Kamis, 19 Februari 2015

Saat Bersamamu - Sorry I Love You



Seberapa besar ukuran cinta?
Sebesar perjuangan mempertahankannya.
Seberapa tulus rasa cinta itu?
Seikhlas menerima kekurangan dan melengkapinya.
Aku tau sajak tentang notasi kupu-kupu bersayap biru itu berkesan.
Tapi bagiku, kamu adalah yang paling berkesan.
Sangat berkesan dalam hidupku.
Banyak kenangan indah yang kita lewati bersama.
Mungkin kalau semuanya di tulis dengan detail, akan lebih panjang dari sebuah tertalogi.
Tapi aku telah berikrar, bahwa suatu saat nanti aku akan benar-benar menulis tentang kamu.
Aku bahagia kamu menjadi bagian dari hidupku.
Dan aku menjadi bagian dari hidupmu.
Akan ku buat semua orang iri dengan kisah cintaku.
Dan akan ku pastikan mereka terinspirasi dengan hubungan kita.
Meski bukan sebuah hubungan yang mewah.
Tapi hubungan ini special.
Dalam kesederhanaan kita berkomitmen.
Aku ingin bersamamu melukis hari dengan indah dan membuat segalanya menjadi berkesan.
Sayang, semua tulisanku itu tentang kamu, tentang kita.
Ingatkan waktu kita duduk berdua memandang lautan, itu adalah saat dimana aku merasa paling tenang.
Ingatkan waktu kita hujan-hujanan berdua, itu adalah saat dimana aku merasa paling bahagia.
Ingatkan waktu……………………………………

“Tuhan, aku berdoa untuk seseorang yang akan menjadi bagian dari hidupku. Seseorang yang tidak hanya mencintaiku, tetapi juga menghormatiku. Seseorang yang mencintaiku bukan karena bentuk fisikku tetapi karena hatiku. Dan bilamana akhirnya kami akan berjodoh maka inilah ucapan syukur kami, betapa maha besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku seseorang yang membuat hidupku menjadi sempurna.”

Aku melewati banyak hal denganmu, ketika pertengkaran menguji cinta kita di luar egois dan emosi. Ketika kita tertawa bersama, menangis bersama.
Aku menikmati setiap detik yang ku lewati denganmu.
Aku sangat bangga menjadi pendampingmu.
Sayang, mungkin aku terlahir di dunia ini untuk mencintaimu dan kamu terlahir untuk aku cintai.
Sorry, I love you.

Misteri Hutan Misterkal Episode 1



Hari libur adalah hari yang paling di nantikan oleh para siswa dan siswi di seluruh penjuru dunia. Hm, bebas sejenak dari rutinitas belajar yang menjemukan. Pasti segudang acara menanti waktu libur tersebut. Tak heran, jika momentum libur lebih menggairahkan daripada waktu bergulat dengan pelajaran dan prestasi.
          Begitu juga dengan 5 pelajar SMU Harapan Bangsa ini. Mereka : Faradiba Putri alias Fara, Aldiansyah Hermawan alias Aldi, Marina Julianthy alias Rina, Ramadhan Saputra alias Rama, dan Yunita Fitriani alias Yuni. Mereka di kenal sebagai 5 sekawan.
          Fara CS ini telah meraih kepopularitasan di Sekolahnya. Bukan karena power orang tua mereka, tapi karena bakat dan kepribadian mereka. Fara CS sangat aktif dalam pelajaran maupun dalam kegiatan ekstrakulikuler atau excul. Fara CS adalah pendiri Organisasi Pecinta Alam (PAPALA) di SMU Harapan Bangsa ini. Tak hanya itu, organisasi-organisasi besar lainnya di SMU Harapan Bangsa juga dalam kendali mereka, yaitu Organisasi PMR (Palang Merah Remaja), Organisasi KBS (Kegiatan Bakti Sosial), PRAMUKA, dan Organisasi Kespro juga di dalam kendali mereka. Selain itu, mereka punya jabatan di OSIS juga lho. Pokoknya it’s The Best. Mereka adalah idolanya SMU Harapan Bangsa.
          Okey, pengenalan lebih lanjut tentang kepopularitasan mereka di SMU Harapan Bangsa.
          Dalam OSIS, Aldi menjabat sebagai ketua, Rina wakil I dan Rama wakil II. Fara menjabat sekertaris umum, dan Yuni menjabat bendahara umum. Kekompakan mereka membuat kinerja OSIS mendapat banyak jempol. Keren!.
          Mereka berlima adalah pendiri PAPALA, tapi karena memiliki jabatan di Organisasi lain, maka Aldiansyah Hermawan yang mengkoordinir organisasi ini, ia menjabat sebagai Ketua Papala. Di PMR, Rama menjabat sebagai Ketua. Dan di KBS, Rina menjabat sebagai Ketua. Di Pramuka, Yuni menjabat sebagai Ketua. Juga di Kespro, Fara menjabat sebagai Ketua. Hebat!.


          Hari itu, seusai penerimaan rapor, mereka berkumpul di rumah Yuni. Ada 2 agenda, yang pertama adalah untuk merayakan kemenangan mereka, bagaimana tidak, 5 sekawan ini, menduduki posisi 5 besar. Maklumlah, mereka sekelas, Bintang Kelasnya Aldi, di susul Rina di posisi juara II, Rama juara III, mengikuti Fara peringkat IV dan berikutnya ada Yuni dengan peringkat V. Mengagumkan!.
          Yang kedua, mereka akan membahas rencana liburan semester kali ini. Maklumlah, kekompakan mereka ternyata adalah buah dari kebersamaan mereka sejak kecil.
          Dan sambil ngemil di depan TV, musyawarah pun di adakan.
          “Gimana kalau kita liburan di Pulau Kuta, Bali?.” Usul Rina.
“Atau ke Kolam Pemancingan saja?. Hemat tau!.” Tambah Rama.
“Akh, bukan hemat tuch, emang dasar pelit loe!.” Cetus Fara.
“Mendingan kita ke Mall, shooping. Terus di lanjutin ke salon meni-pedi, lalu eksen dech di fotobox. Terus kita main di Fun Station sambil ngemil, nonton ke bioskop dengan baju baru, sepatu baru, gaya...” Comel Yuni.
“Sudah diam!. Akh, ngaco loe. Gak ada usul lain yach, atau loe sudah geger otak, Yun?.” Hura Fara.
“Iya nie, ada-ada saja!.” Tambah Rina sambil terus makan kue coklatnya.
“Emang stres tuch si Yuni!.” Ketus Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari TV.
“Yee, siapa tau kalau gue cantik dan feminin gitu, si Rendi bakalan naksir sama gue. Uh, pastinya nie semua cewek-cewek di SMU Harapan Bangsa pada ngiri sama gue. Kapan yach Rendi mau jadi pacar gue?. Ohw Rendi, loe itu makhluk Tuhan yang paling cakep dech. Gue...” curhat Yuni.
“Akh, berisik loe!. Lebay banget, memangnya si Rendi mau sama loe?.” Ledek Aldi sambil melempari Yuni dengan snack.
“Benar tuch Al, kepedean banget dia!. Yang ada tuch, Rendi maunya sama gue, bukan sama loe!.” Tambah Fara.
“Akh, loe berdua sama saja!.” Comen Rama.
“Loe cemburu yach Ram?.” Goda Fara dan Yuni.
“What?. Cemburu?. Loe gila yach, ngapain gue cemburu sama tuch kutu kupret?. Yang ada gue itu lebih beken dari dia. Gue lebih cakep, tau!. Buktinya si cewek jutek saja bisa kepincut sama pesona dan kegantengan gue!.” Kata Rama sambil melirik ke arah Rina.
“Enak saja loe ngatain gue jutek!. Ye, amit-amit, 7 turunan juga kage mau gue kepincut sama loe!. Kepedean!.” Bela Rina.
“Sudah akh, mending kita berpetualang saja. Jangan cari hiburan terus dong, bosan tau!.” Usul Fara.
“Wah, tumben loe gak telmi?. Pasti semalam loe salah minum obat sampai bisa encer tuch otak!.” Canda Aldi.
“What?. Berpetualang?. Ogah, gue gak setuju!. Ntar kalau kita tersesat gimana?. Kalau ada ular, macan, harimau,.....” comel Yuni.
“Akh, bawel loe!. Kayaknya idenya Fara bagus juga, gue setuju!.” Ucap Rama sambil menatap Yuni yang kesal karena di bilang bawel.
“Hm, gue sich setuju-setuju saja. Tapi berpetualangnya kemana?.” Tanya Rina seraya meneguk habis syrup leci kesukaannya.
“Ke Negeri Dongeng!.” Cetus Yuni.
“Dasar juara ngarang loe!. Yang betul aja dech!.” Umpat Aldi.
“Hm, kita kemah saja. Tapi lokasinya?.” Tanya Rama lagi.
“Di Pedesaan saja, gimana?.” Usul Yuni.
“Tumben, usul loe masuk akal. Tapi, gak salah yach?. Di desa ‘kan gak ada Mall, gak ada salon, gak bisa shooping?.” Ledek Rina.
“Benar tuch, loe ‘kan ribet?.” Tambah Fara.
“Akh, sialan loe berdua!.” Umpat Yuni.
          Setelah lama berunding, mereka memutuskan untuk berkemah di Desa Sukamaju, ada sebuah Hutan yang menjadi objek wisata mereka tahun ini. Biasa lokasi tersebut adalah hasil vooting dari beberapa tempat wisata yang mereka cari lewat internet!.

          Esok harinya, 5 sekawan ini berkumpul di stasiun kereta api.
“Yun, loe yang jadi penunjuk jalannya, pemandu gitu!.” Kata Aldi.
“What?. Kok gue?. Gue kage bisa!. Gue kage pernah ke sana!.” Sanggah Yuni.
“Gimana sich?. ‘Kan loe yang ngusul?. ” Fara bingung.
“Kalian tuch emang bikin acara gak pernah sempurna!. Huh, payah!.” Comen Rina sambil ngemil ‘cadbury’nya.
“Yun, kalau loe gak pernah ke sana, kenapa loe ngusulin ide gila itu?. Brabe ‘kan jadinya!.” Ketus Rama.
“Tenang, sebenarnya gue tau tempat itu dari kakak gue, katanya dulu itu markas persembunyian dari tentara belanda waktu zaman perang!. Nah, biar tambah seru, gue suruh kakak gue buatin peta nie!.” Jelas Yuni.
“Muke gile, loe!.” Umpat Fara.
“Seru apaan kayak gini?. Main peta-petaan bikin susah saja, dasar gj loe!.” Rina mulai boring dan ngambek.
“Ini bukan main peta-petaan Rin, ini peta beneran!.” Bantah Yuni.
“Kampret!.”
          Walaupun terkesan sombong, karena memang Rina anak orang kaya, ia baik kok. Rina adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, makanya ia manja, cengeng dan suka ngambek. Rina tipikel cewek tomboy yang jutek parah, padahal secara fisik, ia cewek idaman lho!.


          “Gue ngerti, dari stasiun rakyat, kereta akan mengantar kita menuju stasiun bersama, kita lalu naik bus menuju desa harahap. Lalu kita naik ojek menuju desa sukamaju  I, lalu naik delman menuju desa sukamaju II, karena tak ada kendaraan menuju desa sukamaju II. Darisana kita akan naik perahu menuju sungai kecil jenajah, barulah jalan kaki masuk hutan.” Jelas Aldi setelah mempelajari peta abal-abalnya Yuni.
“Buset dah!.” Ketus Rama dan Rina berbarengan.
“Yuni, I don’t like that!.” Jerit Fara.
“Hehe..” Yuni tak kaget lagi karena sebelumnya sang kakak sudah menjelaskannya.
“Udahlah, jangan banyak ngeluh, itu tantangan!.” Kata Aldi bersemangat.
          Ya, Aldi memang selalu semangat. Menjadi anak tunggal dan kebanggaan ayahnya. Ibunya selalu mendidiknya menjadi seseorang berwatak halus dan ceria juga penuh semangat. Dan ayahnya yang tempramen, mendidiknya keras, tegas, agar punya jiwa pemimpin. Aldi memang mewarisi watak tempramen sang ayah, tapi tak berarti ia kasar, ia masih mampu mengontrol diri.
          Berbeda dengan Yuni. Selama di perjalanan, Yuni adalah yang paling banyak mengeluh. Maklumlah anak bungsu yang apapun keinginannya harus di turuti.
          Sedangkan yang lainnya adalah pemilik jiwa cinta alam yang pantang mengeluh. 5 sekawan ini, adalah anak-anak dari orang terpandang yang kelas ekonominya di atas rata-rata, namun tidak menjadikan mereka sombong.
          Baik Aldi, Rina, Rama, Fara, maupun Yuni, memiliki kepribadian yang baik, berjiwa sosial dan selalu bisa beradaptasi.


          Sampai juga, walau lelah namun mereka menikmatinya. Fara melangkahkan kaki dengan gagah berani memasuki kawasan hutan, bak prajurit menang perang!. Fara walaupun anak orang kaya, dia tidak manja. Menjadi anak ketiga dari empat bersaudara, membuatnya terkadang susah di atur, tapi ia tetap pecinta alam.
          “Stop!. Gue nyium bau gak enak!.” Kata Rina penuh selidik.
“Bau apaan?.” Rama penasaran.
“Bau darah!.” Ketus Rina.
“Akh, ada-ada saja loe!.” Respon Aldi malas, ia tidak tertarik dengan sesuatu yang di anggapnya lelucon Rina.
“Aaakh.. ah..” Jerit Fara tiba-tiba.
“Loe kenapa?.” Tanya Yuni.
“I… itu…!.” Seru Fara sembari menunjuk sebuah kata yang tertulis di tanah. “HENTIKAN” tertulis oleh tinta berwarna merah pekat seperti darah.
          Aldi, Rina dan Rama menghampiri Fara dan Yuni. Kelima sekawan itu memperhatikan dengan seksama, mereka tercegang!. Apa maksud semua ini?. Tanya mereka dalam hati.
          Rina memeluk Aldi ketakutan, Yuni menenangkan Fara, sedangkan Rama bengong!.
“Kita sudahin saja ya petualangannya, ayo kita pulang?. Kasihan Fara!.” Ucap Yuni lirih memecahkan kebisuan yang tercipta sejak tadi.
“Gak!. Gue bakalan cari tau, siapa yang berani mempermainkan kita!. Mustahil!. Setan itu gak ada, gue gak percaya!. Dan kalau kalian gak ada yang mau, gue akan cari tau sendiri!. Kalau kalian mau pulang silahkan, tapi gue tetap di sini!.” Ketus Rina penuh emosi.
“Jangan!. Gue tuch sayang banget sama loe Rin!. Gue cinta sama loe!. Gue gak mau terjadi sesuatu sama loe!. Please, tolong ngertiin perasaan gue, karena gue gak mau kehilangan loe lagi.” Tanpa sadar, Rama mengucapkan semua rasa yang di pendamnya selama ini pada Rina.
Rina pun jatuh dan berdiri dengan lutut di tanah, tapi tangan Aldi masih memeluknya, dan sedikit dapat menenangkan hati gadis itu. Rama hanya diam terpaku. Sedangkan Yuni sibuk membujuk Fara yang merengek minta pulang.
Aldi lalu berbicara dengan Rina sebentar, Rama hanya menyaksikan semuanya dalam bingung, ia tak berdaya, tak bisa mengambil keputusan, ia memandangi Yuni dan Fara yang juga sama tak berdayanya.
“Okey, kita akan lanjutin petualangan ini!. Kita akan cari tau siapa dalang dari semua ini, tapi dengan siasat!.” Putus Aldi.
“Maksud loe?.” Tanya Yuni pasrah.
“Dengarin gue?. Gue sama Rina akan masuk ke sana!. Loe Yun, Loe Ram dan loe Far, diriin kemah di sini dan berjaga. Kita akan berkomunikasi lewat satelit!.” Jelas Aldi yang memang selalu bisa di andalkan, apalagi dalam kondisi seperti ini, idenya mengalir dengan cepat dan tepat.
“Iya!.” Jawab mereka serempak dan rencana pun di jalankan.


Aldi dan Rina pun berjalan semakin jauh ke dalam hutan.
“Di sini saja yach diriin kemahnya?.” Pinta Rina kelelahan.
“Iya sayang, loe pasti cape’!.” Jawab Aldi perhatian.


Sementara itu di tempat yang berbeda.
“Far, mending loe istirahat di dalam kemah geh!.” Saran Yuni khawatir pada kondisi Fara yang makin memburuk.
“Iya, loe bantuin Rama buat api unggun sana!.” Kata Fara.
“Ya wes, baik-baik ya!. Cepat sembuh!.” Ucap Yuni.
          Kehidupan Fara, Rama dan Yuni di luar hutan baik-baik saja. Berbeda dengan Aldi dan Rina, mereka mengalami kejadian aneh di hutan. Ada misteri apa di hutan misterkal?.
          Malam itu seusai membuat api unggun, Aldi dan Rina duduk bersama.
“Sayang, gue rasa gak ada yang perlu kita hubungi saat ini?.” Tanya Aldi yang melihat Rina sibuk mengutak-atik satelitnya.
“Ada tau, Rama!.” Jawab Rina ketus.
“Sayang, kita ’kan baik-baik saja?.” Aldi bingung.
“Tapi sayang, kita ‘kan gak tau, apa mereka baik-baik saja?.” Jelas Rina sambil tersenyum.
“Hm, sini gue bantuin?.” Jawab Aldi sambil memegang tangan Rina, berniat mengambil satelit dan memperbaikinya.
          Aldi dan Rina tersenyum, membiarkan nurani mereka berbicara. Sudah lama Aldi memendam perasaan cinta pada Rina, meski ia tau kalau Rama juga mencintai Rina. Sedangkan Rina, entahlah, gadis itu bingung pada perasaannya sendiri.
          “Satelit 001, di sini 002!.” Seru Aldi.
“Ya, 001 stand by, ada apa Al?.” tanya Rama.
”Loe semua baik-baik saja ‘kan?.” Aldi balik bertanya.
“Iya, loe juga ‘kan?.”
“Iya.”
“Al, gue mohon sama loe, jagain Rina buat gue?.” Pinta Rama.
“Ya.” Jawab Aldi berat.
“Thanks, you are is the best, I know you good!.”
          Batin Aldi terluka. Apakah gue bakalan sanggup ngeliat sahabat gue bahagia dengan wanita yang paling gue cintai?. Apakah gue bisa ikhlas ngelepas Rina buat Rama, sedangkan Rina adalah sesuatu yang sangat gue butuhkan dalam hidup gue?. Ya Allah, berilah petunjuk-Mu atas kebimbangan hati ini. Gue harus bisa bijak, gue harus bijak!.
“Woi, ngelamun saja!.” Sapa Rina membuyarkan lamunan Aldi.
“Akh sayang, loe bikin gue kaget saja!. Ntar kalau gue jantungan gimana?.” Kata Aldi.
“Gimana Rama?.” Tanya Rina.
“Rama Cs itu baik-baik saja sayang.” Jawab Aldi.
“Loe ngelamun apaan tadi?.” Tanya Rina lagi.
“Akh, gak kok!. Udah yuk, istirahat, besok ‘kan kita harus melanjutkan perjalanan lagi.” Jelas Aldi, dalam hatinya : Rin, andaikan loe tau, gimana rasa gue ke loe, mungkinkah loe jadi milik gue?.


          Aldi terbangun di malam hari karena rasa ingin buang air kecil, ia pun meninggalkan kemah. Selang beberapa lama, Rina terbangun oleh suara berisik di luar kemah.
“Al, itu loe?. Ngapain sich berisik malam-malam gini?.” Keluh Rina.
“Al, udah dong becandanya, gak lucu tau!.” Rina mulai sebel.
“Al, loe fikir enak yach di kerjain jam segini?. Sialan loe!.” Umpat Rina sambil berjalan keluar kemah karena kegaduhan.
“Na, sini Na. Aku di sini, ayo Na?.” terdengar seperti suara Aldi memanggilnya.
          Rina bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan Aldi memanggilnya ‘Na’, biasanya Aldi memanggil dengan nama ‘Rin’?. Hm, dan sejak kapan Aldi menyebut dirinya ‘aku’, biasanya juga ‘gue’.
“Al, loe dimana sich?.” Tanya Rina yang tanpa sadar sudah berjalan semakin jauh ke dalam hutan.
“Hey!.” Seru seorang wanita berpakaian serba putih dengan rambut panjang acak-acakan. Rina kaget setengah mati.
“Hentikan rasa penasaranmu itu, hentikan semuanya!. Kamu dan teman-temanmu ada dalam lingkaran maut, aku peringatkan kamu untuk waspada terhadap sesuatu yang aneh. Karena hanya itu kata kunci agar kalian dapat selamat. Paham!.” Lanjut wanita misterius itu.
“Loe itu siapa?. Apa loe warga sini?. Kalau ya, apa yang loe lakukan malam-malam begini di hutan?. Apa hak loe ngelarang gue dan teman-teman gue, siapa loe?.” Tanya Rina di sela ketakutannya.
“Jangan banyak tanya, diam!.” Bentak wanita itu.
“Tadi loe nasehatin gue, lantas gue harus manggil loe siapa?.”
“Aku Frida, mudah-mudahan kita bisa jadi teman!.” Kata wanita itu sembari menghilang.
          Dalam ketakutannya Rina mencoba mengingat jalan kembali ke kemah. Rina membatin : Biasanya Aldi manggil gue ‘Rin’ bukan ‘ Na’. Dan Aldi juga selalu ngomong ‘gue’ bukan ‘aku’, itu ‘kan jelas-jelas aneh?. Tadi kata wanita itu, entah siapa namanya, Frida atau Frita, atau apalah, yang jelas ia bilang mewaspadai sesuatu yang aneh itu adalah kata kunci untuk bisa selamat. Betapa aura kegelapan dalam hutan ini begitu terasa. Aku bisa merasakan getaran itu, astagfirullah.
          Rina kembali ke kemah, sedaritadi Aldi telah mondar-mandir mencari dirinya.
“Rin, loe darimana?. Gue tuch khawatir, loe baik-baik saja ‘kan?.”
“Harusnya tuch gue yang nanya, loe darimana?. Gue tuch nyariin loe, gue fikir loe ke tempatnya Rama, ninggalin gue.” Ketus Rina.
“Gaklah, gue tuch gak setega itu sama loe!. Udah yuk, istirahat sayang!.”
          Rina memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang di alaminya pada Aldi. Karena ia tau sosok Aldi, pasti Aldi tidak percaya dan menganggapnya hanya berhalusinasi dalam ketakutannya sendiri. Atau bisa saja Aldi lalu memerintahkan untuk bubar dan pulang. Entahlah, gadis cantik ini membiarkan apa yang di alaminya tadi menari-nari dalam fikirannya hingga ngantuk mengantarnya pada tidur yang tak lelap dalam ketegangan yang pekat.


          Pagi pun tiba, keindahan pagi buta dalam hutan misterkal begitu luar biasa. Betapa kabut dengan anggunnya menebar pesona sensual yang membuat semua mata terpaku memandang kekokohannya. Keasrian yang bercampur aroma hutan dan di kombinasikan orkesta serangga begitu mengesankan.
“Al, bangun, molor saja loe!.”
“Ih, gue masih ngantuk!. Bawel banget sich loe!.”
“Buruan, kita harus jalan lagi!.”
“Duch Rin, udah dech, jalan kok tanpa tujuan?.”
“Diam, kalau gak suka sana ke tempat Rama!. Gue juga bisa jalan sendiri, gue gak butuh loe!.”
“Huh, gitu saja ngambek, becanda sayang. Nie cewek sedaritadi pagi sampai sekarang marah-marah mulu!.”
“Apa loe bilang?.”
“Hm, gue bilang loe cantik, Rin!.”
“Bohong!.”
“Gue gak bohong, loe memang cantik, walaupun cerewet!.”
“Dasar loe..”
          Mereka pun melanjutkan perjalanan, ketika melewati jurang tiba-tiba terjadi sesuatu.
“Lihat Rin, Nenek itu, ia hampir masuk jurang. Loe tunggu sini, biar gue tolongin!.”
          Aldi lalu menghampiri Nenek itu, ketika tangannya hampir menyentuh tangan si Nenek…
“Jangan!.” Jerit Rina yang berdiri di belakang si Nenek sambil menggelengkan kepalanya.
“Balik Al, jangan di tolong. Ini hutan, loe jangan ceroboh!.” Lanjut Rina, Aldi pun menghampiri Rina.
“Al, ada sesuatu yang mau gue certain ke loe, tentang apa yang gue alamin semalam.” Kata Rina, lalu menceritakan soal percakapannya dengan wanita misterius bernama Frida itu.
“Gue rasa loe benar, masa ada Nenek-nenek jam segini di hutan?. Mau ngapain coba?.” Ujar Aldi.
“Lho, kemana Nenek itu?. Cepat sekali ngilangnya, aneh!.” Rina penasaran ketika Nenek itu tak ada di sana.
          Sebenarnya ada misteri apa di hutan misterkal ini?.
Perjalanan pun di lanjutkan, Aldi ingin buang air kecil, ia lalu meminta Rina menunggu sebentar. Ia berpesan : “Jangan kemana-mana Rin, gue cuma sebentar. Ingat tetap di sini, sampai gue balik.”
          Rina menunggu, namun tiba-tiba Frida menghampiri Rina. Wanita misterius itu mengajak Rina pergi bersamanya, katanya ada yang mau ia tunjukan.
“Frida, ada apa?.” Tanya Rina melihat air mata di pipi Frida.
“Sini Na, ikut aku sebentar saja!.”
“Tapi Aldi?. Aku harus izin dulu sama Aldi, ia pasti marah. Katanya aku gak boleh kemana-mana sampai ia datang!.”
“Sebentar saja Na!.”
          Awalnya Rina mengelak, tapi karena iba dan Frida tak berhenti memaksa, akhirnya Rina mengikuti wanita misterius itu, Rina pergi bersama Frida. Entah kemana Frida membawanya.


          Aldi kembali dan ia kebingungan mencari Rina. Aldi malah bertemu dengan Rama, Pak Kyai, dan dua orang warga desa.
“Al, Rina mana?.” Tanya Rama.
“Gue juga lagi nyariin dia.” Jawab Aldi.
“Loe gila yach?. Loe gimana sich?.” Umpat Rama.
“Tadi gue tinggalin bentar, tapi..”
“Kenapa loe tinggalin, sialan loe!.”
“Sudah hentikan. Kita harus menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, berantem sesungguhnya hanya menambah masalah!.” Lerai Pak Kyai yang melihat Aldi dan Rama mulai saling tonjok.
“Begini Nak Aldi, tadi Nak Rama, Fara dan Yuni ke desa. Lalu kami segera ke sini. Warga menganggap hutan ini hutan terlarang karena suatu tragedi. Tapi Nak Fara dan Yuni sedang di rawat di puskesmas, mereka terserang malaria. Sekarang lebih baik kita cari Nak Rina bersama-sama.” Lanjut Pak Kyai.
“Awas yach, kalau terjadi sesuatu sama Rina, gue habisin loe!.” Ancam Rama pada Aldi yang memilih untuk diam.
“Sudah, lebih baik kita cari Rina sama-sama!.”


          “Akh… ah…..” jerit Rina.
“Itu suara Rina, sepertinya dari sana!.” Seru Rama.
          Mereka pun menghampiri arah suara itu.
“Rina?.” Ucap Rama melihat keadaan Rina yang histeris.
“Ada apa sayang?.” Tanya Aldi tak kalah paniknya.
“Itu..” Rina menunjuk ke arah jurang.
          Semua menegok ke dalam jurang.
“Astagfirullah, itu ‘kan mayatnya si Frida!.” Seru seorang warga desa.
“Pak Kyai, sebenarnya ada misteri apa di hutan misterkal ini?.” Tanya Rama di antara kekakuannya.
“Sebenarnya…”


          Kurang lebih 4 tahun lalu, seorang Nenek bersama cucunya tinggal di Hutan ini. Nenek itu biasa di sapa Nek Asih, dan cucunya yang cantik itu bernama Sitti Sulastry. Mereka hidup bahagia.
          Kebahagiaan mereka memudar ketika Sitti jatuh cinta kepada seorang pemuda kota bernama Andi. Ia anak seorang pengusaha kaya yang berlibur ke desa ini.
          Sebenarnya Andi juga mencintai Sitti, tetapi Nek Asih menentang hubungan mereka karena status social. Namun Andi dan Sitti tetap kokoh mempertahankan hubungan mereka.
          Hingga ketika perdebatan itu terjadi, tanpa sengaja Nek Asih jatuh ke jurang, ia pun meninggal dunia.  Setelah pemakaman berlangsung, Andi membawa Sitti ke kota, mereka lalu menikah dan tak pernah kembali ke desa ini.
          Beberapa tahun kemudian setelah meninggalnya Nek Asih, Frida dan kawan-kawannya, Ayu, Nani, Sara dan Ami mencari kayu bakar di hutan ini. Ketika mereka kembali ke desa, Frida tak ada. Mereka tidak tau kemana perginya Frida, kecuali Ami.
Karena sejak itu Ami sering histeris. Menurut pengakuannya, Ia melihat Frida di seret Nek Asih dan di lempar ke jurang. Tak ada yang percaya, mereka tau bahwa Nek Asih telah lama meninggal, mereka lalu menganggap Ami gila. Ami pun di pasung di sebuah ruangan karena ia sering berbuat gaduh, namun ia tetap di beri makan dan di pantau, hanya saja warga enggan melepaskannya karena takut ia kembali kacau. Warga mencari Frida tapi tak pernah menemukannya.
Memang secara fisik Frida sangat mirip dengan Sitti, entahlah.
“Lalu apa kabarnya Andi dan Sitti sekarang?.” Tanya Aldi.
“Entahlah, tak ada yang tau. Tapi percaya atau tidak, wajah Den Aldi ini sangat mirip dengan wajah Den Andi.” Kata seorang warga desa.


Jenazah Frida lalu di makamkan oleh penduduk setempat. Setelah pemakaman barulah 5 sekawan itu pulang ke kota.
Dalam perjalanan, semua yang mereka alami terhanyut dalam fikiran masing-masing. Tentang bagaimana mungkin jenazah Frida yang telah meninggal bertahun-tahun lamanya bisa tetap utuh hingga tadi di kebumikan. Tentang keramahan penduduk desa dan misteri dalam hutan misterkal itu?.
Akhirnya, mereka memahami bahwa sesuatu yang berat itu jika di lewati bersama akan sangat mudah karena “Persahabatan itu segalanya.”


Bagaimanakah dengan kelanjutan cinta segitiga antara Rama, Rina dan Aldi?. Siapakah yang akan Rina pilih?. Bagaimanakah Yuni dan Fara menyikapi hal ini?. Lalu soal Ami, gadis yang di pasung itu, gadis yang gila dan histeris sejak tragedi kematian Frida, sahabatnya?. Sebenarnya bagaimana kronologi kecelakaan maut yang merenggut nyawa Nek Asih itu?. Apakah kehidupan Andi dan Sitti bahagia?. Apakah Sitti tak merasa sesuatu yang mengganjal ketika semua hal itu terjadi?. Mengapa Sitti tak pernah pulang, apakah ia tak rindu pada kampung halamannya?. Bisakah 5 sekawan (Fara, Aldi, Rina, Rama dan Yuni) memecahkan misteri ini?. Sesungguhnya ada misteri apa di hutan misterkal?.
Nantikan kelanjutannya di “Misteri Hutan Misterkal” episode II.