Imelda Riasnawathy, gadis
cantik inilah yang akan menjadi tokoh utama kita kali ini. Imelda atau akrabnya
di sapa Imel adalah sosok wanita ceria. Hatinya tertakhlukan oleh sosok Reno
Saputra. Imelda begitu bahagia bersama Reno, lelaki yang memacarinya dalam
hitungan tahun.
Hingga suatu hari tragedy itu terjadi, sebuah tragedy
tragis yang merenggut Reno dari Imel selama-lamanya. Saat itu, Imel mengajak
Reno menemaninya mengunjungi sebuah salon yang baru di buka di Kasa Mall.
Ketika hendak menyeberang jalan, sebuah truk dengan kecepatan tinggi menuju ke
arah Imel, Reno lalu menyelamatkannya. Reno mendorong Imel, dan akhirnya
Renolah yang terkena kecelakaan maut tersebut. Jiwa Imel terguncang.
Imel begitu terpukul, bahkan sampai sekarang telah genap 4
tahun kepergian Reno menghadap sang Khalik, Imel masih sendiri. Ren, sebegitu hebatkan cintamu yang telah
menakhlukan cintaku hingga aku merasa hanya mencintai kamu. Walau kamu sudah
gak ada dan gak akan pernah ada, tapi cintaku telah tertakhlukan oleh sosokmu.
Aku mencintaimu Ren, entah sampai kapan. Mungkin hanya kau yang tau, mengapa
sampai saat ini ku masih sendiri. Batin Imel sambil mengusap air matanya
untuk kesekian kali. Cinta Reno pada Imel terlalu luar biasa untuk di pungkiri.
Suatu ketika terjadi pertukaran karyawan antarperusahaan,
seorang karyawan dari Deutschland bertugas di perusahaan milik Ayahanda Imelda.
Nama karyawan itu Faiz. Rupa dan wajah Faiz sangat mirip seperti Reno. Membuat
semua orang kaget, terlebih Imel.
“Reno?.” Seru Imel dan
langsung berlari memeluk Faiz yang sedang berjalan menuju ruang kerja barunya
di perusahaan milik Ayahanda Imelda tersebut.
“Reno, kamu kemana saja
selama ini?. Aku kangen kamu, cintaku telah tertakhlukan oleh sosokmu Ren. Aku
ingin cinta itu tidak terhempas, jangan pergi lagi Ren.” Lanjut Imel membuat
Faiz semakin bingung.
“Mel, dia bukan Reno.
Reno sudah gak ada, dia itu Faiz, karyawan baru.” Jelas Winda, sahabat Imel.
“Gak!. Dia Reno, bukan
Faiz!. Kamu sama saja dengan Kak Aryo, kalian memang gak suka ‘kan ngeliat aku
bahagia sama Reno. Kalian jahat!.” Bantah Imel melepas pelukannya.
“Mending kamu ke ruangan
Pak Aryo, kamu sudah di tunggunya. Maafkan temanku.” Ucap Winda pada Faiz
sambil menenangkan Imel.
“Pak Aryo?.” Tanya Faiz ketika memasuki ruangan atasannya
dan kaget dengan orang yang di sapanya dengan sebutan ‘pak’ ternyata masih
sangat muda dan sepertinya juga belum berkeluarga.
“Iya, silahkan duduk
Faiz, selamat bergabung di perusahaan ini!.” Jawab Aryo menyambutnya.
“Iya, terima kasih pak.
Saya tadi berfikir saya salah masuk ruangan, anda masih sangat muda, dan belum,
eh maksud saya tidak cocok di panggil bapak.” Kata Faiz.
“Ya, mungkin saya
seumuran kamu. Lagian hanya di kantor saja, saya di panggil bapak.” Jelas Aryo.
“Maaf Pak, kalau saya
boleh tau, kinerja kerja perusahaan seperti apa?. Sekali lagi maaf, tadi saat
saya hendak kemari, seorang karyawati bapak memeluk saya sambil histeris dan
memanggil saya Reno, dia memperlakukan saya seperti kekasihnya, entah apa
maksudnya.” Tanya Faiz.
“Imelda Riasnawathy alias
Imel maksud kamu?.” Aryo balik bertanya dengan santai.
“Iya pak, maaf
sebelumnya.” Jawab Faiz sopan.
“Imel itu bukan
karyawati, dia adik kandung saya. Imel sebenarnya adalah pribadi yang ceria,
tapi sejak kekasihnya empat tahun lalu meninggal karena kecelakaan, di jadi
pemurung dan sering histeris. Dia menutup hatinya dari semua lelaki karena
baginya hanya sosok kekasihnya yang bernama Reno, yang mampu menakhlukan
cintanya. Saya dan keluarga saya sudah frustasi menghadapinya. Kami bolak-balik
ke psikolog, tak juga ada hasilnya. Dan jujur, rupa kamu persis seperti Reno,
pantaslah adik saya histeris ketika melihat kamu tadi.” Jelas Aryo dengan nada
sedih.
“Maaf pak, saya telah membuat
anda risih.” Respon Faiz merasa bersalah menanyakan hal itu.
“Gak apa, lho kok kita
malah curhat-curhatan?. Sebenarnya saya memanggil kamu ke sini karena saya
ingin menyerahkan berkas-berkas yang harus kamu selesaikan dalam minggu ini. Oh
ya, soal adik saya, Imel, kalau kamu bisa membantunya, bantulah dia. Karena
kamu mirip Reno, mungkin saja adik saya bisa berubah jadi semangat dan ceria
lagi kayak dulu ketika mengenalmu yang persis seperti kekasihnya.” Jelas Aryo
lagi, kali ini Faiz hanya bisa tersenyum.
Faiz merasa simpati dengan Imel, hanya saja ia masih kurang
yakin. Seorang Imelda Riasnawathy gadis yang sangat cantik, kaya, sexy, punya
segalanya, kenapa hatinya gak bisa berlabuh di pelabuhan cinta lain?. Kenapa
hanya pada Reno Saputra saja?.
Hari-hari Faiz berubah sejak saat itu, setiap saat kerjaan
kantornya di hambat oleh Imel. Imel yang mengiranya adalah Reno, menyemprotnya
dengan berbagai pertanyaan aneh dan memanggilnya dengan nama ‘Reno’. Kata-kata
yang paling sering Imel ucapkan pada Faiz adalah :
“Ren, temanin aku lunch, setelah
itu kita ke Mall, mau ya Ren?.” Atau :
“Ren, bilang dong kalau
kamu cinta sama aku, kamu sayang sama aku. Aku kangen kamu, Ren?.”
Mel, please dech, aku
ini Faiz, bukan Reno. Aku Faiz!. Batin Faiz.
Seiring dengan apa yang terjadi di antara mereka, Faiz yang
harus berpura-pura menjadi Reno atas permintaan Aryo untuk menjaga perasaan
Imel. Faiz mulai merasakan apa yang selama ini enggan dia rasakan. Faiz
merasakan getaran cinta di setiap saat bersama Imel. Faiz merasa tidak pantas
untuk Imel, tapi hati tidak bisa di cegah. Cinta itu tumbuh dari kebersamaan.
Imel, laki-laki
manapun tidak akan mampu menolak pesonamu. Tapi Mel, aku mau kamu bisa untuk
mencintai aku sebagai Faiz,cintai aku apa adanya, jangan hanya karena aku mirip
Reno. Aku pun gak pernah kenal sama yang namanya Reno, tapi aku yakin, Reno
pasti orangnya sangat baik, sehingga kepergiannya begitu menyakitimu. Reno
lelaki yang beruntung karena memiliki cintamu. Mel, jujur aku mulai merasa, aku
jatuh cinta padamu. Tapi aku begitu takut karena aku tak seperti Reno. Aku
bukan Reno, sekalipun rupaku sama dengan Reno. Aku hanya bisa berharap Tuhan
mau membukakan pintu hatimu agar kau dapat menerima dan mencintaiku sebagai
Faiz. Aku mencintaimu Mel, sungguh!. Aku ingin membahagiakanmu seumur hidupku.
Selamanya. Batin Faiz.
Sedangkan di tempat berbeda, di sebuah kamar mewah milik
adik Aryo, Imelda Riasnawathy sedang memeluk bingkai foto sang kekasih
tercinta, Reno. Sambil membatin. Tuhan,
terima kasih!. Engkau telah mendengar doaku, Engkau telah mengembalikan Reno
padaku. Reno laki-laki yang paling aku cinta, yang telah menakhlukanku. Ren,
cintaku telah tertakhlukan oleh sosokmu. Reno, aku senang kita bisa kayak dulu
lagi. Aku gak percaya yang di bilang sama Winda dan Kak Aryo, aku tau kok, nama
kamu Reno, bukan Faiz!.
“Pak Aryo, maaf saya mau bicara tentang Imelda. Saya gak
mau lagi berpura-pura menjadi Reno. Karena itu akan menyakiti Imel, juga
perasaan saya.” Kata Faiz.
“Faiz, apa kamu jatuh
cinta pada adik saya?.” Tanya Aryo menatap lekat Faiz.
“Ya pak, tapi saya sadar,
saya tidak pantas untuk Imel. Saya ada di sini untuk bekerja, bukan untuk hal
lain. Maaf pak, saya tidak sanggup terus begini.” Jawab Faiz tegas.
“Faiz, kalau kamu sungguh
tulus mencintai adik saya, berusahalah untuk mendapatkannya. Gapailah cintamu,
saya merestui hubungan kalian. Buatlah adik saya bahagia, Faiz saya titip Imel
untuk kamu cintai.” Restu Aryo sambil tersenyum ramah pada Faiz.
“Terima kasih, pak. Insya
Allah, kalau Imelda jodoh saya, saya akan mencintai dia lillahita’allah.”
Faiz lalu mencari Imel. Ternyata Imel sedang asyik ngobrol
dengan Winda, Faiz mengajak Imel ke taman. Awalnya Imel menolak karena sedang
seru ngobrolnya sama Winda, tapi dengan sedikit rayuan, dengan senang hati Imel
menerima ajakan Faiz. Winda hanya tersenyum.
Mereka menuju taman, tanpa mereka sadari Aryo dan Winda
mengikuti mereka.
“Ren, tempatnya bagus
banget.” Puji Imel pada Faiz.
“Mel, aku ini Faiz bukan
Reno!.” Tegas Faiz.
“Ren, kamu apa-apaan
ngomong gitu. Jangan becanda!.”
“Mel, please aku gak
becanda. Selama ini tanpa kamu sadari tiap kali kamu manggil aku Reno, kamu gak
pernah tau kalau aku sakit tiap kamu manggil aku dengan nama itu. Tapi aku
bertahan karena aku mencintai kamu, aku ingin kamu juga mencintai aku sebagai
Faiz, jangan hanya karena aku mirip Reno. Aku tulus, Mel. Aku cinta kamu.”
Jelas Faiz sambil menggenggam tangan Imel erat.
“Tapi cintaku telah
tertakhlukan oleh sosok Reno!. Aku mencintai Reno, bukan Faiz.”
“Mel, coba tolong lihat
ketulusan dan kesungguhan cinta aku?. Walau kamu gak pernah mengatakan hal itu,
tapi aku yakin cinta aku telah menakhlukan hatimu, Imelda!.” Lanjut Faiz.
“Hm (Imelda menangis).
Maafin aku, selama ini aku buta. Seharusnya aku sadar kalau Reno memang sudah
gak ada. Dan cintaku telah tertakhlukan oleh sosok seorang Faiz. Faiz, maafin
aku, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Dan kini aku berani untuk
mengakuinya, bahwa cintaku telah tertakhlukan olehmu, Faiz!.” Jawab Imel jujur
di iringi air mata.
“Mel, aku juga cinta dan
sayang sama kamu. Aku ingin membuka lembaran baru bersamamu. Dan aku yakin Mel,
Reno pasti sudah tenang dan lega melihatmu bisa mengikhlaskan kepergiannya.
Reno tersenyum bahagia di surge melihat kita.”
“Iya, buat Reno, selamat
jalan kekasihku. Doaku menyertaimu dan cintaku untuk Reno akan tetap abadi di
hatiku. Tapi kini aku sudah menemukan cinta lain, orang yang mampu menakhlukan
hatiku, aku harap kamu merestuinya, Ren.”
“Mel, maukah kau menjadi
istriku?.” Lamar Faiz.
“Iya, tapi dengan satu
syarat.” Jawab Imel mengajukan persyaratan.
“Apa?. Apapun syarat itu
aku sanggupi!.”
“Jangan pernah minta aku
lupain Reno selamanya.”
“Iya, aku janji.”
“Lalu, tunggu apalagi?.”
“Maksud kamu?.”
Imelda memilih tak menjawab dan langsung memeluk Faiz.
Mereka berbahagia. Di kejahuan, nampaknya benih-benih cinta juga
mulai di rasakan Aryo dan Winda. Wow!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar