Kamis, 19 Februari 2015

Jangan Pisahkan Kami Lagi



Hari yang cerah, awan menyelimuti hati dua pengantin baru yang usai mengikrarkan janji suci, cinta sejati, sehidup semati. Dua sejoli itu bernama Sanjaya dan Melany. Mereka berbahagia, walau pernikahan itu tanpa restu dari Ibunda Sanjaya, Ny. Aida Koesniawathy.
          Ibunda Sanjaya, sebenarnya ingin Sanjaya menikah dengan Kirana. Karena Kirana berasal dari keluarga kaya dan terhormat, sederajat dengan keluarga Sanjaya yang memiliki andil dan jabatan di masyarakat.
          Sanjaya adalah anak tunggal, ayahnya meninggal sejak Sanjaya menginjak bangku SMP. Sejak itu Ibundanya mendidik Sanjaya dengan keras. Sang Ibu menginginkan Sanjaya menikahi Kirana karena Ayahanda Kirana telah menginvestasikan kekayaannya untuk perusahaan milik Almarhum Tn. Ferdiansyah, ayah Sanjaya.
          Namun sekalipun Kirana mencintai dan amat sangat menginginkan Sanjaya, sedikit pun Sanjaya tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Kirana. Sanjaya justrur mencintai seorang gadis yang berasal dari keluarga sederhana, yaitu Melany.
          Akhirnya Sanjaya nekad menikahi Melany tanpa restu dari ibundanya, Ny. Aida Koesniawathy. Tapi sang Ibunda tetap meminta Sanjaya untuk tinggal bersamanya, walau sedikit keberatan jika Melany juga ikut serta. Tapi apa boleh buat, gadis yang sangat di bencinya, kini resmi menjadi istri anaknya. Mau tak mau, Melany tetaplah berstatus istri sah Sanjaya. Meski begitu, Melany tetap menghargai mertuanya, Ny. Aida Koesniawathy.
          Tujuan Ny. Aida memohon pada Sanjaya agar ia mau tetap tinggal bersama Melany di rumah Ny. Aida adalah karena Ny. Aida dan Kirana telah membuat kesepakatan akan menyiksa Melany dan membuatnya tidak betah tinggal di rumah. Lalu keluar dan menceraikan Sanjaya. Dengan begitu Sanjaya akan di buat menikahi Kirana secepatnya.
          Hingga suatu hari, Sanjaya di haruskan meeting untuk keperluan proyek di luar kota. Sanjaya tidak dapat membawa serta Melany, karena kondisi di sana tidak memungkinkan jika sang istri ikut. Setelah perdebatan yang cukup panjang, Melany mau juga di tinggal sebentar.
          Ketika Sanjaya telah pergi, dengan bantuan Kirana, Ny. Aida pun mengusir menantunya sendiri dari rumah. Melany yang tak berdaya pun keluar, ia takut pulang ke rumah orang tuanya. Karena orang tuanya pernah mendapat cacian dan makian dari Ny. Aida. Apa kata orang tuanya jika tau apa yang sebenarnya terjadi pada istri Sanjaya ini.
          Melany pun berjalan tanpa arah dan tujuan, sebenarnya Melany sedang hamil muda, tapi ia sendiri tak menyadari itu. Melany mulai pusing dan mual, hingga akhirnya Melany pun pingsan dan jatuh dari atas jembatan, hanyut terbawa arus di sungai yang deras.


          Di sebuah pedesaan yang tentram dan damai, seorang janda bernama mbok Ati yang hidup sebatang kara, hendak pergi mencuci di sungai. Janda itu menemukan sosok seorang gadis yang masih bernyawa. Dengan bantuan beberapa warga desa, gadis itu di bopong menuju rumah mbok Ati. Gadis itu dalam keadaan pingsan.
“Sanjaya?!.” Seru Melany tersadar dari pingsannya.
“Alhamdulillah, syukurlah neng sudah sadar. Neng tadi hanyut di sungai, sebenarnya neng ini siapa?. Asalnya darimana?. Kok bisa hanyut di sungai?.” Tanya mbok Ati.
“Saya dimana?.” Tanya Melany.
“Neng di rumah saya.” Jawab mbok Ati.
“Mbok yang nolong saya ya?. Makasih mbok, nama saya Melany. Saya di usir mertua saya, saya gak tau harus kemana, lalu tiba-tiba saya pusing. Saya tidak ingat apa-apa lagi. Setelah itu, tiba-tiba saja saya ada di sini bersama mbok.” Cerita Melany.
“Kasian sekali kamu. Nama kamu Melany, biar mbok panggil Any saja ya, biar lebih akrab. Mbok ini janda tua tanpa anak, mbok tinggal sendiri, hidup sebatang kara. Kamu boleh tinggal di sini sama mbok, kalau kamu mau. Dan tidak keberatan dengan keadaan mbok yang seperti ini.”
“Iya gak apa, maafkan saya sudah merepotkan. Makasih mbok.”
          Melany pun akhirnya tinggal bersama mbok Ati. Melany sangat rajin bekerja, mbok Ati senang. Mbok Ati sering bawel ketika Melany belum istirahat. Mbok Ati selalu menasehati Melany supaya menjaga kandungannya dengan baik.


          Akhirnya di akhir pekan, Sanjaya pun pulang. Ketika memasuki kamar, Sanjaya kaget, bukannya Melany yang sedang tidur di ranjang, melainkan Kirana. Ny. Aida mengarang cerita bahwa Melany mencuri kalung berliannya dan kabur dari rumah. Kirana pun dengan penampilan sexynya merayu Sanjaya untuk tidak mencari Melany dan segera menikahinya. Tapi semua itu tidak menggoyahkan cinta Sanjaya pada Melany, istrinya.
          Tuhan, lindungi istriku. Melany, kamu dimana sayang?. Mengapa kamu pergi ninggalin aku?. Apa kamu baik-baik saja sekarang?. Batin Sanjaya.
          Pak Rahan, tukang kebun Sanjaya pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Sanjaya. Sanjaya sangat marah pada ibunya. Sanjaya pergi dari rumah mencari Melany.
          Kirana pun sadar, ia merasa dirinya sangat hina karena terkesan seakan mengemis cinta Sanjaya. Kirana memutuskan untuk menghentikan permainan ini, ia mengakui cinta Sanjaya pada Melany terlalu kuat. Meski ibunda Sanjaya berpihak padanya, tapi percuma jika hati Sanjaya tidak pernah berpihak padanya. Kirana mundur.
          Ny. Aida pun mengerti perasaan cinta anaknya pada Melany. Ny. Aida malu dan merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya selama ini pada menantunya. Tak sepantasnya kesetiaan Melany pada Sanjaya dib alas dengan penghinaan. Ny. Aida menangisi kekhilafannya yang telah menghancurkan kebahagiaan anaknya. Kini Ny. Aida mengakui bahwa Melany-lah sumber kebahagiaan dan masa depan Sanjaya.


          Sanjaya mencari Melany di rumah orang tua Melany, di rumah Winto, Nisa, Dodi dan Minah, juga sahabat-sahabat Melany lainnya. Namun jawaban tetap sama, mereka semua tidak tau dimana Melany berada. Mereka malah menyalahkan Sanjaya.
          Akhirnya, Sanjaya mencari Melany di desa-desa dan pelosok daerah lainnya. Ketika Sanjaya tersesat, ia bertemu dengan seorang wanita tua bernama mbok Ati.
“Apa masih ada lorong di daerah sana mbok?.” Tanya Sanjaya sambil menunjuk ke arah kanan.
“Tidak nak, itu jalan buntu. Sepertinya kamu tersesat nak, kamu jalan lurus saja, nanti ada pertigaan belok kiri, di situ ada pos ronda. Ya sudah nak, kapan-kapan mampir ke rumah mbok. Mbok hanya tinggal berdua sama anak angkat mbok, namanya Any.” Jawab Mbok Ati.
“Iya, makasih mbok.”


          Setelah sepekan berputar-putar mencari Melany di desa itu, Sanjaya memutuskan untuk kembali ke kota. Tapi sebelumnya ia ingin mampir ke pondok wanita tua yang waktu itu telah membantunya saat ia tersesat. Sanjaya pun menuju rumah mbok Ati.
          “Eh nak Jaya, mari masuk.” Sapa mbok Ati ramah mempersilahkan Sanjaya bertamu.
“Iya, makasih mbok. Besok saya mau ke kota makanya saya mau pamitan.” Jelas Sanjaya.
“Sebentar ya nak. Any, bikinkan minum.” Pinta Mbok Ati dan segera seorang gadis yang sedang hamil keluar membawa segelas kopi tubruk.
“Melany?.”
“Sanjaya?.”
          Mereka saling melepas haru dan saling bercerita. Mereka pun lalu berpamitan dengan mbok Ati, Sanjaya membawa istrinya yang sedang hamil pulang ke rumah. Sesampai di rumah, Ny. Aida dan Kirana meminta maaf pada Melany. Beberapa waktu kemudian kelahiran sang buah hati mencairkan suasana beku yang tercipta antara mertua dan menantu di kemegahan rumah Sanjaya. Mereka berbahagia selamanya.
          Jangan Pisahkan Kami Lagi J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar