Hari libur adalah hari yang paling di nantikan oleh para siswa dan
siswi di seluruh penjuru dunia. Hm, bebas sejenak dari rutinitas belajar yang
menjemukan. Pasti segudang acara menanti waktu libur tersebut. Tak heran, jika
momentum libur lebih menggairahkan daripada waktu bergulat dengan pelajaran dan
prestasi.
Begitu juga dengan 5
pelajar SMU Harapan Bangsa ini. Mereka : Faradiba Putri alias Fara, Aldiansyah
Hermawan alias Aldi, Marina Julianthy alias Rina, Ramadhan Saputra alias Rama,
dan Yunita Fitriani alias Yuni. Mereka di kenal sebagai 5 sekawan.
Fara CS ini telah
meraih kepopularitasan di Sekolahnya. Bukan karena power orang tua mereka, tapi
karena bakat dan kepribadian mereka. Fara CS sangat aktif dalam pelajaran
maupun dalam kegiatan ekstrakulikuler atau excul. Fara CS adalah pendiri
Organisasi Pecinta Alam (PAPALA) di SMU Harapan Bangsa ini. Tak hanya itu,
organisasi-organisasi besar lainnya di SMU Harapan Bangsa juga dalam kendali
mereka, yaitu Organisasi PMR (Palang Merah Remaja), Organisasi KBS (Kegiatan
Bakti Sosial), PRAMUKA, dan Organisasi Kespro juga di dalam kendali mereka.
Selain itu, mereka punya jabatan di OSIS juga lho. Pokoknya it’s The Best.
Mereka adalah idolanya SMU Harapan Bangsa.
Okey, pengenalan lebih
lanjut tentang kepopularitasan mereka di SMU Harapan Bangsa.
Dalam OSIS, Aldi
menjabat sebagai ketua, Rina wakil I dan Rama wakil II. Fara menjabat
sekertaris umum, dan Yuni menjabat bendahara umum. Kekompakan mereka membuat
kinerja OSIS mendapat banyak jempol. Keren!.
Mereka berlima adalah
pendiri PAPALA, tapi karena memiliki jabatan di Organisasi lain, maka
Aldiansyah Hermawan yang mengkoordinir organisasi ini, ia menjabat sebagai Ketua
Papala. Di PMR, Rama menjabat sebagai Ketua. Dan di KBS, Rina menjabat sebagai
Ketua. Di Pramuka, Yuni menjabat sebagai Ketua. Juga di Kespro, Fara menjabat
sebagai Ketua. Hebat!.
Hari itu, seusai
penerimaan rapor, mereka berkumpul di rumah Yuni. Ada 2 agenda, yang pertama adalah
untuk merayakan kemenangan mereka, bagaimana tidak, 5 sekawan ini, menduduki
posisi 5 besar. Maklumlah, mereka sekelas, Bintang Kelasnya Aldi, di susul Rina
di posisi juara II, Rama juara III, mengikuti Fara peringkat IV dan berikutnya
ada Yuni dengan peringkat V. Mengagumkan!.
Yang kedua, mereka
akan membahas rencana liburan semester kali ini. Maklumlah, kekompakan mereka
ternyata adalah buah dari kebersamaan mereka sejak kecil.
Dan sambil ngemil di
depan TV, musyawarah pun di adakan.
“Gimana kalau kita
liburan di Pulau Kuta, Bali?.” Usul Rina.
“Atau ke Kolam Pemancingan saja?. Hemat tau!.” Tambah Rama.
“Akh, bukan hemat tuch, emang dasar pelit loe!.” Cetus Fara.
“Mendingan kita ke Mall, shooping. Terus di lanjutin ke salon
meni-pedi, lalu eksen dech di fotobox. Terus kita main di Fun Station sambil
ngemil, nonton ke bioskop dengan baju baru, sepatu baru, gaya...” Comel Yuni.
“Sudah diam!. Akh, ngaco loe. Gak ada usul lain yach, atau loe sudah
geger otak, Yun?.” Hura Fara.
“Iya nie, ada-ada saja!.” Tambah Rina sambil terus makan kue
coklatnya.
“Emang stres tuch si Yuni!.” Ketus Rama tanpa mengalihkan
pandangannya dari TV.
“Yee, siapa tau kalau gue cantik dan feminin gitu, si Rendi bakalan
naksir sama gue. Uh, pastinya nie semua cewek-cewek di SMU Harapan Bangsa pada
ngiri sama gue. Kapan yach Rendi mau jadi pacar gue?. Ohw Rendi, loe itu
makhluk Tuhan yang paling cakep dech. Gue...” curhat Yuni.
“Akh, berisik loe!. Lebay banget, memangnya si Rendi mau sama loe?.”
Ledek Aldi sambil melempari Yuni dengan snack.
“Benar tuch Al, kepedean
banget dia!. Yang ada tuch, Rendi maunya sama gue, bukan sama loe!.” Tambah
Fara.
“Akh, loe berdua sama saja!.” Comen Rama.
“Loe cemburu yach Ram?.” Goda Fara dan Yuni.
“What?. Cemburu?. Loe gila yach, ngapain gue cemburu sama tuch kutu
kupret?. Yang ada gue itu lebih beken dari dia. Gue lebih cakep, tau!. Buktinya
si cewek jutek saja bisa kepincut sama pesona dan kegantengan gue!.” Kata Rama
sambil melirik ke arah Rina.
“Enak saja loe ngatain gue jutek!. Ye, amit-amit, 7 turunan juga kage
mau gue kepincut sama loe!. Kepedean!.” Bela Rina.
“Sudah akh, mending kita berpetualang saja. Jangan cari hiburan terus
dong, bosan tau!.” Usul Fara.
“Wah, tumben loe gak telmi?. Pasti semalam loe salah minum obat
sampai bisa encer tuch otak!.” Canda Aldi.
“What?. Berpetualang?. Ogah, gue gak setuju!. Ntar kalau kita
tersesat gimana?. Kalau ada ular, macan, harimau,.....” comel Yuni.
“Akh, bawel loe!. Kayaknya idenya Fara bagus juga, gue setuju!.” Ucap
Rama sambil menatap Yuni yang kesal karena di bilang bawel.
“Hm, gue sich setuju-setuju saja. Tapi berpetualangnya kemana?.”
Tanya Rina seraya meneguk habis syrup leci kesukaannya.
“Ke Negeri Dongeng!.” Cetus Yuni.
“Dasar juara ngarang loe!. Yang betul aja dech!.” Umpat Aldi.
“Hm, kita kemah saja. Tapi lokasinya?.” Tanya Rama lagi.
“Di Pedesaan saja, gimana?.” Usul Yuni.
“Tumben, usul loe masuk akal. Tapi, gak salah yach?. Di desa ‘kan gak
ada Mall, gak ada salon, gak bisa shooping?.” Ledek Rina.
“Benar tuch, loe ‘kan ribet?.” Tambah Fara.
“Akh, sialan loe berdua!.” Umpat Yuni.
Setelah lama
berunding, mereka memutuskan untuk berkemah di Desa Sukamaju, ada sebuah Hutan
yang menjadi objek wisata mereka tahun ini. Biasa lokasi tersebut adalah hasil
vooting dari beberapa tempat wisata yang mereka cari lewat internet!.
Esok
harinya, 5 sekawan ini berkumpul di stasiun kereta api.
“Yun, loe yang jadi penunjuk jalannya, pemandu gitu!.”
Kata Aldi.
“What?. Kok gue?. Gue kage bisa!. Gue kage pernah ke
sana!.” Sanggah Yuni.
“Gimana sich?. ‘Kan loe yang ngusul?. ” Fara bingung.
“Kalian tuch emang bikin acara gak pernah sempurna!.
Huh, payah!.” Comen Rina sambil ngemil ‘cadbury’nya.
“Yun, kalau loe gak pernah ke sana, kenapa loe
ngusulin ide gila itu?. Brabe ‘kan jadinya!.” Ketus Rama.
“Tenang, sebenarnya gue tau tempat itu dari kakak gue,
katanya dulu itu markas persembunyian dari tentara belanda waktu zaman perang!.
Nah, biar tambah seru, gue suruh kakak gue buatin peta nie!.” Jelas Yuni.
“Muke gile, loe!.” Umpat Fara.
“Seru apaan kayak gini?. Main peta-petaan bikin susah
saja, dasar gj loe!.” Rina mulai boring dan ngambek.
“Ini bukan main peta-petaan Rin, ini peta beneran!.”
Bantah Yuni.
“Kampret!.”
Walaupun
terkesan sombong, karena memang Rina anak orang kaya, ia baik kok. Rina adalah
anak bungsu dari 3 bersaudara, makanya ia manja, cengeng dan suka ngambek. Rina
tipikel cewek tomboy yang jutek parah, padahal secara fisik, ia cewek idaman
lho!.
“Gue
ngerti, dari stasiun rakyat, kereta akan mengantar kita menuju stasiun bersama,
kita lalu naik bus menuju desa harahap. Lalu kita naik ojek menuju desa
sukamaju I, lalu naik delman menuju desa
sukamaju II, karena tak ada kendaraan menuju desa sukamaju II. Darisana kita
akan naik perahu menuju sungai kecil jenajah, barulah jalan kaki masuk hutan.”
Jelas Aldi setelah mempelajari peta abal-abalnya Yuni.
“Buset dah!.” Ketus Rama dan Rina berbarengan.
“Yuni, I don’t like that!.” Jerit Fara.
“Hehe..” Yuni tak kaget lagi karena sebelumnya sang
kakak sudah menjelaskannya.
“Udahlah, jangan banyak ngeluh, itu tantangan!.” Kata
Aldi bersemangat.
Ya,
Aldi memang selalu semangat. Menjadi anak tunggal dan kebanggaan ayahnya.
Ibunya selalu mendidiknya menjadi seseorang berwatak halus dan ceria juga penuh
semangat. Dan ayahnya yang tempramen, mendidiknya keras, tegas, agar punya jiwa
pemimpin. Aldi memang mewarisi watak tempramen sang ayah, tapi tak berarti ia
kasar, ia masih mampu mengontrol diri.
Berbeda
dengan Yuni. Selama di perjalanan, Yuni adalah yang paling banyak mengeluh.
Maklumlah anak bungsu yang apapun keinginannya harus di turuti.
Sedangkan
yang lainnya adalah pemilik jiwa cinta alam yang pantang mengeluh. 5 sekawan
ini, adalah anak-anak dari orang terpandang yang kelas ekonominya di atas
rata-rata, namun tidak menjadikan mereka sombong.
Baik
Aldi, Rina, Rama, Fara, maupun Yuni, memiliki kepribadian yang baik, berjiwa
sosial dan selalu bisa beradaptasi.
Sampai
juga, walau lelah namun mereka menikmatinya. Fara melangkahkan kaki dengan
gagah berani memasuki kawasan hutan, bak prajurit menang perang!. Fara walaupun
anak orang kaya, dia tidak manja. Menjadi anak ketiga dari empat bersaudara,
membuatnya terkadang susah di atur, tapi ia tetap pecinta alam.
“Stop!.
Gue nyium bau gak enak!.” Kata Rina penuh selidik.
“Bau apaan?.” Rama penasaran.
“Bau darah!.” Ketus Rina.
“Akh, ada-ada saja loe!.” Respon Aldi malas, ia tidak
tertarik dengan sesuatu yang di anggapnya lelucon Rina.
“Aaakh.. ah..” Jerit Fara tiba-tiba.
“Loe kenapa?.” Tanya Yuni.
“I… itu…!.” Seru Fara sembari menunjuk sebuah kata
yang tertulis di tanah. “HENTIKAN”
tertulis oleh tinta berwarna merah pekat seperti darah.
Aldi,
Rina dan Rama menghampiri Fara dan Yuni. Kelima sekawan itu memperhatikan
dengan seksama, mereka tercegang!. Apa
maksud semua ini?. Tanya mereka dalam hati.
Rina
memeluk Aldi ketakutan, Yuni menenangkan Fara, sedangkan Rama bengong!.
“Kita sudahin saja ya petualangannya, ayo kita
pulang?. Kasihan Fara!.” Ucap Yuni lirih memecahkan kebisuan yang tercipta
sejak tadi.
“Gak!. Gue bakalan cari tau, siapa yang berani
mempermainkan kita!. Mustahil!. Setan itu gak ada, gue gak percaya!. Dan kalau
kalian gak ada yang mau, gue akan cari tau sendiri!. Kalau kalian mau pulang
silahkan, tapi gue tetap di sini!.” Ketus Rina penuh emosi.
“Jangan!. Gue tuch sayang banget sama loe Rin!. Gue
cinta sama loe!. Gue gak mau terjadi sesuatu sama loe!. Please, tolong ngertiin
perasaan gue, karena gue gak mau kehilangan loe lagi.” Tanpa sadar, Rama
mengucapkan semua rasa yang di pendamnya selama ini pada Rina.
Rina pun jatuh dan
berdiri dengan lutut di tanah, tapi tangan Aldi masih memeluknya, dan sedikit
dapat menenangkan hati gadis itu. Rama hanya diam terpaku. Sedangkan Yuni sibuk
membujuk Fara yang merengek minta pulang.
Aldi lalu berbicara
dengan Rina sebentar, Rama hanya menyaksikan semuanya dalam bingung, ia tak
berdaya, tak bisa mengambil keputusan, ia memandangi Yuni dan Fara yang juga
sama tak berdayanya.
“Okey, kita akan
lanjutin petualangan ini!. Kita akan cari tau siapa dalang dari semua ini, tapi
dengan siasat!.” Putus Aldi.
“Maksud loe?.” Tanya
Yuni pasrah.
“Dengarin gue?. Gue sama
Rina akan masuk ke sana!. Loe Yun, Loe Ram dan loe Far, diriin kemah di sini
dan berjaga. Kita akan berkomunikasi lewat satelit!.” Jelas Aldi yang memang
selalu bisa di andalkan, apalagi dalam kondisi seperti ini, idenya mengalir
dengan cepat dan tepat.
“Iya!.” Jawab mereka
serempak dan rencana pun di jalankan.
Aldi dan Rina pun
berjalan semakin jauh ke dalam hutan.
“Di sini saja yach
diriin kemahnya?.” Pinta Rina kelelahan.
“Iya sayang, loe pasti cape’!.” Jawab Aldi perhatian.
Sementara itu di tempat
yang berbeda.
“Far, mending loe
istirahat di dalam kemah geh!.” Saran Yuni khawatir pada kondisi Fara yang
makin memburuk.
“Iya, loe bantuin Rama buat api unggun sana!.” Kata Fara.
“Ya wes, baik-baik ya!. Cepat sembuh!.” Ucap Yuni.
Kehidupan
Fara, Rama dan Yuni di luar hutan baik-baik saja. Berbeda dengan Aldi dan Rina,
mereka mengalami kejadian aneh di hutan. Ada misteri apa di hutan misterkal?.
Malam
itu seusai membuat api unggun, Aldi dan Rina duduk bersama.
“Sayang, gue rasa gak ada yang perlu kita hubungi saat
ini?.” Tanya Aldi yang melihat Rina sibuk mengutak-atik satelitnya.
“Ada tau, Rama!.” Jawab Rina ketus.
“Sayang, kita ’kan baik-baik saja?.” Aldi bingung.
“Tapi sayang, kita ‘kan gak tau, apa mereka baik-baik
saja?.” Jelas Rina sambil tersenyum.
“Hm, sini gue bantuin?.” Jawab Aldi sambil memegang
tangan Rina, berniat mengambil satelit dan memperbaikinya.
Aldi
dan Rina tersenyum, membiarkan nurani mereka berbicara. Sudah lama Aldi
memendam perasaan cinta pada Rina, meski ia tau kalau Rama juga mencintai Rina.
Sedangkan Rina, entahlah, gadis itu bingung pada perasaannya sendiri.
“Satelit 001, di sini 002!.” Seru Aldi.
“Ya, 001 stand by, ada apa Al?.” tanya Rama.
”Loe semua baik-baik saja ‘kan?.” Aldi balik bertanya.
“Iya, loe juga ‘kan?.”
“Iya.”
“Al, gue mohon sama loe, jagain Rina buat gue?.” Pinta
Rama.
“Ya.” Jawab Aldi berat.
“Thanks, you are is the best, I know you good!.”
Batin
Aldi terluka. Apakah gue bakalan sanggup
ngeliat sahabat gue bahagia dengan wanita yang paling gue cintai?. Apakah gue
bisa ikhlas ngelepas Rina buat Rama, sedangkan Rina adalah sesuatu yang sangat
gue butuhkan dalam hidup gue?. Ya Allah, berilah petunjuk-Mu atas kebimbangan
hati ini. Gue harus bisa bijak, gue harus bijak!.
“Woi, ngelamun saja!.” Sapa Rina membuyarkan lamunan
Aldi.
“Akh sayang, loe bikin gue kaget saja!. Ntar kalau gue
jantungan gimana?.” Kata Aldi.
“Gimana Rama?.” Tanya Rina.
“Rama Cs itu baik-baik saja sayang.” Jawab Aldi.
“Loe ngelamun apaan tadi?.” Tanya Rina lagi.
“Akh, gak kok!. Udah yuk, istirahat, besok ‘kan kita
harus melanjutkan perjalanan lagi.” Jelas Aldi, dalam hatinya : Rin, andaikan loe tau, gimana rasa gue ke
loe, mungkinkah loe jadi milik gue?.
Aldi
terbangun di malam hari karena rasa ingin buang air kecil, ia pun meninggalkan
kemah. Selang beberapa lama, Rina terbangun oleh suara berisik di luar kemah.
“Al, itu loe?. Ngapain sich berisik malam-malam
gini?.” Keluh Rina.
“Al, udah dong becandanya, gak lucu tau!.” Rina mulai
sebel.
“Al, loe fikir enak yach di kerjain jam segini?.
Sialan loe!.” Umpat Rina sambil berjalan keluar kemah karena kegaduhan.
“Na, sini Na. Aku di sini, ayo Na?.” terdengar seperti
suara Aldi memanggilnya.
Rina
bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan Aldi memanggilnya ‘Na’, biasanya Aldi
memanggil dengan nama ‘Rin’?. Hm, dan sejak kapan Aldi menyebut dirinya ‘aku’,
biasanya juga ‘gue’.
“Al, loe dimana sich?.” Tanya Rina yang tanpa sadar
sudah berjalan semakin jauh ke dalam hutan.
“Hey!.” Seru seorang wanita berpakaian serba putih
dengan rambut panjang acak-acakan. Rina kaget setengah mati.
“Hentikan rasa penasaranmu itu, hentikan semuanya!.
Kamu dan teman-temanmu ada dalam lingkaran maut, aku peringatkan kamu untuk
waspada terhadap sesuatu yang aneh. Karena hanya itu kata kunci agar kalian
dapat selamat. Paham!.” Lanjut wanita misterius itu.
“Loe itu siapa?. Apa loe warga sini?. Kalau ya, apa
yang loe lakukan malam-malam begini di hutan?. Apa hak loe ngelarang gue dan
teman-teman gue, siapa loe?.” Tanya Rina di sela ketakutannya.
“Jangan banyak tanya, diam!.” Bentak wanita itu.
“Tadi loe nasehatin gue, lantas gue harus manggil loe
siapa?.”
“Aku Frida, mudah-mudahan kita bisa jadi teman!.” Kata
wanita itu sembari menghilang.
Dalam ketakutannya
Rina mencoba mengingat jalan kembali ke kemah. Rina membatin : Biasanya Aldi manggil gue ‘Rin’ bukan ‘ Na’.
Dan Aldi juga selalu ngomong ‘gue’ bukan ‘aku’, itu ‘kan jelas-jelas aneh?.
Tadi kata wanita itu, entah siapa namanya, Frida atau Frita, atau apalah, yang
jelas ia bilang mewaspadai sesuatu yang aneh itu adalah kata kunci untuk bisa
selamat. Betapa aura kegelapan dalam hutan ini begitu terasa. Aku bisa
merasakan getaran itu, astagfirullah.
Rina
kembali ke kemah, sedaritadi Aldi telah mondar-mandir mencari dirinya.
“Rin, loe darimana?. Gue tuch khawatir, loe baik-baik
saja ‘kan?.”
“Harusnya tuch gue yang nanya, loe darimana?. Gue tuch
nyariin loe, gue fikir loe ke tempatnya Rama, ninggalin gue.” Ketus Rina.
“Gaklah, gue tuch gak setega itu sama loe!. Udah yuk,
istirahat sayang!.”
Rina
memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang di alaminya pada Aldi. Karena ia
tau sosok Aldi, pasti Aldi tidak percaya dan menganggapnya hanya berhalusinasi
dalam ketakutannya sendiri. Atau bisa saja Aldi lalu memerintahkan untuk bubar
dan pulang. Entahlah, gadis cantik ini membiarkan apa yang di alaminya tadi
menari-nari dalam fikirannya hingga ngantuk mengantarnya pada tidur yang tak
lelap dalam ketegangan yang pekat.
Pagi
pun tiba, keindahan pagi buta dalam hutan misterkal begitu luar biasa. Betapa
kabut dengan anggunnya menebar pesona sensual yang membuat semua mata terpaku
memandang kekokohannya. Keasrian yang bercampur aroma hutan dan di kombinasikan
orkesta serangga begitu mengesankan.
“Al, bangun, molor saja loe!.”
“Ih, gue masih ngantuk!. Bawel banget sich loe!.”
“Buruan, kita harus jalan lagi!.”
“Duch Rin, udah dech, jalan kok tanpa tujuan?.”
“Diam, kalau gak suka sana ke tempat Rama!. Gue juga
bisa jalan sendiri, gue gak butuh loe!.”
“Huh, gitu saja ngambek, becanda sayang. Nie cewek
sedaritadi pagi sampai sekarang marah-marah mulu!.”
“Apa loe bilang?.”
“Hm, gue bilang loe cantik, Rin!.”
“Bohong!.”
“Gue gak bohong, loe memang cantik, walaupun
cerewet!.”
“Dasar loe..”
Mereka
pun melanjutkan perjalanan, ketika melewati jurang tiba-tiba terjadi sesuatu.
“Lihat Rin, Nenek itu, ia hampir masuk jurang. Loe
tunggu sini, biar gue tolongin!.”
Aldi
lalu menghampiri Nenek itu, ketika tangannya hampir menyentuh tangan si Nenek…
“Jangan!.” Jerit Rina yang berdiri di belakang si
Nenek sambil menggelengkan kepalanya.
“Balik Al, jangan di tolong. Ini hutan, loe jangan
ceroboh!.” Lanjut Rina, Aldi pun menghampiri Rina.
“Al, ada sesuatu yang mau gue certain ke loe, tentang
apa yang gue alamin semalam.” Kata Rina, lalu menceritakan soal percakapannya
dengan wanita misterius bernama Frida itu.
“Gue rasa loe benar, masa ada Nenek-nenek jam segini
di hutan?. Mau ngapain coba?.” Ujar Aldi.
“Lho, kemana Nenek itu?. Cepat sekali ngilangnya,
aneh!.” Rina penasaran ketika Nenek itu tak ada di sana.
Sebenarnya ada misteri apa di hutan
misterkal ini?.
Perjalanan pun di lanjutkan, Aldi ingin buang air
kecil, ia lalu meminta Rina menunggu sebentar. Ia berpesan : “Jangan
kemana-mana Rin, gue cuma sebentar. Ingat tetap di sini, sampai gue balik.”
Rina
menunggu, namun tiba-tiba Frida menghampiri Rina. Wanita misterius itu mengajak
Rina pergi bersamanya, katanya ada yang mau ia tunjukan.
“Frida, ada apa?.” Tanya Rina melihat air mata di pipi
Frida.
“Sini Na, ikut aku sebentar saja!.”
“Tapi Aldi?. Aku harus izin dulu sama Aldi, ia pasti
marah. Katanya aku gak boleh kemana-mana sampai ia datang!.”
“Sebentar saja Na!.”
Awalnya
Rina mengelak, tapi karena iba dan Frida tak berhenti memaksa, akhirnya Rina
mengikuti wanita misterius itu, Rina pergi bersama Frida. Entah kemana Frida
membawanya.
Aldi
kembali dan ia kebingungan mencari Rina. Aldi malah bertemu dengan Rama, Pak
Kyai, dan dua orang warga desa.
“Al, Rina mana?.” Tanya Rama.
“Gue juga lagi nyariin dia.” Jawab Aldi.
“Loe gila yach?. Loe gimana sich?.” Umpat Rama.
“Tadi gue tinggalin bentar, tapi..”
“Kenapa loe tinggalin, sialan loe!.”
“Sudah hentikan. Kita harus menyelesaikan masalah
dengan kepala dingin, berantem sesungguhnya hanya menambah masalah!.” Lerai Pak
Kyai yang melihat Aldi dan Rama mulai saling tonjok.
“Begini Nak Aldi, tadi Nak Rama, Fara dan Yuni ke
desa. Lalu kami segera ke sini. Warga menganggap hutan ini hutan terlarang
karena suatu tragedi. Tapi Nak Fara dan Yuni sedang di rawat di puskesmas, mereka
terserang malaria. Sekarang lebih baik kita cari Nak Rina bersama-sama.” Lanjut
Pak Kyai.
“Awas yach, kalau terjadi sesuatu sama Rina, gue
habisin loe!.” Ancam Rama pada Aldi yang memilih untuk diam.
“Sudah, lebih baik kita cari Rina sama-sama!.”
“Akh…
ah…..” jerit Rina.
“Itu suara Rina, sepertinya dari sana!.” Seru Rama.
Mereka
pun menghampiri arah suara itu.
“Rina?.” Ucap Rama melihat keadaan Rina yang histeris.
“Ada apa sayang?.” Tanya Aldi tak kalah paniknya.
“Itu..” Rina menunjuk ke arah jurang.
Semua
menegok ke dalam jurang.
“Astagfirullah, itu ‘kan mayatnya si Frida!.” Seru
seorang warga desa.
“Pak Kyai, sebenarnya ada misteri apa di hutan
misterkal ini?.” Tanya Rama di antara kekakuannya.
“Sebenarnya…”
Kurang
lebih 4 tahun lalu, seorang Nenek bersama cucunya tinggal di Hutan ini. Nenek
itu biasa di sapa Nek Asih, dan cucunya yang cantik itu bernama Sitti Sulastry.
Mereka hidup bahagia.
Kebahagiaan
mereka memudar ketika Sitti jatuh cinta kepada seorang pemuda kota bernama
Andi. Ia anak seorang pengusaha kaya yang berlibur ke desa ini.
Sebenarnya
Andi juga mencintai Sitti, tetapi Nek Asih menentang hubungan mereka karena
status social. Namun Andi dan Sitti tetap kokoh mempertahankan hubungan mereka.
Hingga
ketika perdebatan itu terjadi, tanpa sengaja Nek Asih jatuh ke jurang, ia pun
meninggal dunia. Setelah pemakaman
berlangsung, Andi membawa Sitti ke kota, mereka lalu menikah dan tak pernah
kembali ke desa ini.
Beberapa
tahun kemudian setelah meninggalnya Nek Asih, Frida dan kawan-kawannya, Ayu,
Nani, Sara dan Ami mencari kayu bakar di hutan ini. Ketika mereka kembali ke
desa, Frida tak ada. Mereka tidak tau kemana perginya Frida, kecuali Ami.
Karena sejak itu Ami
sering histeris. Menurut pengakuannya, Ia melihat Frida di seret Nek Asih dan
di lempar ke jurang. Tak ada yang percaya, mereka tau bahwa Nek Asih telah lama
meninggal, mereka lalu menganggap Ami gila. Ami pun di pasung di sebuah ruangan
karena ia sering berbuat gaduh, namun ia tetap di beri makan dan di pantau,
hanya saja warga enggan melepaskannya karena takut ia kembali kacau. Warga
mencari Frida tapi tak pernah menemukannya.
Memang secara fisik
Frida sangat mirip dengan Sitti, entahlah.
“Lalu apa kabarnya Andi
dan Sitti sekarang?.” Tanya Aldi.
“Entahlah, tak ada yang
tau. Tapi percaya atau tidak, wajah Den Aldi ini sangat mirip dengan wajah Den
Andi.” Kata seorang warga desa.
Jenazah Frida lalu di
makamkan oleh penduduk setempat. Setelah pemakaman barulah 5 sekawan itu pulang
ke kota.
Dalam perjalanan, semua
yang mereka alami terhanyut dalam fikiran masing-masing. Tentang bagaimana
mungkin jenazah Frida yang telah meninggal bertahun-tahun lamanya bisa tetap
utuh hingga tadi di kebumikan. Tentang keramahan penduduk desa dan misteri
dalam hutan misterkal itu?.
Akhirnya, mereka
memahami bahwa sesuatu yang berat itu jika di lewati bersama akan sangat mudah
karena “Persahabatan itu segalanya.”
Bagaimanakah dengan
kelanjutan cinta segitiga antara Rama, Rina dan Aldi?. Siapakah yang akan Rina
pilih?. Bagaimanakah Yuni dan Fara menyikapi hal ini?. Lalu soal Ami, gadis
yang di pasung itu, gadis yang gila dan histeris sejak tragedi kematian Frida,
sahabatnya?. Sebenarnya bagaimana kronologi kecelakaan maut yang merenggut
nyawa Nek Asih itu?. Apakah kehidupan Andi dan Sitti bahagia?. Apakah Sitti tak
merasa sesuatu yang mengganjal ketika semua hal itu terjadi?. Mengapa Sitti tak
pernah pulang, apakah ia tak rindu pada kampung halamannya?. Bisakah 5 sekawan
(Fara, Aldi, Rina, Rama dan Yuni) memecahkan misteri ini?. Sesungguhnya ada
misteri apa di hutan misterkal?.
Nantikan kelanjutannya
di “Misteri Hutan Misterkal” episode
II.