Kamis, 19 Februari 2015

Penyesalan di Penghujung Senja



Petang telah menampakan dirinya dalam keredupan hati seorang gadis cantik bernama Natasya Vernanda. Sore yang indah itu seakan berlalu tanpa kesan baginya. Hatinya remuk ketika melihat senyum ramah sang ibu yang datang membawakan secangkir teh hangat untuknya.
          “Tasya, sore-sore kok ngelamun?. Ngelamunin apa nak?.” Tanya sang ibu khawatir.
“Akh, enggak kok bu!.” Jawab Natasya.
“Ya wes, minum dulu teh hangatnya, sepertinya kamu masuk angin daritadi mual-mual terus!. Setelah itu istirahat ya nak.” Pesan sang ibu sambil mengusap rambutnya.
“Iya bu!.”
          Tanpa terasa, petang berganti malam. Natasya masih belum juga terlelap, fikirannya di kacaukan oleh kesalahannya sendiri. Natasya memikirkan kuliahnya yang terabaikan beberapa pekan ini. Ia juga memikirkan perasaan sang ibu seandainya jika sang ibu tau keadaan yang sebenarnya terjadi.
          Ya Tuhan, pasti ibu akan sangat sedih, harapannya hancur, tidak akan ada kebanggaan lagi dan semua salahku!. Aku terlalu bego, menghancurkan masa depanku sendiri!. Batin Natasya.
          Bahkan hingga ayam jantan memperdengarkan suaranya yang merdu, Natasya masih belum juga bisa memejamkan matanya. Penyesalan merasuki jiwanya dan mematikan saraf sadarnya. Ia merasa telah hancur berkeping-keping.
          Awal perkenalannya dengan Heriawan Ali Kusuma telah mengantarkannya terlalu jauh terjerumus dalam kesesatan. Cowok tampan yang biasa di sapa Heri ini adalah seorang mahasiswa tingkat akhir sebuah universitas swasta yang hobby  melakukan atraksi menakjubkan di atas motor, sebut saja ia seorang pembalap yang di takuti kawan-kawannya.
          Natasya mengenal Heriawan melalui perantara Pricilia, sahabat baiknya. Perkenalan itu berlanjut pada sebuah hubungan bertemanan yang kemudian berkembang menjadi sebuah hubungan yang lebih special dan spesifik. Natasya resmi menjadi kekasih Heriawan, tepatnya setahun yang lalu.
          Hubungan cinta mereka semakin jauh, hingga tanpa batas kontrol. Pada suatu malam, ketika Natasya menghadiri sebuah party, Natasya pulang agak larut dalam keadaan mabuk, Pricilia menelpon Heriawan untuk menjemputnya.
          “Her, aku fikir kamu gak datang.” Sapa Pricilia.
“Ya, ada apa?. Tadi di telfon suaramu gak jelas. Mana Tasya?.”
“Tasya di mobilku, dia mabuk, kamu yang antar dia pulang ya, soalnya mobil aku gak ada bensin. Mana rumahnya jauh lagi, bisa ‘kan Her?.” Tanya Pricilia pada Heriawan.
“Astaga, iya, biar dia pulang sama aku saja!.”
          Natasya pun di antar pulang oleh kekasihnya. Sepanjang jalan, Heri memandang wajah cantik Natasya. Semakin dalam pandangan matanya, hingga ia hilang kendali. Ia pun memutar balik arah motornya menuju kosannya.
          Natasya yang dalam keadaan mabuk tidak menyadari apa yang di lakukan Heriawan padanya. Semua telah terlanjut terjadi, nafsu setan telah menjerumuskan mereka.
          Akibat perbuatan terlarang itu, Natasya pun hamil. Dunianya serasa berhenti berputar. Semua harapan yang di gantungkan sang ibu padanya hancur berantakan. Kemilau masa depannya kini telah redup oleh kebodohannya sendiri.
          Yang lebih menyakitkan lagi, ketika Natasya kemudian tau bahwa Heriawan telah terlibat pergaulan bebas. Heriawan positif sebagai pemakai narkoba, sekarang kekasihnya itu menjadi buronan polisi, karena ternyata, tidak hanya sebagai pemakai, tetapi ia juga seorang pengedar narkoba. Seperti di hantam sebuah batu besar dalam ketidakberdayaan, itulah yang di rasakan Natasya ketika ia di mintai keterangan di kantor polisi. Untunglah Pricilia menjamin Natasya, sehingga ia mendapatkan kekuatan hukum dan terbukti tidak bersalah.
          “Sabar Sya, aku yakin semua ada hikmahnya.”
“Iya Lia, sekarang Heri udah gak di sisi aku!. Aku benar-benar sendiri, gimana dengan kandunganku?. Kuliahku?. Kalau sampai ibu tau, ibu pasti akan sangat kecewa padaku!.”
“Gimana kalau di gugurin saja?.” Saran Pricilia.
“Gak!. Aku gak mau nambah dosa lagi!. Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku.”
“Lalu ibumu?.” Tanya Pricilia.
“Itulah yang ku fikirkan.”
          Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya anda menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga!. Sang ibu menemukan tespack di kamar Natasya, alat pemeriksa kehamilan itu menunjukan bahwa sang pemilik tespack telah positif mengandung. Setengah tidak percaya, sang ibu pun menanyakan hal tersebut pada Natasya, sang ibu meminta penjelasan dari anaknya itu.
          “Tasya, ini punya siapa?. Tespack ini ibu temukan di kamarmu!. Apa ini punyamu?.” Tanya sang ibu.
“Iya bu, maafkan aku.”
“Apa?. Siapa yang menghamilimu nak?. Jawab ibu, siapa?. Mengapa semua ini terjadi padamu?.”
“Heri bu, aku minta maaf bu.”
“Tasya, ibu kecewa!. Sejak ayahmu meninggal, ibu mengasuhmu seorang diri, ibu manaruh harapan besar padamu. Ibu rela bekerja keras untuk menyekolahkanmu agar hidupmu akan lebih baik. Kau satu-satunya yang ibu punya, kau anak tunggal, satu-satunya harapan ibu!. Bunuh saja ibu jika begini caramu!.”
“Ampun bu, maafkan aku, aku khilaf.”
          Natasya meminta maaf pada sang ibu, namun ibunya hanya diam. Kekecewaan sang ibu begitu mendalam, hingga sang ibu pun sering sakit. Kuliah Natasya hancur berantakan, ia drop out karena hamil di luar nikah.
          Hari-hari Natasya pun di lalui dengan kesengsaraan. Hingga usia kandungannya menginjak bulan ke sembilan, Heriawan belum juga menampakan batang hidungnya. Natasya sangat kecewa namun keadaan memaksanya untuk tegar.
          Dan di suatu malam, tangisan bayi pecah di keheningan malam, lahirlah bayi Natasya yang berjenis kelamin laki-laki. Bayi mungil itu ia beri nama Risky Ali Kusuma, nama Risky yang adalah berupa harapan, agar sang anak dapat membawa rezeki dalam hidupnya dan nama Ali Kusuma adalah nama ayah dari bayi tersebut, Heriawan Ali Kusuma. Kehadiran Risky adalah kekuatan baginya dalam menjalani hari-harinya. Risky adalah satu-satunya alasan Natasya untuk tetap bertahan.
          Sang ibu yang memang sudah sering sakit-sakitan itu, akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Natasya benar-benar sendiri kini dalam hidupnya. Ia memandang Risky yang sedang tertidur pulas, Natasya sedih kehilangan ibunya, namun kini ia memiliki tanggungjawab juga sebagai seorang ibu.
          Natasya mengasuh Risky seorang diri, ia melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Semua rasanya ia abaikan karena harus mendahulukan kepentingan buah hatinya.
          Dan kini di penghujung senja, penyesalan itu selalu datang menghantui hidupnya. Mematikannya perlahan oleh kesalahan dan kebodohannya sendiri. Semua menjadi percuma ketika ia tak berdaya menanti perputaran waktu.
          Tuhan, jaga penglihatanku, jaga pendengaranku, jaga ucapanku dan jaga tingkahku dari hal-hal yang kiranya akan menjerumuskanku dalam khilaf dan dosa. Bimbinglah langkah kakiku agar senantiasa berjalan dalam tuntunan-Mu, agar aku tak hilang arah, agar aku tak salah langkah. Aku mohon pada-Mu wahai Tuhan segala Tuhan, janganlah Engkau menutup mata-Mu dari aku, awasilah diriku selalu. Aku mohon, kiranya Engkau bersedia menjaga suciku, menjamah hidupku. Beri aku kenikmatan-Mu dan biarkan diriku mencintai-Mu hingga ujung usiaku. Tutuplah setiap peluang yang akan menjauhkanku dari-Mu. Kuncilah setiap celah yang akan memisahkanku dari-Mu. Tegaskanlah pada jiwa dan ragaku untuk selalu tunduk pada titah-Mu. Yakinkanlah diriku bahwa cintamu mampu memberikan kedamaian lebih dari apapun juga pada setiap hausku. Aku mohon Tuhan, jadikanlah aku satu di antara hamba-hambamu yang berbakti dan tempatkanlah aku di surga-Mu. Dan terhitung dari hari ini, aku akan mengabdikan diriku sebagai budak-Mu yang setia dalam cinta dan pengorbananku kepada-Mu. Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar