahagia.” Balas Aliza tulus.
“Hanya
kamu, kar’na kamu..”
Mereka terdiam, membiarkan cinta
mengalir dengan derasnya di hati dua sejoli ini. Tanpa mereka sadari, Aisyah
dan Reni yang menyaksikan betapa cinta mampu membebaskan Aliza dari
keterpurukan juga ikut berbahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar