Petang
telah menampakan dirinya dalam keredupan hati seorang gadis cantik bernama
Natasya Vernanda. Sore yang indah itu seakan berlalu tanpa kesan baginya.
Hatinya remuk ketika melihat senyum ramah sang ibu yang datang membawakan
secangkir teh hangat untuknya.
“Tasya, sore-sore kok ngelamun?.
Ngelamunin apa nak?.” Tanya sang ibu khawatir.
“Akh,
enggak kok bu!.” Jawab Natasya.
“Ya
wes, minum dulu teh hangatnya, sepertinya kamu masuk angin daritadi mual-mual
terus!. Setelah itu istirahat ya nak.” Pesan sang ibu sambil mengusap
rambutnya.
“Iya
bu!.”
Tanpa terasa, petang berganti malam.
Natasya masih belum juga terlelap, fikirannya di kacaukan oleh kesalahannya
sendiri. Natasya memikirkan kuliahnya yang terabaikan beberapa pekan ini. Ia
juga memikirkan perasaan sang ibu seandainya jika sang ibu tau keadaan yang
sebenarnya terjadi.
Ya
Tuhan, pasti ibu akan sangat sedih, harapannya hancur, tidak akan ada
kebanggaan lagi dan semua salahku!. Aku terlalu bego, menghancurkan masa
depanku sendiri!. Batin Natasya.
Bahkan
hingga ayam jantan memperdengarkan suaranya yang merdu, Natasya masih belum
juga bisa memejamkan matanya. Penyesalan merasuki jiwanya dan mematikan saraf
sadarnya. Ia merasa telah hancur berkeping-keping.
Awal
perkenalannya dengan Heriawan Ali Kusuma telah mengantarkannya terlalu jauh
terjerumus dalam kesesatan. Cowok tampan yang biasa di sapa Heri ini adalah
seorang mahasiswa tingkat akhir sebuah universitas swasta yang hobby melakukan atraksi menakjubkan di atas motor,
sebut saja ia seorang pembalap yang di takuti kawan-kawannya.
Natasya
mengenal Heriawan melalui perantara Pricilia, sahabat baiknya. Perkenalan itu
berlanjut pada sebuah hubungan bertemanan yang kemudian berkembang menjadi
sebuah hubungan yang lebih special dan spesifik. Natasya resmi menjadi kekasih
Heriawan, tepatnya setahun yang lalu.
Hubungan
cinta mereka semakin jauh, hingga tanpa batas kontrol. Pada suatu malam, ketika
Natasya menghadiri sebuah party, Natasya pulang agak larut dalam keadaan mabuk,
Pricilia menelpon Heriawan untuk menjemputnya.
“Her,
aku fikir kamu gak datang.” Sapa Pricilia.
“Ya, ada apa?. Tadi di telfon suaramu
gak jelas. Mana Tasya?.”
“Tasya di mobilku, dia mabuk, kamu
yang antar dia pulang ya, soalnya mobil aku gak ada bensin. Mana rumahnya jauh
lagi, bisa ‘kan Her?.” Tanya Pricilia pada Heriawan.
“Astaga, iya, biar dia pulang sama aku
saja!.”
Natasya
pun di antar pulang oleh kekasihnya. Sepanjang jalan, Heri memandang wajah
cantik Natasya. Semakin dalam pandangan matanya, hingga ia hilang kendali. Ia pun
memutar balik arah motornya menuju kosannya.
Natasya
yang dalam keadaan mabuk tidak menyadari apa yang di lakukan Heriawan padanya.
Semua telah terlanjut terjadi, nafsu setan telah menjerumuskan mereka.
Akibat
perbuatan terlarang itu, Natasya pun hamil. Dunianya serasa berhenti berputar.
Semua harapan yang di gantungkan sang ibu padanya hancur berantakan. Kemilau
masa depannya kini telah redup oleh kebodohannya sendiri.
Yang
lebih menyakitkan lagi, ketika Natasya kemudian tau bahwa Heriawan telah
terlibat pergaulan bebas. Heriawan positif sebagai pemakai narkoba, sekarang
kekasihnya itu menjadi buronan polisi, karena ternyata, tidak hanya sebagai
pemakai, tetapi ia juga seorang pengedar narkoba. Seperti di hantam sebuah batu
besar dalam ketidakberdayaan, itulah yang di rasakan Natasya ketika ia di
mintai keterangan di kantor polisi. Untunglah Pricilia menjamin Natasya,
sehingga ia mendapatkan kekuatan hukum dan terbukti tidak bersalah.
“Sabar
Sya, aku yakin semua ada hikmahnya.”
“Iya Lia, sekarang Heri udah gak di
sisi aku!. Aku benar-benar sendiri, gimana dengan kandunganku?. Kuliahku?.
Kalau sampai ibu tau, ibu pasti akan sangat kecewa padaku!.”
“Gimana kalau di gugurin saja?.” Saran
Pricilia.
“Gak!. Aku gak mau nambah dosa lagi!.
Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku.”
“Lalu ibumu?.” Tanya Pricilia.
“Itulah yang ku fikirkan.”
Seperti
kata pepatah, sepandai-pandainya anda menyimpan bangkai, pasti akan tercium
juga!. Sang ibu menemukan tespack di kamar Natasya, alat pemeriksa kehamilan
itu menunjukan bahwa sang pemilik tespack telah positif mengandung. Setengah
tidak percaya, sang ibu pun menanyakan hal tersebut pada Natasya, sang ibu
meminta penjelasan dari anaknya itu.
“Tasya,
ini punya siapa?. Tespack ini ibu temukan di kamarmu!. Apa ini punyamu?.” Tanya
sang ibu.
“Iya bu, maafkan aku.”
“Apa?. Siapa yang menghamilimu nak?.
Jawab ibu, siapa?. Mengapa semua ini terjadi padamu?.”
“Heri bu, aku minta maaf bu.”
“Tasya, ibu kecewa!. Sejak ayahmu
meninggal, ibu mengasuhmu seorang diri, ibu manaruh harapan besar padamu. Ibu
rela bekerja keras untuk menyekolahkanmu agar hidupmu akan lebih baik. Kau
satu-satunya yang ibu punya, kau anak tunggal, satu-satunya harapan ibu!. Bunuh
saja ibu jika begini caramu!.”
“Ampun bu, maafkan aku, aku khilaf.”
Natasya
meminta maaf pada sang ibu, namun ibunya hanya diam. Kekecewaan sang ibu begitu
mendalam, hingga sang ibu pun sering sakit. Kuliah Natasya hancur berantakan,
ia drop out karena hamil di luar nikah.
Hari-hari
Natasya pun di lalui dengan kesengsaraan. Hingga usia kandungannya menginjak
bulan ke sembilan, Heriawan belum juga menampakan batang hidungnya. Natasya
sangat kecewa namun keadaan memaksanya untuk tegar.
Dan
di suatu malam, tangisan bayi pecah di keheningan malam, lahirlah bayi Natasya
yang berjenis kelamin laki-laki. Bayi mungil itu ia beri nama Risky Ali Kusuma,
nama Risky yang adalah berupa harapan, agar sang anak dapat membawa rezeki
dalam hidupnya dan nama Ali Kusuma adalah nama ayah dari bayi tersebut,
Heriawan Ali Kusuma. Kehadiran Risky adalah kekuatan baginya dalam menjalani
hari-harinya. Risky adalah satu-satunya alasan Natasya untuk tetap bertahan.
Sang
ibu yang memang sudah sering sakit-sakitan itu, akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Natasya benar-benar sendiri kini dalam hidupnya. Ia memandang Risky yang sedang
tertidur pulas, Natasya sedih kehilangan ibunya, namun kini ia memiliki
tanggungjawab juga sebagai seorang ibu.
Natasya
mengasuh Risky seorang diri, ia melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan
sang anak. Semua rasanya ia abaikan karena harus mendahulukan kepentingan buah
hatinya.
Dan
kini di penghujung senja, penyesalan itu selalu datang menghantui hidupnya.
Mematikannya perlahan oleh kesalahan dan kebodohannya sendiri. Semua menjadi
percuma ketika ia tak berdaya menanti perputaran waktu.
Tuhan, jaga penglihatanku, jaga
pendengaranku, jaga ucapanku dan jaga tingkahku dari hal-hal yang kiranya akan
menjerumuskanku dalam khilaf dan dosa. Bimbinglah langkah kakiku agar
senantiasa berjalan dalam tuntunan-Mu, agar aku tak hilang arah, agar aku tak
salah langkah. Aku mohon pada-Mu wahai Tuhan segala Tuhan, janganlah Engkau
menutup mata-Mu dari aku, awasilah diriku selalu. Aku mohon, kiranya Engkau
bersedia menjaga suciku, menjamah hidupku. Beri aku kenikmatan-Mu dan biarkan
diriku mencintai-Mu hingga ujung usiaku. Tutuplah setiap peluang yang akan
menjauhkanku dari-Mu. Kuncilah setiap celah yang akan memisahkanku dari-Mu.
Tegaskanlah pada jiwa dan ragaku untuk selalu tunduk pada titah-Mu. Yakinkanlah
diriku bahwa cintamu mampu memberikan kedamaian lebih dari apapun juga pada
setiap hausku. Aku mohon Tuhan, jadikanlah aku satu di antara hamba-hambamu
yang berbakti dan tempatkanlah aku di surga-Mu. Dan terhitung dari hari ini,
aku akan mengabdikan diriku sebagai budak-Mu yang setia dalam cinta dan
pengorbananku kepada-Mu. Amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar