Hari yang cerah, awan
menyelimuti hati dua pengantin baru yang usai mengikrarkan janji suci, cinta
sejati, sehidup semati. Dua sejoli itu bernama Sanjaya dan Melany. Mereka
berbahagia, walau pernikahan itu tanpa restu dari Ibunda Sanjaya, Ny. Aida
Koesniawathy.
Ibunda Sanjaya, sebenarnya ingin Sanjaya menikah dengan
Kirana. Karena Kirana berasal dari keluarga kaya dan terhormat, sederajat
dengan keluarga Sanjaya yang memiliki andil dan jabatan di masyarakat.
Sanjaya adalah anak tunggal, ayahnya meninggal sejak
Sanjaya menginjak bangku SMP. Sejak itu Ibundanya mendidik Sanjaya dengan
keras. Sang Ibu menginginkan Sanjaya menikahi Kirana karena Ayahanda Kirana
telah menginvestasikan kekayaannya untuk perusahaan milik Almarhum Tn.
Ferdiansyah, ayah Sanjaya.
Namun sekalipun Kirana mencintai dan amat sangat
menginginkan Sanjaya, sedikit pun Sanjaya tidak mempunyai perasaan apa-apa pada
Kirana. Sanjaya justrur mencintai seorang gadis yang berasal dari keluarga
sederhana, yaitu Melany.
Akhirnya Sanjaya nekad menikahi Melany tanpa restu dari
ibundanya, Ny. Aida Koesniawathy. Tapi sang Ibunda tetap meminta Sanjaya untuk
tinggal bersamanya, walau sedikit keberatan jika Melany juga ikut serta. Tapi
apa boleh buat, gadis yang sangat di bencinya, kini resmi menjadi istri
anaknya. Mau tak mau, Melany tetaplah berstatus istri sah Sanjaya. Meski
begitu, Melany tetap menghargai mertuanya, Ny. Aida Koesniawathy.
Tujuan Ny. Aida memohon pada Sanjaya agar ia mau tetap
tinggal bersama Melany di rumah Ny. Aida adalah karena Ny. Aida dan Kirana
telah membuat kesepakatan akan menyiksa Melany dan membuatnya tidak betah
tinggal di rumah. Lalu keluar dan menceraikan Sanjaya. Dengan begitu Sanjaya
akan di buat menikahi Kirana secepatnya.
Hingga suatu hari, Sanjaya di haruskan meeting untuk
keperluan proyek di luar kota. Sanjaya tidak dapat membawa serta Melany, karena
kondisi di sana tidak memungkinkan jika sang istri ikut. Setelah perdebatan
yang cukup panjang, Melany mau juga di tinggal sebentar.
Ketika Sanjaya telah pergi, dengan bantuan Kirana, Ny. Aida
pun mengusir menantunya sendiri dari rumah. Melany yang tak berdaya pun keluar,
ia takut pulang ke rumah orang tuanya. Karena orang tuanya pernah mendapat
cacian dan makian dari Ny. Aida. Apa kata orang tuanya jika tau apa yang
sebenarnya terjadi pada istri Sanjaya ini.
Melany pun berjalan tanpa arah dan tujuan, sebenarnya
Melany sedang hamil muda, tapi ia sendiri tak menyadari itu. Melany mulai
pusing dan mual, hingga akhirnya Melany pun pingsan dan jatuh dari atas
jembatan, hanyut terbawa arus di sungai yang deras.
Di sebuah pedesaan yang tentram dan damai, seorang janda
bernama mbok Ati yang hidup sebatang kara, hendak pergi mencuci di sungai.
Janda itu menemukan sosok seorang gadis yang masih bernyawa. Dengan bantuan
beberapa warga desa, gadis itu di bopong menuju rumah mbok Ati. Gadis itu dalam
keadaan pingsan.
“Sanjaya?!.”
Seru Melany tersadar dari pingsannya.
“Alhamdulillah, syukurlah
neng sudah sadar. Neng tadi hanyut di sungai, sebenarnya neng ini siapa?.
Asalnya darimana?. Kok bisa hanyut di sungai?.” Tanya mbok Ati.
“Saya dimana?.” Tanya
Melany.
“Neng di rumah saya.”
Jawab mbok Ati.
“Mbok yang nolong saya
ya?. Makasih mbok, nama saya Melany. Saya di usir mertua saya, saya gak tau
harus kemana, lalu tiba-tiba saya pusing. Saya tidak ingat apa-apa lagi.
Setelah itu, tiba-tiba saja saya ada di sini bersama mbok.” Cerita Melany.
“Kasian sekali kamu. Nama
kamu Melany, biar mbok panggil Any saja ya, biar lebih akrab. Mbok ini janda
tua tanpa anak, mbok tinggal sendiri, hidup sebatang kara. Kamu boleh tinggal
di sini sama mbok, kalau kamu mau. Dan tidak keberatan dengan keadaan mbok yang
seperti ini.”
“Iya gak apa, maafkan
saya sudah merepotkan. Makasih mbok.”
Melany pun akhirnya tinggal bersama mbok Ati. Melany sangat
rajin bekerja, mbok Ati senang. Mbok Ati sering bawel ketika Melany belum
istirahat. Mbok Ati selalu menasehati Melany supaya menjaga kandungannya dengan
baik.
Akhirnya di akhir pekan, Sanjaya pun pulang. Ketika
memasuki kamar, Sanjaya kaget, bukannya Melany yang sedang tidur di ranjang,
melainkan Kirana. Ny. Aida mengarang cerita bahwa Melany mencuri kalung
berliannya dan kabur dari rumah. Kirana pun dengan penampilan sexynya merayu
Sanjaya untuk tidak mencari Melany dan segera menikahinya. Tapi semua itu tidak
menggoyahkan cinta Sanjaya pada Melany, istrinya.
Tuhan, lindungi
istriku. Melany, kamu dimana sayang?. Mengapa kamu pergi ninggalin aku?. Apa
kamu baik-baik saja sekarang?. Batin Sanjaya.
Pak Rahan, tukang kebun Sanjaya pun menceritakan kejadian
yang sebenarnya pada Sanjaya. Sanjaya sangat marah pada ibunya. Sanjaya pergi
dari rumah mencari Melany.
Kirana pun sadar, ia merasa dirinya sangat hina karena
terkesan seakan mengemis cinta Sanjaya. Kirana memutuskan untuk menghentikan
permainan ini, ia mengakui cinta Sanjaya pada Melany terlalu kuat. Meski ibunda
Sanjaya berpihak padanya, tapi percuma jika hati Sanjaya tidak pernah berpihak
padanya. Kirana mundur.
Ny. Aida pun mengerti perasaan cinta anaknya pada Melany.
Ny. Aida malu dan merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya selama ini
pada menantunya. Tak sepantasnya kesetiaan Melany pada Sanjaya dib alas dengan
penghinaan. Ny. Aida menangisi kekhilafannya yang telah menghancurkan
kebahagiaan anaknya. Kini Ny. Aida mengakui bahwa Melany-lah sumber kebahagiaan
dan masa depan Sanjaya.
Sanjaya mencari Melany di rumah orang tua Melany, di rumah
Winto, Nisa, Dodi dan Minah, juga sahabat-sahabat Melany lainnya. Namun jawaban
tetap sama, mereka semua tidak tau dimana Melany berada. Mereka malah
menyalahkan Sanjaya.
Akhirnya, Sanjaya mencari Melany di desa-desa dan pelosok
daerah lainnya. Ketika Sanjaya tersesat, ia bertemu dengan seorang wanita tua
bernama mbok Ati.
“Apa masih ada lorong di
daerah sana mbok?.” Tanya Sanjaya sambil menunjuk ke arah kanan.
“Tidak nak, itu jalan
buntu. Sepertinya kamu tersesat nak, kamu jalan lurus saja, nanti ada pertigaan
belok kiri, di situ ada pos ronda. Ya sudah nak, kapan-kapan mampir ke rumah
mbok. Mbok hanya tinggal berdua sama anak angkat mbok, namanya Any.” Jawab Mbok
Ati.
“Iya, makasih mbok.”
Setelah sepekan berputar-putar mencari Melany di desa itu,
Sanjaya memutuskan untuk kembali ke kota. Tapi sebelumnya ia ingin mampir ke
pondok wanita tua yang waktu itu telah membantunya saat ia tersesat. Sanjaya
pun menuju rumah mbok Ati.
“Eh nak Jaya, mari masuk.” Sapa mbok Ati ramah
mempersilahkan Sanjaya bertamu.
“Iya, makasih mbok. Besok
saya mau ke kota makanya saya mau pamitan.” Jelas Sanjaya.
“Sebentar ya nak. Any,
bikinkan minum.” Pinta Mbok Ati dan segera seorang gadis yang sedang hamil
keluar membawa segelas kopi tubruk.
“Melany?.”
“Sanjaya?.”
Mereka saling melepas haru dan saling bercerita. Mereka pun
lalu berpamitan dengan mbok Ati, Sanjaya membawa istrinya yang sedang hamil
pulang ke rumah. Sesampai di rumah, Ny. Aida dan Kirana meminta maaf pada
Melany. Beberapa waktu kemudian kelahiran sang buah hati mencairkan suasana
beku yang tercipta antara mertua dan menantu di kemegahan rumah Sanjaya. Mereka
berbahagia selamanya.
Jangan Pisahkan Kami
Lagi J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar